BMKG Ungkap Penyebab Hujan Es di Cikini Jakarta Pusat: Awan Cumulonimbus

Instagram @Jakarta.Terkini, Katadata/Desy Setyowati
Hujan es di Cikini
Penulis: Desy Setyowati
1/10/2025, 07.29 WIB

BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengungkapkan hujan es yang terjadi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, pada Selasa (30/9) sore dipicu oleh terbentuknya awan Cumulonimbus saat masa peralihan musim.

Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca Direktorat Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani menjelaskan awan Cumulonimbus dikenal sebagai awan pembawa cuaca ekstrem, karena mampu menghasilkan hujan deras, angin kencang, petir, bahkan butiran es.

“Hujan es terjadi ketika uap air yang naik ke lapisan atas awan mengalami pendinginan ekstrem hingga membentuk butiran es. Jika arus udara naik (updraft) cukup kuat, butiran es akan bertahan, membesar, lalu jatuh ke permukaan,” kata Ida dikutip dari Antara, Selasa (30/9).

Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Jabodetabek dipengaruhi dinamika atmosfer yang cukup signifikan. Aktifnya gelombang ekuatorial Rossby, nilai OLR atau Outgoing Longwave Radiation yang cenderung negatif, serta fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) yang sedang aktif di sekitar Jawa bagian barat mendukung pertumbuhan awan konvektif.

Kondisi itu diperkuat oleh kelembapan udara yang tinggi, atmosfer yang labil, serta suhu permukaan hangat pada siang hari dengan kisaran 28–34 derajat Celsius.

"Kombinasi faktor itu membuat cuaca terasa panas terik pada siang hari, lalu berubah menjadi hujan deras bahkan hujan es di sore hingga malam hari, seperti yang terjadi di Cikini," kata dia.

Peristiwa hujan es viral di media sosial Instagram melalui video amatir berdurasi kurang dari 30 detik yang diunggah salah satunya oleh akun Instagram @Jakarta.terkini. Video tersebut memperlihatkan hujan deras disertai butiran es yang jatuh di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 
Sebuah kiriman dibagikan oleh JAKARTA TERKINI (@jakarta.terkini)

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem di masa peralihan musim, termasuk hujan deras, petir, angin kencang, maupun hujan es yang dapat terjadi secara tiba-tiba.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Antara