Tujuh Pelajar RI Raih Emas IPITEx di Bangkok Berkat AI Cek Tanah untuk Petani

Komdigi
Tujuh pelajar Indonesia raih Medali Emas IPITEx 2026 di Bangkok, Thailand, Selasa (13/1)
14/1/2026, 08.54 WIB

Tujuh pelajar Indonesia berusia 15 tahun meraih Medali Emas pada ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 di Bangkok, Thailand. Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi bertajuk SoilPIN, alat portabel pemantau kesehatan tanah berbasis kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

SoilPIN dikembangkan sebagai solusi untuk membantu petani mengetahui kondisi tanah secara cepat dan akurat langsung di lahan. Alat berbentuk pin ini terhubung dengan aplikasi ponsel dan mampu mengukur delapan parameter tanah, seperti pH, kelembaban, suhu, salinitas, serta kandungan unsur hara nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K).

Data yang diperoleh kemudian dikirim ke aplikasi untuk dianalisis menggunakan AI. Hasil analisis tersebut disajikan dalam bentuk informasi kondisi tanah beserta rekomendasi tindakan perbaikan lahan yang dapat dilakukan petani.

Perwakilan tim pengembang SoilPIN, Armand Muhammad Abdullah, mengatakan inovasi ini lahir dari persoalan yang kerap dihadapi petani di lapangan.

“Petani sering mengambil keputusan tanpa data tanah yang akurat. SoilPIN memberi jawaban cepat di lapangan. Itu yang kami kejar,” kata Armand, dalam keterangannya, Selasa (13/1). 

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengapresiasi capaian tersebut sebagai bukti kemampuan talenta muda Indonesia dalam menghadirkan solusi digital yang menjawab kebutuhan sektor pertanian.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa anak muda Indonesia mampu membaca persoalan nyata dan menjawabnya dengan teknologi. SoilPIN adalah contoh bagaimana digitalisasi bisa memberi manfaat langsung bagi petani dan lingkungan,” ujar Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi, Edwin Hidayat Abdullah. 

Menurut Edwin, teknologi yang sederhana dan portabel seperti SoilPIN membuka akses informasi kesehatan tanah, khususnya bagi petani kecil dan wilayah yang memiliki keterbatasan layanan agronomi.

“Teknologi ini memungkinkan petani mengambil keputusan berbasis data, bukan perkiraan semata,” katanya.

Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Ditjen Ekosistem Digital Kementerian Komdigi, Sonny Sudaryana, menilai penguatan ekosistem inovasi menjadi kunci agar teknologi benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat.

 “Kami ingin inovasi dipakai masyarakat. Ketika petani bisa menghemat biaya, meningkatkan hasil, dan menjaga tanahnya, di situlah teknologi bekerja untuk publik,” katanya.

 Sebelum dipresentasikan di IPITEx 2026, SoilPIN telah melalui tahap uji coba di Bandung dan Jakarta. Inovasi ini juga telah memperoleh perlindungan hak cipta dari Kementerian Hukum RI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina