Valuasi Go-Jek Dekati Grab yang Telah Beroperasi di 8 Negara

Go-Jek
Plt Walikota Gorontalo Charles Budi Doku (paling kiri) ditemani VP Corporate Communications GO-JEK Michael Say dan Strategic Region Head Kalimantan & Sulawesi Anandita Danaatmadja dalam acara sosialisasi kemitraan GO-JEK dengan Bentor, Senin (23/4).
Penulis: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
18/5/2018, 13.52 WIB

Go-Jek begitu mendominasi pasar Indonesia sehingga valuasinya kini telah mendekati Grab yang telah beroperasi di delapan Negara. Padahal selain Indonesia, Grab juga telah beroperasi di Singapura, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar, dan Kamboja. Grab juga telah mengakuisisi Uber di Asia Tenggara.

Hasil studi perusahaan penyedia data finansial dan perangkat lunak Pitchbook yang dikutip CNBC, valuasi PT Go-Jek Indonesia kini mencapai US$ 5 miliar atau setara Rp 70 triliun. Nilai itu hanya selisih US$ 1 miliar atau Rp 14 triliun dibanding Grab, yang nilainya US$ 6 miliar atau sekitar Rp 84 triliun.

Keduanya pun masuk dalam daftar 30 perusahaan privat yang memiliki valuasi tertinggi berkat dukungan oleh Venture Capital (VC). Grab menempati posisi 22 dan Go-Jek di urutan ke 27 di antara perusahaan-perusahaan yang belum melantai di bursa tersebut.

(Baca juga: Besar Cuan Go-Jek dan Grab dari Layanan Pesan Antar Makanan)

Urutan pertama ditempati oleh perusahaan berbagi tumpangan (ride hailing) juga, yakni Uber dengan nilai US$ 69,6 miliar atau setara Rp 974,4 triliun. Kemudian disusul oleh perusahaan sejenis asal Tiongkok, Didi Chuxing yang valuasinya ditaksi US$ 56 miliar atau sekitar Rp 784 triliun.

Lalu disusul oleh Airbnb US$ 31 miliar atau Rp 434 triliun, Meituan-Dianping US$ 30 miliar atau Rp 420 triliun, dan SpaceX dengan valuasi US$ 24,7 miliar atau Rp 345,8 triliun. Lantas posisi keenam ditempati oleh WeWork yang valuasinya sebesar US$ 21,1 miliar atau Rp 295,4 triliun.

Dengan modal tebal, Go-Jek pun berencana ekspansi ke beberapa negara di Asia Tenggara. Hanya, CEO Go-Jek Nadiem Makarim mengatakan, ada empat syarat untuk bisa ekspansi ke luar negeri. Pertama, memiliki penetrasi yang signifikan di Indonesia. Kedua, posisi yang lebih baik dibandingkan pesaing. Ketiga, memiliki staf yang mendukung bisnis di luar negeri. Keempat, memiliki cukup pendanaan.

"Jika empat hal tercapai, kami sudah memenuhi sebagian besar di antaranya, saya pikir cukup untuk uji coba ke negara lain," kata Nadiem beberapa waktu lalu.

(Baca juga: Grab dan Go-Jek Kini Berebut Mantan Pengemudi Uber)

Reporter: Desy Setyowati