Pasar Belum Jenuh, Indonesia Masih Jadi Magnet Investasi Teknologi Global

ChatGPT, Katadata/Desy Setyowati
Teknologi Indonesia
Penulis: Rahayu Subekti
6/7/2026, 15.09 WIB

Indonesia masih menjadi salah satu pasar paling menjanjikan bagi perusahaan teknologi global. Di tengah tingkat penetrasi yang sudah tinggi di sejumlah negara maju, pasar Indonesia dinilai masih menyimpan ruang pertumbuhan yang besar, terutama didorong oleh percepatan transformasi digital di kalangan perusahaan menengah dan besar.

Perusahaan penyedia solusi manajemen teknologi informasi (TI) dan keamanan siber asal India, ManageEngine, melihat Indonesia sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan tertinggi di Asia Tenggara. Pertumbuhan ini ditopang oleh meningkatnya investasi perusahaan pada layanan berbasis cloud, keamanan siber, hingga pengelolaan infrastruktur digital.

Regional Vice President ManageEngine Arun Kumar mengatakan, Indonesia memiliki karakteristik pasar yang berbeda dibandingkan negara-negara yang tingkat adopsi teknologinya sudah lebih matang, seperti Singapura.

"Untuk Indonesia, kami melihat adopsi yang sangat baik di perusahaan menengah dan besar. Laju pertumbuhannya masih cukup tinggi dibandingkan negara atau pasar lain," kata Arun dalam sesi Media Roundtable ManageEngine Southeast Asia User Conference 2026 di Jakarta, Senin (6/7).

Menurut dia, permintaan terbesar saat ini datang dari solusi observability, endpoint management, dan IT service management (ITSM). Selain itu, kebutuhan terhadap solusi keamanan siber meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Peningkatan kebutuhan itu sejalan dengan bertambah kompleksnya operasional teknologi informasi di berbagai organisasi. Perusahaan kini tidak hanya membutuhkan sistem untuk memantau infrastruktur digital, tetapi juga mengelola perangkat kerja, layanan TI, serta keamanan siber secara terpadu.

Adopsi Cloud Mulai Bergeser

Selain di sektor swasta, perubahan mulai terlihat di sektor publik yang selama bertahun-tahun masih mengandalkan infrastruktur lokal atau on-premises.

Arun mengatakan adopsi cloud di Indonesia menunjukkan tren yang semakin kuat, termasuk di instansi pemerintah dan organisasi sektor publik.

"Adopsi cloud juga mulai meningkat pesat. Sebelumnya sebagian besar sektor publik masih menggunakan sistem on-premises, tetapi sekarang kondisinya mulai berubah," ujarnya.

Temuan itu sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang mendorong percepatan transformasi digital nasional. Dalam dokumen Strategi Nasional Pemerintahan Digital (SPBE), pemerintah menargetkan peningkatan integrasi layanan digital serta pemanfaatan infrastruktur komputasi yang lebih efisien dan terintegrasi.

Perusahaan Cari Platform yang Terintegrasi

Pertumbuhan bisnis ManageEngine di Indonesia tidak hanya berasal dari pelanggan baru, tetapi juga dari pelanggan lama yang memperluas penggunaan produk.

Jika sebelumnya perusahaan umumnya hanya menggunakan satu atau dua solusi, kini rata-rata pelanggan di Indonesia telah mengoperasikan dua hingga tiga produk sekaligus.

Menurut Arun, tren itu mencerminkan perubahan kebutuhan perusahaan yang mulai menginginkan platform yang lebih terintegrasi dibandingkan menggunakan banyak aplikasi yang berdiri sendiri.

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi organisasi saat ini adalah penggunaan berbagai tools yang terpisah, sehingga operasional menjadi terfragmentasi. Kondisi ini mendorong perusahaan mencari solusi yang mampu mengintegrasikan monitoring, endpoint management, IT service management, hingga keamanan siber dalam satu ekosistem.

Sebagai contoh, pelanggan yang sebelumnya hanya menggunakan solusi pemantauan infrastruktur kini mulai mengintegrasikannya dengan sistem manajemen layanan TI maupun endpoint management. Sementara itu, pengguna endpoint management juga mulai menambahkan fitur keamanan sehingga berbagai fungsi dapat dijalankan melalui satu agen di perangkat.

Arun menilai pendekatan terintegrasi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan perusahaan di Indonesia.

Indonesia Tetap Menarik bagi Vendor Teknologi Global

Besarnya peluang pasar Indonesia juga tecermin dari langkah ManageEngine yang berencana memperluas jaringan mitra di dalam negeri. Perusahaan akan memperkuat kerja sama dengan system integrator, value-added reseller (VAR), dan managed service provider (MSP), sembari mempertahankan distributor utama yang telah ada.

Strategi tersebut ditujukan untuk memperluas jangkauan layanan sekaligus mempercepat akuisisi pelanggan baru di berbagai wilayah Indonesia.

Optimisme terhadap pasar Indonesia juga sejalan dengan besarnya potensi ekonomi digital nasional. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menunjukkan Indonesia tetap menjadi pasar digital terbesar di Asia Tenggara dari sisi nilai ekonomi digital, didorong oleh pertumbuhan berbagai layanan berbasis teknologi.

Dengan tingkat adopsi teknologi yang terus meningkat, migrasi cloud yang semakin luas, serta kebutuhan keamanan siber yang kian besar, Indonesia masih dipandang sebagai salah satu pasar yang belum jenuh bagi perusahaan teknologi global.

"Kami cukup optimistis terhadap pertumbuhan di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara. Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat baik di kawasan ini," kata Arun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti