Jumlah Investor yang Berinvestasi di Startup Indonesia Berkurang, IPO Juga Lesu

Katadata
Diskusi KatadataForum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2018.
Penulis: Leoni Susanto
28/10/2026, 13.34 WIB

Jumlah investor yang mendanai startup Indonesia menyusut pada sembilan bulan pertama 2026. Aktivitas penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) startup juga lesu, dengan tidak ada perusahaan teknologi yang mencatatkan saham di bursa hingga September 2026.

Berdasarkan laporan Tracxn Technologies Limited bertajuk Indonesia Tech – 9M 2026, jumlah investor yang mendukung putaran pendanaan perusahaan teknologi Indonesia turun menjadi 27 investor pada Januari–September 2026. Angka ini menyusut 39% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 44 investor.

Dari total investor tersebut, sebanyak 20 merupakan investor internasional dan tujuh lainnya investor domestik.

Penurunan jumlah investor terjadi ketika nilai pendanaan perusahaan teknologi Indonesia justru meningkat. Total pendanaan mencapai US$ 365 juta atau Rp 6,63 triliun (kurs Rp 18.168 per US$) pada sembilan bulan pertama 2026, naik 111% dibandingkan US$ 173 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, kenaikan nilai investasi startup tersebut tidak diikuti peningkatan jumlah transaksi. Perusahaan teknologi Indonesia hanya mencatatkan 14 putaran pendanaan selama Januari–September 2026, turun 56% dibandingkan 32 putaran pada periode yang sama 2025.

Rata-rata nilai pendanaan per putaran meningkat menjadi US$ 26 juta, dibandingkan US$ 5 juta pada tahun sebelumnya.

Pendanaan dalam jumlah besar terkonsentrasi pada sejumlah perusahaan. Ajaib, perusahaan teknologi finansial yang berbasis di Jakarta, mengumpulkan US$ 270 juta melalui putaran pendanaan Seri C pada Agustus 2026 dengan dukungan SBI Group.

Nilai pendanaan Ajaib tersebut setara dengan sekitar 74% dari total pendanaan perusahaan teknologi Indonesia selama sembilan bulan pertama tahun ini.

Selain Ajaib, Waresix mengumpulkan US$ 27 juta melalui putaran pendanaan Seri B pada Agustus 2026. Sementara itu, Green Rebel yang berbasis di Tangerang memperoleh US$ 13 juta melalui putaran pendanaan Seri A pada Februari 2026.

Aktivitas IPO Startup Nihil

Di tengah peningkatan nilai pendanaan, aktivitas IPO perusahaan teknologi Indonesia belum menunjukkan perkembangan. Tracxn mencatat tidak ada perusahaan teknologi Indonesia yang melakukan pencatatan saham publik pada sembilan bulan pertama 2026.

Kondisi ini sama dengan penurunan aktivitas akuisisi. Perusahaan teknologi Indonesia hanya mencatatkan satu akuisisi pada Januari–September 2026, dibandingkan tujuh akuisisi pada periode yang sama 2025 dan delapan akuisisi pada 2024.

Satu-satunya transaksi akuisisi yang tercatat adalah pengambilalihan NOBI, perusahaan yang berbasis di Jakarta, oleh Bybit yang berbasis di Uni Emirat Arab pada Juli 2026. Nilai transaksi tersebut tidak diungkapkan.

Sementara itu, Indonesia tidak menambah perusahaan berstatus unicorn pada sembilan bulan pertama 2026. Tracxn mendefinisikan unicorn sebagai perusahaan dengan valuasi US$ 1 miliar atau lebih. Tidak adanya tambahan unicorn ini juga terjadi pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendanaan Startup Tahap Awal Turun

Laporan Tracxn juga menunjukkan bahwa peningkatan pendanaan perusahaan teknologi Indonesia terutama didorong oleh pendanaan tahap akhir.

Pendanaan tahap akhir meningkat 525% menjadi US$ 280 juta pada sembilan bulan pertama 2026, dibandingkan US$ 45 juta pada periode yang sama 2025. Jumlah putarannya meningkat dari satu menjadi tiga.

Porsi pendanaan tahap akhir terhadap total pendanaan perusahaan teknologi Indonesia juga meningkat menjadi 77%, dibandingkan 26% pada tahun sebelumnya.

Sebaliknya, pendanaan tahap awal turun 16% menjadi US$ 83 juta dari US$ 99 juta. Jumlah putarannya menyusut menjadi tujuh dari delapan putaran pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan lebih tajam terjadi pada pendanaan tahap seed atau tahap awal bagi perusahaan rintisan. Nilai pendanaan pada tahap ini anjlok 92% menjadi US$ 2 juta dari US$ 29 juta. Jumlah putarannya juga turun menjadi empat dari 23 putaran.

Jumlah investor pemula yang pertama kali mendanai perusahaan teknologi Indonesia turut menyusut 73% menjadi tiga investor, dibandingkan 11 investor pada sembilan bulan pertama 2025.

Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan nilai pendanaan perusahaan teknologi Indonesia pada 2026 berlangsung bersamaan dengan penurunan jumlah investor dan putaran pendanaan. Pada saat yang sama, pendanaan semakin terkonsentrasi pada perusahaan tahap lanjut, sementara pendanaan tahap seed mengalami penurunan tajam.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Leoni Susanto