Wamen Stella Christie Jelaskan 3 Kunci RI untuk Kejar Kesenjangan Bidang AI
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menyoroti adanya kesenjangan kecerdasan buatan (AI) Indonesia dengan negara lain. Stella mengatakan perlu tiga hal agar RI bisa menngejar kesenjangan tersebut.
Dia mengatakan, kesenjangan tersebut berasal dari kurangnya pengetahuan akan AI, investasi di bidang kecerdasan buatan, serta dukungan infrastruktur.
"Kuncinya ada tiga itu," kata Stella dalam pidatonya di acara Katadata IDE Future Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).
Stella mengatakan, untuk mengejar kesenjangan dalam bidang pengetahuan, RI harus memilih keahlian yang berbeda dalam kaitannya dengan negara-negara lain.
Ia mencontohkan, Cina sangat fokus mengembangkan AI untuk mobilitas dan otomasi. Sedangkan Amerika Serikat fokus pada AI bidang media sosial hingga penjualan.
Dia lalu menyinggung kecerdasan buatan di bidang keanekaragaman hayati sebagai potensi yang bisa digarap Indonesia. "Tidak bisa membuat pengetahuan yang sama di setiap bidang, harus ada spesialisasinya," katanya.
Hal kedua yang perlu dikejar Indonesia adalah investasi di bidang pengetahuan AI. Stella menyebut negara-negara tetangga RI telah berinvestasi AI dengan nilai besar.
Dia mencontohkan, Malaysia berinvestasi US$ 15 miliar untuk AI. Sedangkan Singapura menggelontorkan dana US$ 9 miliar untuk pengembangan kecerdasan buatan.
Stella mengatakan, peran swasta dalam investasi AI sangat besar. Oleh sebab itu, Kemdiktisaintek mengajak swasta untuk menggelontorkan dana riset AI.
Stella mengatakan kementeriannya juga menyiapkan cara agar dana bisa mengalir ke investasi dalam kecerdasan buatan.
"Kami memiliki Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan, khusus bermitra dengan swasta. Mereka akan belanja permasalahan dengan swasta," katanya.
Ketiga, adalah menyiapkan infrastruktur pendukung pengembangan AI. Stella kembali mengajak swasta untuk membangun data center atau pusat data sebagai penopang pengembangan kecerdasan buatan.
Meski demikian, dia juga mengakui bahwa setiap pusat data memerlukan pasokan listrik yang memadai. Stella juga menyarankan pemmbangunan data center berada di lokasi yang jauh dari pemukiman dan perkotaan.
"Kita galakkan lagi kedaulatan untuk menjaga data dengan aman," katanya.