Hacker dari 13 Negara Akan Adu Keahlian di Bali, dari Cambridge hingga UI
Indonesia akan menjadi tuan rumah kompetisi keamanan siber internasional Country to Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026 yang akan digelar di Bali pada 10–14 Agustus. Ajang ini akan mempertemukan para talenta keamanan siber atau ethical hacker, yang terdiri dari mahasiswa dan peneliti keamanan siber dari berbagai negara untuk menguji kemampuan teknis dalam menghadapi berbagai skenario ancaman digital.
Ethical hacker atau white hat hacker adalah profesional keamanan siber yang dipekerjakan untuk meretas sistem atau jaringan komputer dengan izin resmi dari pemiliknya. Tujuannya, mengidentifikasi celah atau kelemahan keamanan sebelum dieksploitasi oleh peretas jahat atau black hat hacker, sehingga sistem dapat diperbaiki dan diperkuat
Kompetisi tersebut akan diikuti 81 peserta dari 13 negara, yakni Indonesia, Jepang, Australia, Hong Kong, Singapura, Bangladesh, Kamboja, Inggris, Kazakhstan, Laos, Filipina, Spanyol, dan Amerika Serikat.
Ajang ini juga menghadirkan perwakilan dari sejumlah perguruan tinggi dunia, di antaranya University of Cambridge, Keio University Jepang, Royal Holloway University of London, Edith Cowan University Australia, The University of Melbourne, Cambodia Academy of Digital Technology, National University of Laos, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Indonesia (UI).
Indonesia menjadi tuan rumah C2C-CTF 2026 melalui kerja sama Universitas Indonesia yang menggandeng Universitas Udayana sebagai mitra pelaksana di Bali. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendukung kompetisi ini.
Penyelenggaraan ini menjadi capaian penting karena sebelumnya kompetisi tersebut digelar di sejumlah universitas terkemuka dunia, seperti Royal Holloway University of London, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Keio University Jepang, Edith Cowan University Australia, dan Northeastern University di Boston.
Menteri Komdigi Meutya Hafid menilai penyelenggaraan kompetisi itu menjadi momentum penting untuk meningkatkan kapasitas Indonesia menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks akibat dinamika geopolitik global.
"Dengan ketegangan dunia seperti ini, serangannya juga semakin bertambah. Ketika negara-negara tidak bersatu di dunia ini, tantangannya menjadi lebih berat lagi karena serangan siber terus berkembang dan lintas negara," ujar Meutya saat menerima audiensi Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia Kemas Ridwan Kurniawan di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta Pusat, Rabu (22/7).
Menurut Meutya, Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keamanan ruang digital.
Saat ini lebih dari 220 juta pengguna internet Indonesia terhubung dalam ekosistem digital yang membutuhkan perlindungan melalui penguatan teknologi, tata kelola, dan sumber daya manusia.
"Indonesia sebagai pengguna digital salah satu terbesar di dunia tidak hanya membutuhkan kemampuan sistem keamanan, tetapi juga talenta yang mampu menghadapi tantangan keamanan siber global," ujarnya.
Oleh karena itu, pengembangan talenta menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan siber nasional. Kementerian Komdigi pun mendukung penyelenggaraan C2C-CTF 2026 yang mempertemukan mahasiswa dan peneliti keamanan siber dari berbagai negara untuk bertukar pengetahuan sekaligus menguji kemampuan teknis menghadapi berbagai skenario ancaman digital.
Kompetisi tersebut merupakan bagian dari pengembangan Cyber Security Center of Excellence yang dibangun melalui kerja sama hibah Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).
Program itu telah berjalan selama enam tahun dengan Universitas Indonesia sebagai pelaksana dan Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai mitra pemerintah dalam pengembangannya.
Meutya menilai kepercayaan internasional kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah C2C-CTF menunjukkan meningkatnya kapasitas nasional di bidang keamanan siber.
Menurutnya, Indonesia perlu terus membangun ekosistem yang menghubungkan pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas teknologi.
"Kompetisi internasional seperti ini menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan dan talenta yang dapat bersaing di tingkat global. Tantangan keamanan siber tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi membutuhkan kerja sama lintas negara," kata Meutya.