Bank-bank AS Waswas Diretas Hacker Imbas Perang di Iran

Reuters/Katadata
JP Morgan
Penulis: Desy Setyowati
4/3/2026, 13.20 WIB

Industri jasa keuangan Amerika Serikat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan siber di tengah berlangsungnya perang AS di Iran.

Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei akhir pekan lalu akibat serangan udara, telah memicu gejolak di Timur Tengah. Hal ini juga memicu kekhawatiran tentang potensi serangan siber terkait Iran terhadap bisnis jasa keuangan AS.

"Industri tetap waspada dan siap untuk menanggapi ancaman siber setiap saat, dan terutama ketika risiko keamanan siber global meningkat," kata Todd Klessman, direktur pelaksana untuk layanan keuangan siber dan teknologi di kelompok industri SIFMA, dikutip dari Reuters, Rabu (4/3).

"Kami terus memantau situasi saat ini dengan fokus pada ketahanan operasional, yang merupakan dasar bagi integritas dan stabilitas pasar modal AS," Klessman menambahkan.

CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon juga mengatakan kepada jurnalis CNBC Internasional Leslie Picker, bahwa bank mungkin menjadi target dan mengatakan dia memperkirakan peningkatan serangan siber atau teroris secara global.

“Kami selalu berusaha mempersiapkan diri untuk itu,” kata dia dikutip dari CNBC Internasional, Rabu (4/3), seraya menambahkan bahwa ia menganggap serangan siber sebagai salah satu risiko tertinggi yang ditanggung bank.

Pejabat industri perbankan terkemuka lainnya mengatakan, para pemberi pinjaman sangat khawatir tentang risiko serangan siber, yang mereka anggap mungkin terjadi.

Menurut penilaian intelijen AS, ‘aktivis peretas’ yang bersekutu dengan Iran dapat melakukan serangan siber tingkat rendah terhadap jaringan, seperti Distributed Denial of Service  atau DDoS, ketika aktor musuh membanjiri server target dengan banjir lalu lintas internet.

Lembaga pemeringkat kredit Morningstar DBRS mengatakan pada Selasa (3/3), bahwa risiko paling signifikan bagi bank global dan manajer aset kemungkinan bersifat tidak langsung, termasuk harga minyak yang lebih tinggi secara berkelanjutan dan guncangan bagi peminjam, tetapi memperingatkan bahwa risiko siber juga dapat meningkat.

"Iran dapat meningkatkan serangan sibernya terhadap entitas Barat, termasuk bank," kata lembaga pemeringkat kredit tersebut.

Tim penasihat geopolitik bank investasi AS Lazard juga pekan ini menyoroti risiko siber, mencatat bahwa Iran telah menunjukkan kesediaan untuk mengerahkan kemampuan siber terhadap target komersial, termasuk sistem keuangan.

Menurut laporan Financial Services Information Sharing and Analysis Center (FS-ISAC), konsorsium industri pada 2025, sektor jasa keuangan menjadi target utama serangan DDoS pada 2024, dengan perang Hamas-Israel dan Rusia-Ukraina memicu lonjakan aktivisme peretasan.

Kepala analis GoogleThreat Intelligence Group John Hultquist juga mengatakan kepada CNBC Internasional, bahwa meskipun Iran memiliki sejarah melebih-lebihkan serangan, klaim ini harus ditanggapi dengan hati-hati karena dapat berdampak serius pada bisnis.

Meskipun industri jasa keuangan AS belum mengalami gangguan besar akibat serangan ke Iran, serangan DDoS skala kecil dan ransomware mulai muncul.

Serangan ransomware pada 2023 terhadap unit pialang saham AS dari Industrial and Commercial Bank of China mengganggu penyelesaian beberapa transaksi obligasi pemerintah AS.

Iran juga membuktikan kemampuannya untuk menembus pertahanan terhadap target AS. Pada 2024, Iran mengaku bertanggung jawab atas peretasan email beberapa staf yang terkait dengan kampanye Presiden Donald Trump.

Pada 2012 dan 2013, negara itu berada di balik DDoS besar-besaran terhadap bank-bank besar yang menyebabkan situs web mereka lumpuh.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.