Tiktok tengah mengembangkan fitur yang memungkinkan pengguna mengirim uang langsung melalui pesan pribadi atau direct message (DM). Jika jadi diluncurkan, fitur ini akan membuat pengguna dapat melakukan pembayaran tanpa harus keluar dari aplikasi.

Langkah itu menjadi bagian dari upaya TikTok memperluas ekosistem bisnis dari media sosial dan e-commerce ke layanan finansial.

Mengutip Bloomberg pada Rabu (19/8), bukti pengembangan fitur transfer uang itu ditemukan dalam kode tersembunyi pada aplikasi TikTok untuk iPhone di Amerika Serikat.

Kode itu menunjukkan bahwa penerima pembayaran nantinya dapat mengetuk opsi untuk menerima uang sebelum transaksi kedaluwarsa. Pengirim juga akan memperoleh pemberitahuan mengenai status transaksi melalui push notification atau kotak masuk pesan.

Platform media sosial milik ByteDance itu bahkan tengah menyiapkan kemampuan untuk menyertakan pesan ketika pengguna mengirim uang. Konsep ini serupa dengan fitur keterangan pada transaksi di layanan pembayaran Venmo milik PayPal.

Meski demikian, fitur itu belum diluncurkan dan belum diuji coba di pasar mana pun. Juru bicara TikTok mengatakan pengembangan fitur masih berada pada tahap awal sehingga belum ada kepastian bahwa layanan pembayaran antar pengguna tersebut akan benar-benar tersedia.

TikTok Perluas Bisnis Fintech

Fitur transfer uang melalui DM akan memperluas penggunaan TikTok Pay, layanan pembayaran yang saat ini sudah tersedia di sejumlah negara Asia Tenggara.

TikTok Pay saat ini digunakan di Vietnam, Malaysia, dan Thailand untuk memproses transaksi pembelian melalui TikTok Shop. Dengan pengembangan pembayaran antar pengguna, fungsi layanan tersebut berpotensi diperluas dari pembayaran kepada pedagang menjadi transaksi langsung antarpengguna.

TikTok selama ini telah memiliki sejumlah sumber transaksi di dalam aplikasinya. Hal ini mulai dari TikTok Shop hingga pembelian koin digital untuk memberikan hadiah kepada kreator dan pembawa acara livestream.

Bahkan, sebagian pengguna TikTok saat ini mencantumkan akun Venmo, Cash App, atau metode pembayaran lainnya di profil mereka untuk menerima pembayaran di luar platform.

Dengan menyediakan fitur transfer uang secara langsung, TikTok dapat mempertahankan aktivitas tersebut tetap berada di dalam ekosistemnya. Pengguna tidak hanya datang ke TikTok untuk menonton video, tetapi juga dapat berinteraksi, membeli barang, memberikan hadiah kepada kreator, hingga mengirim uang kepada pengguna lain dalam satu aplikasi.

Sementara itu, TikTok dan ByteDance diketahui tengah merekrut tenaga kerja di Amerika Serikat maupun sejumlah negara lain untuk posisi yang berkaitan dengan produk layanan keuangan. Sejumlah eksekutif ByteDance yang terlibat dalam pengembangan layanan pembayaran juga diketahui memiliki pengalaman bekerja di JPMorgan Chase.

Ekspansi ke layanan keuangan dilakukan ketika nilai transaksi yang terjadi di ekosistem TikTok terus membesar.

Menurut Sensor Tower, konsumen di seluruh dunia telah membelanjakan lebih dari US$ 2,9 miliar atau Rp 51,78 triliun di TikTok sepanjang tahun ini. TikTok bahkan tercatat sebagai aplikasi dengan pendapatan dari pembelian dalam aplikasi terbesar secara global sejak 2022.

Di Amerika Serikat, pengeluaran pengguna di TikTok juga disebut lebih tinggi dibandingkan YouTube, Facebook, maupun Instagram. Besarnya aktivitas ekonomi di dalam aplikasi tersebut menjadi peluang bagi TikTok untuk memperluas bisnisnya ke layanan pembayaran.

Jika fitur transfer antar pengguna akhirnya diluncurkan, TikTok akan semakin mendekati konsep super app yang menggabungkan media sosial, perdagangan, dan layanan keuangan dalam satu platform.

Tren serupa juga tengah dilakukan oleh platform media sosial lain. Elon Musk, misalnya, mendorong X untuk berkembang menjadi everything app dengan menambahkan berbagai layanan finansial. Sejumlah pengguna dan kreator X juga telah mulai menguji fitur pembayaran melalui X Money.

Namun, ekspansi TikTok ke sektor keuangan juga menghadapi tantangan regulasi. Sejumlah fitur pembayaran TikTok sebelumnya menjadi sorotan dalam gugatan hukum di Amerika Serikat yang menuding layanan tersebut berpotensi menimbulkan eksploitasi finansial terhadap anak-anak serta persoalan terkait aturan pengiriman uang dan pencucian uang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti