Harga Saham Facebook Bikin Mark Zuckerberg Kehilangan Rp 222 Triliun

Erin Scott / ZUMA Wire / dpa
Polisi Capitol AS mengawal CEO Facebook Mark Zuckerberg (tengah) menyusuri lorong sebelum tampil di dua sidang kongres akhir pekan ini di Capitol Hill di Washington, D.C., Amerika Serikat, 09 April 2018.
Penulis: Pingit Aria
27/7/2018, 10.51 WIB

Kekayaan CEO Facebook Mark Zuckerberg susut hingga Rp 222 triliun karena harga nilai saham Facebook turun 19% pada penutupan perdagangan Kamis (26/7) kemarin. Perusahaan media sosial ini menderita penurunan harga terbesar dalam sejarah pasar saham Amerika Serikat.

Forbes melaporkan, kekayaan bos Facebook  Zuckeberg berkurang US$ 15,4 miliar atau setara Rp 222 triliun. Harta Zuckerberg kini tercatat “tinggal” US$ 67,1 miliar atau sekitar Rp 969 triliun. Hanya dalam 24 jam, Zuckerberg tergusur dari posisi 4 daftar orang terkaya Forbes ke peringkat 6.

Kejadian ini terjadi sehari setelah eksekutif memperkirakan margin keuntungan Facebook akan lebih rendah tahun ini.  "Total perkembangan revenue kita akan menurun di paruh kedua 2018, dan kami memperkirakan pertumbuhan pendapatan kami akan turun dengan single digit tinggi menjelang kuartal III," ucap Chief Financial Officer Facebook David Wehner, seperti dikutip Market Watch.

(Baca juga: Trump Habiskan Rp 3,9 Miliar untuk Beriklan di Facebook)

Setidaknya ada 16 broker Wall Street yang memangkas target harga mereka setelah bertemu Wehner. Akibatnya, saham Facebook sempat merosot 23% pada perdagangan after hour, setelah penutupan bursa pada Rabu (25/7).


Harga Saham Facebook (2 Jan-26 Juli 2018)

Analis melihat Facebook berada di bawah ancaman setelah setahun terakhir pemberitaan didominasi masalah pada keamanan data pengguna. Penurunan harga saham Facebook sebanyak 19% ke level US$ 176,26 pada perdagangan Kamis, kemarin, membuat valuasi Facebook susut sekitar US$ 120 miliar atau setara Rp 1.737 triliun. 

Hal itu membuat Facebook berada dalam posisi terburuknya sejak 2012, saat harga sahamnya susut 11%. Lebih lanjut, CNBC menyebut bahwa tidak ada perusahaan dalam sejarah Wall Street yang pernah kehilangan lebih dari US$ 100 miliar dalam satu hari.

Reporter: Pingit Aria