Tren Karyawan Meta hingga Google Resign, Bikin Startup dan Raup Investasi

Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi startup AI.
Penulis: Rahayu Subekti
29/4/2026, 13.21 WIB

Tren mundurnya talenta atau karyawan dari sejumlah perusahaan raksasa teknologi, seperti Meta, Google, hingga OpenAI semakin terasa dalam beberapa waktu terakhir. Mereka memilih mengundurkan diri (resign) untuk membangun perusahaan rintisan atau startup kecerdasan buatan (AI) dan langsung meraup investasi ratusan juta dolar dalam beberapa bulan setelah didirikan.

Menurut laporan CNBC global, salah satu contoh mencolok datang dari mantan peneliti Google DeepMind, David Silver, yang berhasil mengamankan pendanaan awal sebesar US$ 1,1 miliar atau setara Rp 18,96 triliun (kurs Rp 17.425 per dolar AS) untuk startup barunya, Ineffable Intelligence.

Sementara itu, Tim Rocktäschel, mantan karyawan DeepMind lainnya, juga dilaporkan menggalang hingga US$ 1 miliar atau setara atau setara Rp 17,24 triliun untuk perusahaan barunya, Recursive Superintelligence.

Tak kalah ambisius, Yann LeCun, tokoh penting di balik riset AI di Meta juga dikabarkan terlibat dalam pendirian AMI Labs yang sukses meraih pendanaan US$ 1 miliar atau setara Rp 17,24 triliun hanya beberapa bulan setelah berdiri. Startup ini berfokus pada pengembangan AI yang mampu belajar langsung dari data dunia nyata secara berkelanjutan.

Dalam setahun terakhir, tren serupa juga terlihat dari alumni perusahaan seperti Anthropic dan xAI. Startup seperti Periodic Labs, Recursive Intelligence, hingga Humans& berhasil mengantongi ratusan juta dolar dalam waktu singkat.

Menurut Direktur Pelaksana Prancis Eurazeo, Elise Stern, persaingan sengit antarlaboratorium AI besar justru membuka peluang bagi pemain baru.

“Ketika Anda berada dalam perlombaan, Anda mempersempit fokus. Itu menciptakan kekosongan. Seluruh bidang penelitian seperti arsitektur baru, agen, interpretasi, dan model vertikal diprioritaskan lebih rendah. Bukan karena tidak penting tetapi karena tidak memenangkan perlombaan langsung,” ujar Stern.

Data dari Dealroom menunjukkan, sepanjang 2026, modal ventura telah mengalirkan sekitar US$ 18,8 miliar atau setara Rp 324,2 triliun ke startup AI yang baru berdiri sejak 2025. Angka ini diprediksi melampaui total investasi tahun sebelumnya yang mencapai US$ 27,9 miliar atau Rp 481,13 triliun.

Stern mengatakan para pendiri ini pernah berkerja di laboratorium terdepan dan memiliki wawasan yang unik. “Mereka tahu apa yang berhasil dalam skala besar dan mereka tahu persis apa yang terlewatkan secara internal. Di situlah letak peluangnya,” kata Stern.

Di sisi lain, tekanan internal di perusahaan besar juga menjadi pemicu hengkangnya talenta. Fokus pada target komersial dan siklus rilis cepat membuat ruang eksplorasi riset semakin sempit. Hal ini mendorong para peneliti untuk mencari kebebasan di luar perusahaan lama mereka.

Startup AI Manfaatkan Pengalaman Pendiri untuk Raih Peluang

Startup seperti Recursive Intelligence misalnya, memanfaatkan pengalaman pendirinya Anna Goldie dan Azalia Mirhoseini yang sebelumnya bekerja untuk Anthropic dan terlibat dalam proyek AlphaChip di DeepMind untuk mengembangkan desain cip berbasis AI. Dengan posisi sebagai perusahaan independen, mereka dinilai lebih netral oleh klien industri dibandingkan jika masih berada di bawah payung raksasa teknologi.

Sementara itu, salah satu sumber mengatakan kepada CNBC, Ineffable Intelligence dan Humans&, mengandalkan reinforcement learning. Suatu metode di mana AI belajar dari pengalaman, bukan sekadar data teks internet seperti model bahasa besar.

Humans& yang diluncurkan pada Oktober 2025 oleh mantan karyawan Anthropic dan xAI berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar US$ 480 juta atau setara Rp 8,27 triliun pada Januari 2026.

Hingga berita ini ditulis, Google, Meta, Anthropic, dan OpenAI belum menanggapi permintaan komentar dari CNBC

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti