Riset: Tren Pasar Smartphone Indonesia Bergeser ke Segmen Mid–High

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/rwa.
Pasar smartphone Indonesia mengalami perubahan besar sepanjang Januari–September 2025.
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Yuliawati
27/11/2025, 10.28 WIB

Pasar smartphone Indonesia mengalami perubahan besar sepanjang Januari–September 2025. Laporan terbaru NIQ menunjukkan pergeseran minat konsumen menuju perangkat kelas menengah hingga premium. Pada saat yang sama, ritel modern atau chain store semakin mengambil porsi dalam distribusi smartphone di Indonesia.

Berdasarkan data NIQ, penjualan smartphone di kelas harga Rp5 juta – Rp10 juta dan di atas Rp10 juta meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Director Tech and Durables Commercial Lead NIQ Indonesia, Bramantiyoko Sasmito, menjelaskan pergeseran ini relevan dengan kondisi pemasukan masyarakat Indonesia yang tengah melemah.

“Kondisi ini relevan dengan masuk tahun 2025, purchase income masyarakat itu lagi melemah. Sehingga make sense yang lower income, lower price premium itu terkontraksi, sedangkan yang premium masih mengalami kenaikan,” kata dia dalam Selular Telco Outlook 2026, di Jakarta Selatan, Rabu (26/11).

Pada sisi unit penjualan, porsi smartphone premium atau smartphone dengan harga di atas Rp10 juta mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya. Unit penjualan smartphone dengan harga di atas Rp 10 juta mencapai 6,7 persen, sedangkan segmen Rp5 juta – Rp10 juta mencapai 10,6 persen.

Sementara itu, perangkat berharga di bawah Rp5 juta justru menunjukkan penurunan, sejalan dengan tren melemahnya daya beli masyarakat sepanjang 2025. Bramantyo tak memerinci nilai penurunan ataupun persentasenya.

Dari sisi nilai transaksi, segmen premium juga mengalami kenaikan. Produk di atas Rp10 juta berkontribusi 31,7 persen terhadap total nilai penjualan, disusul segmen Rp5 juta – Rp10 juta yang menyumbang 20,6 persen.

Dalam survei global dan Indonesia yang dilakukan Nielsen, konsumen menyebut bahwa faktor terpenting dalam memilih smartphone bukan hanya harga, tetapi relevansi dan kualitas.

Sekitar 60 persen responden mengatakan fitur seperti waterproof dan kualitas tinggi menjadi pertimbangan utama, disusul kemudahan penggunaan serta kepercayaan terhadap master brand.

“Kondisi ekonomi yang menekan memang membuat segmen low-end terkontraksi. Namun konsumen yang punya kebutuhan lebih tinggi tetap mencari produk premium yang relevan dan berkualitas,” kata Bramantiyoko.

Perubahan besar juga terlihat dari sisi kanal penjualan. Chain store mencatat pertumbuhan paling signifikan. Pada penjualan unit, kontribusi kanal ini naik menjadi 22,6 persen, sementara dari sisi nilai penjualan meningkat hingga 40,5 persen. Kontribusi kanal online juga tumbuh menjadi sekitar 18–19 persen.

Toko independen masih menjadi kanal terbesar berdasarkan volume, tapi pangsanya terus tertekan. Ekspansi agresif chain store, yang kini hadir hampir di setiap area kota, termasuk kota tier 2 dan tier 3, menjadi faktor utama yang mempercepat pergeseran kanal penjualan ini.

Bramantiyo menjelaskan fenomena ini mirip dengan perkembangan minimarket seperti Alfamart atau Indomaret. Chain store smartphone yang semakin mudah ditemui membuat konsumen tidak perlu lagi datang ke pusat perbelanjaan besar atau toko khusus untuk membeli perangkat.

“Ketersediaan toko yang dekat membuat konsumen lebih mudah melihat produk dan langsung bertransaksi. Penetrasi toko inilah yang mendorong kontribusi channel chain terus naik,” ujar dia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina