Talenta Digital Jadi Kunci Indonesia Naik Kelas di Era AI

ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/wsj.
15/7/2026, 10.15 WIB

Transformasi digital Indonesia terus menunjukkan kemajuan, ditandai dengan meningkatnya pemerataan infrastruktur dan aktivitas ekonomi digital di berbagai daerah. Namun, di balik capaian tersebut, laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 yang dihadirkan oleh East Ventures bersama Katadata Insight Center menyoroti tantangan mendesak: kualitas talenta digital yang belum berkembang secepat laju transformasi digital.

Terlepas dari tantangan tersebut, EV-DCI 2026 menunjukkan peningkatan yang konsisten. Sebanyak 37 dari 38 provinsi mencatat peningkatan skor daya saing digital, sementara 47 dari 50 indikator penyusun indeks juga mengalami perbaikan.

Median skor EV-DCI naik dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026, mencerminkan transformasi digital yang semakin merata di berbagai wilayah. Jika dirangkum sejak pertama kali EV-DCI dihadirkan pada 2020, rata-rata skor daya saing digital provinsi meningkat lebih dari 50%. 

Meski demikian, kesenjangan antarwilayah masih menjadi tantangan. EV-DCI mencatat selisih skor hampir 60 poin antara provinsi dengan daya saing digital tertinggi dan terendah. Artinya, daerah yang sudah lebih maju masih bertumbuh lebih cepat dibandingkan wilayah yang masih tertinggal.

Di tengah perbaikan pada hampir seluruh indikator digital, justru pilar sumber daya manusia (SDM) menjadi satu-satunya komponen yang mengalami penurunan pada EV-DCI 2026, yakni sebesar 2,5 poin. Temuan ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital belum diimbangi oleh kesiapan talenta yang mampu memanfaatkan teknologi secara optimal.

Penilaian tersebut mencakup indikator jumlah mahasiswa, dosen, program studi di bidang digital, hingga indeks literasi digital. Kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi berkembang lebih cepat dibandingkan dengan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkannya secara produktif.

Kesenjangan talenta digital masih lebar

Kebutuhan akan talenta digital semakin mendesak seiring dengan pesatnya pemanfaatan teknologi di Indonesia. Dengan jumlah pengguna internet yang telah mencapai 229,4 juta jiwa, pemanfaatan internet untuk aktivitas ekonomi turut meningkat secara signifikan.

Penggunaan media sosial sebagai sarana penjualan oleh pelaku usaha juga tercatat naik 20,7 poin, sejalan dengan pertumbuhan sektor jasa keuangan sebesar 7,9% yang mencerminkan semakin dalamnya inklusi keuangan digital.

Dengan masuknya kita ke era kecerdasan artifisial (AI), kebutuhan akan talenta digital semakin mendesak. Indonesia kini termasuk dalam sepuluh negara dengan jumlah pengguna AI generatif terbesar di dunia. Namun, belanja riset dan pengembangan (R&D) masih sekitar 0,3% dari PDB, jauh di bawah negara-negara pemimpin AI.

Padahal, AI berpotensi meningkatkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga 12 persen atau sekitar US$366 miliar apabila didukung oleh SDM yang mampu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi tersebut.

Menanggapi temuan tersebut, CEO MySkill, Angga Fauzan, menilai bahwa persoalan utama bukan hanya terletak pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada pemerataan akses informasi dan kemampuan menyederhanakan perkembangan teknologi agar lebih mudah dipahami masyarakat.

“Salah satu tantangannya adalah belum meratanya penyebaran informasi tentang teknologi terbaru. Selain itu, menerjemahkan teknologi yang terus berubah menjadi informasi yang mudah dipahami dan praktikal bagi masyarakat juga masih menjadi tantangan besar,” terang Angga.

Angga menambahkan bahwa kesenjangan keterampilan (skill gap) antara lulusan pendidikan formal dan kebutuhan industri juga dipengaruhi oleh lambatnya adaptasi kurikulum terhadap perubahan dunia kerja.

Dalam konteks tersebut, ia melihat bootcamp dan platform edutech dapat berperan sebagai jembatan yang lebih adaptif dalam membekali talenta dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.

"Pendidikan formal umumnya membutuhkan waktu untuk mengubah kurikulum sesuai dengan perkembangan industri. Sementara MySkill mampu mengajarkan skill terbaru bersama praktisi senior lebih cepat, baik melalui pelatihan intensif maupun konten on-demand yang dapat diakses secara luas,” imbuh Angga.

"Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam membangun fondasi digital. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengembangan talenta berjalan seiring dengan laju inovasi teknologi. Hal ini membutuhkan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri untuk mempercepat upskilling dan reskilling, memperkuat kompetensi AI, serta menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Dengan talenta yang kompetitif, Indonesia tidak hanya dapat menjadi pasar bagi teknologi digital, tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat global," kata Melisa Irene, Partner East Ventures.

Laporan EV-DCI 2026 dapat diunduh di east.vc/DCI.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.