Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi menyatakan YouTube dan Roblox belum mematuhi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Roblox buka suara terkait hal ini.
Vice President of Civility and Partnerships Roblox Tami Bhaumik menegaskan, perusahaan menempatkan kepatuhan terhadap regulasi sebagai prioritas utama, sekaligus terus memperkuat perlindungan anak melalui inovasi teknologi dan keterlibatan orang tua.
“Kami sangat berfokus untuk menghormati hukum dan norma budaya di setiap negara tempat kami beroperasi. Kami bekerja sama dengan Komdigi dan menghormati regulasi pemerintah,” ujar Tami dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026, Rabu (15/4).
Ia menyampaikan Roblox tengah menjalin koordinasi intensif dengan Komdigi untuk memastikan seluruh ketentuan dalam PP Tunas dapat dipenuhi. Ia memastikan perusahaan melihat regulasi ini sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem digital yang lebih aman bagi anak-anak.
Sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kebijakan di Indonesia, Roblox telah meluncurkan fitur Roblox Kids Accountdan Roblox Select Accounts. Salah satu yang diterapkan yakni pembatasan komunikasi bagi pengguna di bawah usia 16 tahun.
“Kami baru saja mengumumkan fitur Roblox Kids Account serta Roblox Select Accounts. Secara khusus untuk Indonesia, kami menetapkan bahwa anak di bawah usia 16 tahun tidak dapat melakukan chat kecuali telah mendapatkan persetujuan orang tua yang terverifikasi,” jelas Tami.
Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan peran orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak. Dengan sistem verifikasi, orang tua memiliki kendali lebih besar terhadap siapa saja yang dapat berinteraksi dengan anak mereka di platform.
Tami mengungkapkan bahwa keamanan (safety) telah menjadi fondasi utama Roblox sejak awal berdiri lebih dari 20 tahun lalu. Namun, perusahaan kini melangkah lebih jauh melalui inisiatif yang disebut Civility Initiative.
Inisiatif ini tidak hanya berfokus pada perlindungan teknis, tetapi juga pada edukasi pengguna, khususnya orang tua, agar mampu membimbing anak-anak dalam berinteraksi di dunia digital.
“Ada kebutuhan untuk mengedukasi masyarakat tentang bagaimana bernavigasi secara aman di dunia online, tidak hanya di Roblox, tetapi secara umum,” ujarnya.
Andalkan AI untuk Cegah Risiko Sejak Dini
Dalam menjawab tantangan keamanan digital, Roblox juga mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI). Tami menjelaskan bahwa AI kini memungkinkan platform untuk memantau aktivitas secara menyeluruh dan mendeteksi potensi pelanggaran sebelum terjadi.
Dia menjelaskan, dengan teknologi tersebut Roblox dapat memahami perilaku avatar dalam suatu pengalaman digital, menganalisis aset dan interaksi di dalam platform hingga mendeteksi percakapan yang tidak pantas secara real-time.
“Kami akan terus berinvestasi di bidang ini. Dari sisi keamanan, kami yakin sistem akan terus menjadi semakin kuat dan lebih baik kedepannya
Di sisi lain, Roblox juga berupaya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan pengguna. Roblox menerapkan sistem klasifikasi konten berbasis usia.
Anak-anak yang lebih muda hanya dapat mengakses konten dengan tingkat ringan, sementara pengguna usia 13–15 tahun dapat mengakses konten dengan tingkat moderat.
Selain itu, pembatasan komunikasi tanpa persetujuan orang tua menjadi instrumen penting untuk memastikan interaksi tetap aman.
“Penting untuk ditekankan bahwa tidak ada fitur komunikasi untuk anak di bawah 16 tahun tanpa persetujuan orang tua yang terverifikasi. Orang tua tentu tidak akan memberikan izin jika mereka tidak mengenal pihak yang berinteraksi dengan anak mereka,” katanya.