Toto Sugiri Ungkap Posisi Indonesia di Tengah Persaingan AI Amerika – Cina

toto sugiri, amerika, cina, ai,
Katadata/Fauza
CEO DCI Indonesia Otto Toto Sugiri dan Co-Founder and Chair of The Governing Board Yayasan Pendidikan Kader Bangsa Indonesia Dirgayuza Setiawan dalam acara IDE Katadata 2025
Penulis: Desy Setyowati
18/2/2025, 15.18 WIB

Perusahaan teknologi Amerika dan Cina bersaing ketat dalam pengembangan AI atau kecerdasan buatan, seperti ChatGPT dan DeepSeek. Bagaimana posisi Indonesia di tengah persaingan ini?

CEO DCI Indonesia Otto Toto Sugiri menyampaikan kebutuhan komputasi awan untuk pemrosesan data AI terbagi menjadi tiga tahap yakni:

  1. Pelatihan: Proses ketika model AI belajar dari data yang diberikan untuk mengenali pola, hubungan, dan fitur penting. Selama proses ini, model AI dipasok dataset besar.
  2. Inferensi: Proses menggunakan model yang telah dilatih untuk membuat prediksi pada data baru yang belum pernah dilihat sebelumnya. Model AI mengambil input, menerapkan bobot yang sudah dipelajari, dan menghasilkan output seperti prediksi atau klasifikasi.
  3. Fine-Tuning atau Penyesuaian Lanjut: Proses menyesuaikan model yang sudah dilatih sebelumnya alias pretrained model dengan data spesifik untuk meningkatkan performa pada tugas tertentu. Model AI yang sudah dilatih pada dataset besar disesuaikan lagi menggunakan dataset yang lebih kecil dan spesifik.

“Pada tahap training, butuh kapasitas komputasi yang sangat besar. Tapi lihat realita, apakah Indonesia mengembangkan AI seperti ChatGPT dan lainnya?” kata Toto dalam acara IDE Katadata: Data for Growth pada sesi ‘Data Centers to Support 8% Economic Growth’ di Hotel St Regis, Jakarta, Selasa (18/2).

“Investasi besar-besaran untuk pelatihan model AI seperti ChatGPT dan DeepSeek, itu hanya terjadi di dua negara yakni Amerika dan Cina. Indonesia masuk di proses inference dan fine-tuning, ketika model AI sudah digunakan di industri,” Toto menambahkan.

Ia pun memperkirakan kebutuhan data center untuk AI bisa mencapai enam kali lipat dari keperluan untuk komputasi awan alias cloud Indonesia.

“Dengan jumlah penduduk 270 juta, Indonesia membutuhkan sekitar 2.700 Megawatt atau MW untuk melayani penduduk sendiri. Ini belum menghitung untuk AI dan cloud,” ujar Toto. “Dengan AI, memang diperkirakan enam kali lipat dari kebutuhan cloud.”

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.