Indonesia dinilai perlu segera mengadopsi teknologi 6G, kripto kuantum, satelit non-terestrial atau non-terrestrial network (NTN), serta memperkuat kapasitas data center agar tidak tertinggal dalam persaingan transformasi digital, khususnya di tengah tren AI.
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno dalam Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026, menyampaikan bahwa konektivitas digital merupakan elemen fundamental untuk mewujudkan transformasi digital nasional. Oleh karena itu, Indonesia harus memiliki fondasi konektivitas yang kuat dan membangun kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat.
"Indonesia harus loncat segera ke 5G, Indonesia harus loncat segera ke kripto kuantum, kemudian Indonesia harus loncat juga ke satelit yang non-terrestrial network, jadi bukan hanya orbital tiga stasiun tetapi juga NTN istilahnya. Kita juga harus loncat ke persediaan data center yang kapasitasnya memenuhi kebutuhan," ujar Sarwoto dalam acara DTI-CX, dikutip dari keterangan pers, Kamis (6/8).
Pada acara itu, ia menyebut Indonesia harus mengadopsi 5G. Namun, pada kesempatan lainnya, Sarwoto menilai Indonesia perlu mulai mempersiapkan adopsi teknologi 6G.
Bulan lalu, Sarwoto mengatakan persiapan menuju teknologi 6G perlu dilakukan mulai sekarang. Dengan demikian, Indonesia memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan berbagai kebutuhan pendukung ketika teknologi tersebut mulai diterapkan secara global.
Meski demikian, persiapan menuju teknologi 6G tidak berarti mengesampingkan pembangunan jaringan 5G yang saat ini masih terus berkembang.
Sementara itu, kripto kuantum adalah teknologi keamanan yang dirancang agar sistem enkripsi tetap aman ketika komputer kuantum sudah mampu memecahkan algoritma kriptografi yang digunakan saat ini.
Komputer kuantum ialah teknologi komputasi yang memanfaatkan prinsip-prinsip mekanika kuantum untuk memproses informasi. Berbeda dengan komputer konvensional yang menggunakan bit, bernilai 0 atau 1, komputer kuantum menggunakan qubit (quantum bit) yang dapat berada dalam kombinasi keadaan 0 dan 1 secara bersamaan (superposition) dan saling terhubung (entanglement), sehingga bisa menyelesaikan jenis perhitungan tertentu jauh lebih cepat.
Kemudian, dikutip dari laman 3GPP, NTN adalah jaringan atau segmen jaringan yang menggunakan Sistem Pesawat Tanpa Awak (UAS) yang beroperasi biasanya pada ketinggian antara 8 dan 50 km, termasuk Platform Ketinggian Tinggi (HAP) atau satelit dalam berbagai konstelasi untuk membawa node relai peralatan transmisi atau stasiun pangkalan.
Dalam acara DTI-CX, Sarwoto juga mengatakan, kebutuhan penyimpanan dan pengelolaan data di Indonesia terus meningkat, tidak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga pemerintah. Oleh karena itu, kapasitas pusat data dinilai perlu terus diperkuat.
Sarwoto menambahkan, Indonesia harus mampu membangun ekosistem digital yang tidak hanya berkembang dari sisi teknologi, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi kedaulatan bangsa.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai pasokan energi menjadi faktor utama yang menentukan kemampuan Indonesia mengembangkan pusat data dan kecerdasan buatan atau AI.
Menurutnya, keunggulan sumber daya energi dan letak geografis Indonesia dapat menjadi modal untuk menjadikan Tanah Air sebagai pusat infrastruktur digital di kawasan ASEAN.
Airlangga mengatakan perkembangan AI, komputasi kuantum, dan ekonomi digital tidak hanya bergantung pada infrastruktur telekomunikasi, tetapi juga pada ketersediaan energi yang memadai. "Quantum computing dan AI tidak bisa didirikan tanpa tanah, tanpa air, dan tanpa energi," kata dia.
Ia menjelaskan Indonesia memiliki keunggulan karena mempunyai beragam sumber energi domestik, mulai dari batu bara, tenaga air, panas bumi, hingga energi surya. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan energi matahari melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya yang didukung hilirisasi silika sebagai bahan baku panel surya.
Menurut Airlangga, pemerintah menargetkan pengembangan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW). Salah satu skemanya ialah memanfaatkan lahan di sekitar 80 ribu desa untuk pembangunan pembangkit skala kecil yang terhubung melalui jaringan listrik pintar atau smart grid.
Ia menilai pembangunan smart grid dan interkoneksi listrik antarpulau menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Selama ini Indonesia telah berhasil membangun konektivitas digital melalui jaringan serat optik bawah laut, namun jaringan listrik nasional dinilai belum terintegrasi dengan baik.
"Kalau kita bisa menghubungkan digital melalui fiber optik, masa energi tidak bisa terhubung antarpulau," ujarnya.
Ia menyebut konektivitas digital Indonesia sudah relatif lengkap. Selain memiliki beberapa titik pendaratan kabel bawah laut internasional, Indonesia juga telah menghubungkan banyak wilayah melalui jaringan fiber optik dan memanfaatkan satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) untuk melayani daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Airlangga menilai hal itu menjadi modal penting untuk menarik investasi pembangunan pusat data yang dibutuhkan AI. Berbeda dengan negara lain yang harus membangun jaringan kabel di daratan, ia mengatakan Indonesia memiliki keuntungan karena sebagian besar koneksi internasional dapat dibangun melalui kabel bawah laut sehingga lebih efisien.
Dalam acara yang sama, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Edwin Hidayat Abdullah juga mengatakan pemerintah memiliki enam strategi untuk memperkuat ekosistem digital Indonesia.
Strategi itu meliputi penguatan konektivitas melalui pemerataan infrastruktur dan jaringan internet hingga ke pelosok daerah, penguatan komunitas dan talenta digital, sinergi lintas sektor sebagai katalisator, menghadirkan investasi untuk infrastruktur dan inovasi, penyusunan regulasi yang menjawab kebutuhan, serta menciptakan pasar yang sehat.
"Kita butuh investasi yang bukan hanya kapital tetapi juga pengetahuan. Kita butuh teknologi yang inovatif, aman, dan bertanggung jawab. Semua investasi ini seharusnya menjadikan satu tujuan," kata Edwin.