Indonesia Susun Strategi Kuasai 5 Lapisan AI, dari Energi hingga Aplikasi
Pemerintah Indonesia menyusun strategi pengembangan kecerdasan buatan atau AI yang mencakup seluruh rantai ekosistem teknologi. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria mengatakan pemerintah menggunakan pendekatan full stack of AI untuk melihat pengembangan ekosistem AI secara menyeluruh.
“Pada ujungnya kita tidak ingin hanya menjadi user, kita ingin menjadi player yang signifikan di dalam pengembangan AI di tingkat global,” kata Nezar dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (13/8).
Menurutnya, terdapat lima lapisan utama yang menjadi perhatian pemerintah dalam membangun ekosistem AI nasional. Lapisan pertama adalah energi, kemudian infrastruktur, chip, talenta, dan terakhir aplikasi.
“Layer pertama itu energi, lalu kemudian ada infrastruktur, lalu kemudian ada chip, lalu kemudian talent, lalu baru aplikasi,” ujarnya.
Pada tahap saat ini, Indonesia masih memprioritaskan pengembangan aplikasi dengan memanfaatkan foundation model yang telah tersedia. Pemerintah kemudian mendorong proses post-training agar model tersebut dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan spesifik di berbagai sektor.
“Kita coba menggunakan foundation model yang sudah ada, kemudian dilakukan sejumlah post-training untuk memecahkan sejumlah solusi-solusi, seperti untuk kesehatan, lalu untuk pertanian, dan juga di bidang pendidikan,” katanya.
Pilihan tersebut dilakukan karena pembangunan foundation model sendiri membutuhkan investasi besar serta waktu yang panjang. Dengan memanfaatkan model yang sudah tersedia, Indonesia dapat lebih cepat mengembangkan solusi AI yang sesuai dengan kebutuhan domestik.
Namun, pemerintah menyadari strategi yang hanya berfokus pada aplikasi dapat membuat Indonesia tetap berada pada posisi sebagai pengguna teknologi. Karena itu, pemerintah tengah menyusun Peta Jalan Nasional Pengembangan AI yang mencakup seluruh lapisan ekosistem.
“Kita coba melihat full stack of AI ini lebih strategis,” ujarnya.
Salah satu modal yang ingin dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai ekosistem AI adalah kekayaan sumber daya alam, khususnya mineral kritis.
Nezar mengatakan Indonesia memiliki mineral kritis yang cukup banyak dan strategis. Sumber daya tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri yang berkaitan dengan infrastruktur dan teknologi AI.
“Kita punya critical minerals yang cukup banyak dan cukup strategis,” katanya.