Viral Sinyal Turun ke 2G, Pakar Sebut Link Phishing Tetap Jadi Ancaman Utama
Jaringan seluler 2G kembali menjadi sorotan setelah beredar unggahan di media sosial yang mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai sinyal ponsel yang tiba-tiba beralih dari 4G menjadi 2G. Terutama, ketika menerima SMS yang mengatasnamakan bank dan meminta validasi data.
Unggahan tersebut mengaitkan kondisi itu dengan modus fake BTS, yakni perangkat pemancar palsu yang digunakan pelaku untuk mengirim SMS phishing. Phising adalah metode penipuan untuk mencuri data pribadi, kata sandi, dan informasi keuangan dengan menyamar sebagai institusi resmi.
Pakar menilai masyarakat memang perlu waspada jika menemukan kondisi tersebut. Namun, mereka mengingatkan bahwa keberhasilan kejahatan digital bukan semata-mata karena ponsel terhubung ke jaringan 2G, melainkan karena korban mengklik tautan phishing atau menyerahkan data pribadi kepada pelaku.
Jaringan 2G Masih Dimanfaatkan dalam Modus Fake BTS
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan kemunculan jaringan 2G dapat berkaitan dengan modus fake BTS. Meski demikian, pelaku sebenarnya dapat memanfaatkan berbagai jenis jaringan seluler.
"Ya betul, itu bagian dari modus fake BTS. Tapi sebenarnya bukan hanya seolah muncul jaringan 2G, tapi bisa saja 3G, 4G maupun 5G. Hanya saja memang 2G kan sudah bisa kirimkan SMS sehingga tidak perlu 5G. Perangkat fake BTS sekarang juga murah dan bisa jadi menggunakan perangkat lama," kata Heru kepada Katadata.co.id, Rabu (29/7).
Menurut Heru, jaringan 2G masih digunakan oleh sebagian operator di Indonesia. Hal ini karena masih ada masyarakat, terutama di wilayah pedesaan, yang menggunakan ponsel generasi lama.
"Sekarang masih ada operator yang pakai 2G. Karena katanya masih banyak orang di desa pakai ponsel 2G," ujarnya.
Karena itu, ia menilai pemerintah perlu menetapkan batas waktu penghentian layanan 2G sebagaimana telah dilakukan sejumlah negara lain.
"Pemerintah harus memberikan deadline sampai kapan 2G bisa dipakai karena beberapa negara sudah melakukan switch off 2G sejak hampir tujuh tahunan lalu," kata Heru.
Meski demikian, Spesialis Keamanan Teknologi Vaksincom Alfons Tanujaya menilai masyarakat sebaiknya tidak menjadikan perubahan jaringan dari 4G ke 2G sebagai indikator utama adanya serangan siber. Menurutnya, ancaman terbesar justru berasal dari tautan phishing yang dikirim pelaku, terlepas dari jaringan seluler yang digunakan.
"Agak bingung juga dengan pernyataan kalau HP berubah dari 4G jadi 2G jangan buru-buru buka m-banking. Apa hubungannya?" kata Alfons kepada Katadata.co.id, Rabu (29/7).
Ia menjelaskan, faktor yang menentukan keberhasilan kejahatan digital bukanlah perubahan jaringan dari 4G ke 2G. Hal ini melainkan apakah korban mengklik tautan phishing yang dikirim pelaku.
"Intinya jangan membuka m-banking dari link phishing. Jadi tidak ada hubungannya dengan 4G menjadi 2G. Andaikan benar ada fake BTS yang membuat jaringan turun ke 2G, tetapi tidak mengirimkan link phishing atau link itu tidak diklik, ya tetap aman," ujarnya.
Menurut Alfons, narasi yang terlalu menitikberatkan pada perubahan sinyal justru berpotensi menimbulkan pemahaman yang keliru. Sebab, hal itu dapat membuat masyarakat merasa aman ketika menerima SMS mencurigakan saat ponsel masih berada di jaringan 4G atau 5G.
"Yang lebih penting adalah waspada terhadap link phishing. Mau di 2G, 3G, 4G, atau 5G tetap tidak boleh klik link phishing," katanya.
Ia menambahkan, pelaku kejahatan siber tidak harus memanfaatkan perpindahan jaringan ke 2G untuk melancarkan aksinya. Menurutnya, framing ini seakan-akan menyiratkan 4G atau 5G lebih aman jika meng-klik link phishing.
“Padahal SMS spoofing tidak harus membuat jaringan turun ke 2G supaya bisa masuk ke ponsel. Akibatnya orang bisa merasa aman saat menerima SMS spoofing di jaringan 4G, lalu tetap mengklik link phishing. Itu yang berbahaya," ujar Alfons.
SMS Phishing Bisa Menyatu dengan Pesan Resmi Bank
Alfons juga mengingatkan bahwa pesan phishing dapat muncul dalam percakapan SMS yang sama dengan pesan resmi dari bank. Hal itu dimungkinkan karena sistem SMS masih menggunakan teknologi lama yang memungkinkan pemalsuan identitas pengirim atau SMS spoofing.
Akibatnya, korban dapat mengira pesan tersebut benar-benar berasal dari bank. Hal ini karena muncul dalam thread yang sama dengan SMS resmi yang pernah diterima sebelumnya.
"Jangan klik link phishing sekalipun dikirimkan oleh bank yang bersangkutan di folder SMS Anda. SMS phishing bisa masuk ke dalam folder pesan yang sama dengan SMS dari bank yang asli karena sistem SMS yang jadul memungkinkan SMS phishing dikelompokkan pada folder yang sama dengan SMS otentik dari bank,” katanya.
Karena itu, Alfons mengimbau masyarakat untuk melakukan hal berikut setiap kali menerima SMS yang berpotensi menjadi celah penipuan digital:
- Selalu memverifikasi setiap SMS yang diterima
- Tidak meng-klik tautan apa pun yang dikirim melalui pesan singkat
- Mengakses layanan perbankan hanya melalui aplikasi resmi atau alamat situs yang diketik sendiri di peramban