DBS: Ledakan AI Global Diprediksi Dongkrak Permintaan Nikel Indonesia

Antara Foto/Nova Wahyudi
Ilustrasi. DBS menjelaskan tren AI kini menjadi salah satu perubahan struktural yang membentuk lanskap ekonomi global.
Penulis: Rahayu Subekti
Editor: Agustiyanti
21/7/2026, 10.35 WIB

Lonjakan investasi global di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan menjadi katalis bagi perekonomian Indonesia. Bank DBS Indonesia menilai perkembangan AI akan mendongkrak permintaan nikel dan mineral strategis, yang berpotensi mengerek pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pertumbuhan investasi AI diperkirakan akan meningkatkan permintaan terhadap berbagai komoditas strategis Indonesia sehingga menjadi salah satu katalis positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka menengah," kata Head of Market Intelligence DBS Indonesia Boy Suhendry dalam keterangan tertulis, Senin (21/7).

DBS menjelaskan tren AI kini menjadi salah satu perubahan struktural yang membentuk lanskap ekonomi global. Selain AI, pergeseran rantai pasok dunia dan meningkatnya kebutuhan terhadap mineral strategis juga menjadi faktor yang diperkirakan menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah.

DBS menilai Asia memiliki posisi penting dalam rantai pasok industri masa depan. Kawasan ini menjadi pusat produksi semikonduktor, sementara Indonesia memiliki keunggulan sebagai pemasok berbagai mineral kritis seperti nikel, tembaga, dan bauksit yang dibutuhkan industri teknologi.

Di sisi lain, Indonesia juga dinilai memiliki daya tahan ekonomi yang relatif kuat berkat konsumsi domestik yang besar. Selain itu juga ketergantungan terhadap ekspor yang lebih rendah dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

AS dan Cina Berbeda Strategi AI

Dalam laporan yang sama, DBS menilai Amerika Serikat dan Cina sama-sama menjadi pemain utama dalam perkembangan AI. Namun keduanya memiliki pendekatan yang berbeda.

Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group DBS Indonesia Djoko Sulistyo mengatakan, Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi AI. Sementara itu, Cina dinilai lebih cepat mengimplementasikan AI ke berbagai sektor industri sehingga mampu meningkatkan produktivitas.

"Amerika Serikat masih menjadi pemimpin dalam inovasi teknologi AI. Tiongkok berhasil mengakselerasi pemanfaatan AI ke berbagai sektor industri sehingga meningkatkan produktivitas, sementara Asia, termasuk Indonesia, memperoleh manfaat dari pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional," ujar Djoko.

DBS berpandangan kombinasi antara meningkatnya investasi AI global, hilirisasi industri, bonus demografi, serta kuatnya konsumsi domestik akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Khususnya di tengah ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti