Industri Chip Dunia Krisis Pasokan Helium Akibat Perang Iran vs AS-Israel
Perang Iran vs Amerika-Israel mengakibatkan gangguan besar pada rantai pasokan teknologi global. Fasilitas helium raksasa di Ras Laffan milik QatarEnergy yang berhenti beroperasi setelah serangan drone bakal mempengaruhi produksi semikonduktor.
Gangguan ini langsung memicu kekhawatiran global karena helium merupakan gas vital dalam proses produksi semikonduktor. Laporan TechSpot, Sabtu (14/3), menyebutkan dalam industri chip, helium digunakan untuk mendinginkan wafer silikon selama proses fabrikasi dan litografi yang membutuhkan suhu sangat rendah. Tanpa gas ini, proses pembuatan chip modern hampir tidak bisa berjalan karena belum ada pengganti yang efektif.
Fasilitas Ras Laffan menghentikan operasinya sejak 2 Maret 2026 setelah serangan drone. Dua hari kemudian, QatarEnergy mengumumkan status force majeure yang membebaskan perusahaan dari kewajiban pengiriman kepada para pembeli global. Dampaknya langsung terasa di pasar, pasokan helium global tiba-tiba menyusut sekitar 30%.
Salah satu negara yang paling terdampak adalah Korea Selatan yang tahun lalu mengimpor hampir 65% heliumnya dari Qatar. Industri semikonduktor negara tersebut sangat bergantung pada pasokan helium stabil untuk menjaga tingkat produksi chip.
Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan di Seoul kini melakukan evaluasi terhadap 14 material dan peralatan penting untuk industri chip yang terkait dengan pasokan dari Timur Tengah. Selain helium, pemerintah juga meneliti risiko pasokan bahan lain seperti bromin, yang sekitar 90% impor Korea Selatan berasal dari Israel, negara lain yang terlibat dalam ketegangan regional.
Di sisi industri, produsen chip besar mulai mengambil langkah darurat untuk mengantisipasi krisis pasokan. Perusahaan semikonduktor SK Hynix menyatakan telah mendiversifikasi sumber heliumnya dan mengamankan cadangan yang cukup. Sedangkan, raksasa chip TSMC mengatakan terus memantau situasi meski belum melihat dampak jangka pendek terhadap produksinya.
Menurut Asosiasi Industri Semikonduktor dan Boston Consulting Group, Korea Selatan dan Taiwan menyumbang sekitar 36% produksi semikonduktor dunia. Setiap gangguan bahan baku utama seperti helium berpotensi memicu efek domino pada industri teknologi global, mulai dari produksi smartphone hingga pusat data kecerdasan buatan.
Para analis industri memperingatkan, jika fasilitas Ras Laffan tetap tidak beroperasi lebih dari dua minggu, dampaknya bisa meluas selama berbulan-bulan. Distributor gas industri mungkin harus merombak rantai logistik, memindahkan peralatan kriogenik, hingga menjalin kontrak baru dengan pemasok alternatif.
Krisis ini mengingatkan kembali pada kelangkaan gas industri pada 2022 setelah Invasi Rusia ke Ukraina 2022 yang saat itu mengganggu pasokan helium dan neon global. Krisis sebelumnya juga mendorong Korea Selatan mengejar produksi lokal dan opsi sumber yang lebih luas. Namun kini industri semikonduktor diuji karena menghadapi guncangan pasokan terbaru dari Timur Tengah.