Jakarta -- Kecerdasan buatan (AI) disebut bisa menjadi solusi ketimpangan distribusi fasilitas dan tenaga kesehatan, terutama kesehatan ibu dan anak, di Indonesia. Namun, penerapan inovasi ini masih tetap perlu memperhatikan konteks kebutuhan lokal.
Hal itu disampaikan oleh CEO Summit Institute for Development (SID) Yuni Dwi Setiyawati dalam IDE Katadata Future Forum 2026 yang digelar di Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
“Tantangan kita yaitu bagaimana mengidentifikasi mendeteksi lebih awal risiko-risiko kehamilan, karena 90% risiko kehamilan itu preventable,” ujar Yuni dalam sesi berjudul Road to Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit: Breaking Health Barriers.
Menjawab tantangan tersebut, Yuni mengungkapkan SID bersama sejumlah mitra mengembangkan solusi kesehatan digital berbasis kecerdasan buatan (AI).
Adapun mitra-mitra yang digandeng meliputi; Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Mataram.
Teknologi berbasis AI tersebut berperan untuk menganalisis kondisi kesehatan pasien, layanan yang dibutuhkan, membantu pencatatan, sampai memastikan kepatuhan kunjungan ke fasilitas kesehatan.
“Kita membantu dengan membuat sistem pelaporan pencatatan di lapangan. Contoh seorang kader di posyandu mencatat data rutin seorang ibu kemudian diprediksi dengan AI supaya bisa diketahui faktor risiko ibu hamil,” ujarnya.
Teknologi yang dikembangkan Yuni memungkinkan digitalisasi rekam kesehatan melalui Optical Character Recognition (OCR) yang mengubah data berbasis kertas menjadi insight yang dapat ditindaklanjuti.
Ada pula fitur prediksi risiko kehamilan secara real-time. Ia menambahkan teknologinya mencakup fitur pengingat (reminder) yang akan menginformasikan pasien soal risiko kesehatan jika melewatkan kunjungan.
Yuni juga menekankan pengembangan teknologi ini tidak selalu mahal selama ada komitmen dari daerah untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
“Kalau dibilang mahal atau tidak, kalau daerah mau ya bisa. Tinggal bagaimana nanti dikoordinasikan sampai ke tingkat Puskesmas,” jelasnya.
Sesuai Kondisi Daerah
Di sisi lain, Direktur Tata Kelola Kesehatan Primer Kementerian Kesehatan dr. Elvieda Sariwati menegaskan bahwa pemerintah tengah menjalankan transformasi sistem kesehatan secara menyeluruh.
“Kita melakukan transformasi kesehatan, mulai dari primer, rujukan, digitalisasi, pembiayaan dan SDM,” ujarnya.
Dalam konteks layanan primer, Elvieda mengungkapkan bahwa Kementerian Kesehatan mengusung pendekatan berbasis siklus hidup serta memperluas jejaring layanan kesehatan hingga ke tingkat dusun. Namun, implementasi di lapangan tidak lepas dari berbagai tantangan mulai dari infrastruktur hingga sumber daya manusia (SDM).
“Pertama kapasitas SDM, kemudian infrastrukturnya. Misal kita mau [menghadirkan] teknologi di suatu daerah, tapi di daerahnya enggak ada sinyal. Kemudian mau ada tenaga [kesehatan] di sana, tapi tenaganya kurang. Itu tantangannya,” terangnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa solusi kesehatan, termasuk inovasi dan teknologi yang dihadirkan, harus mempertimbangkan sejumlah faktor.
Pertama, kesesuaian dengan prioritas. Kedua, feasibility atau kemungkinan penerapan di lapangan. Ketiga, efisiensi, yang berarti ada pertimbangan cost and benefit. Keempat, menyesuaikan dengan kondisi daerah.
“Dengan luasnya Indonesia kita enggak bisa blanket policy, pendekatannya harus local specific. Bagaimana sebuah inovasi bisa kita adopsi? Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat ada yang punya inovasi,” ujarnya.
Dengan pendekatan yang menggabungkan teknologi, penguatan kapasitas lokal, serta kebijakan yang adaptif, hasil dari usaha untuk mengatasi ketimpangan layanan kesehatan di Indonesia disebut semakin positif.
Digelar sejak 2019, IDE Katadata Future Forum 2026 menghadirkan para pembicara berbobot. Mulai dari Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie PhD., mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN Catherine Lian, hingga Vice President of Civility and Partnership at Roblox Tami Bhaumik.
Event ini juga didukung oleh, BYTEPLUS, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, KONEKSI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), WhaTap Labs, PT PLN (Persero), dan PT Pupuk Indonesia (Persero).