Warganet RI Disebut Bikin Meme Politik AS Demi Cuan, Meta: Aturan Kami Jelas

pexels.com
WhatsApp, Facebook, Instagram down
Penulis: Desy Setyowati
14/8/2026, 06.55 WIB

Sejumlah warganet asal Indonesia disebut memanfaatkan grup Facebook bertema politik di Amerika Serikat dan Australia untuk membuat serta menyebarkan konten demi mendapatkan pendapatan dari program monetisasi Meta. Meta menegaskan memiliki aturan untuk mencegah pihak tertentu mengakali sistem demi mendapatkan penghasilan.

Laporan investigasi The Guardian mengungkap sejumlah akun medsos asal Indonesia aktif membuat konten di berbagai grup Facebook yang berkaitan dengan politik Amerika Serikat dan Australia.

Salah satu kreator yang diwawancarai The Guardian, yang disebut dengan nama samaran Adira, mengaku tidak mengikuti politik luar negeri dan tidak mengetahui siapa pemimpin negara yang menjadi target kontennya. Ia mengatakan tujuan membagikan meme adalah mendapatkan uang dari Meta melalui program monetisasi berbasis engagement

Adira aktif mengunggah konten di sejumlah grup Facebook, termasuk grup pendukung Presiden AS Donald Trump, politikus Partai Republik AS JD Vance, veteran militer AS Pete Hegseth, serta grup pendukung senator Australia Pauline Hanson. Ia juga mengunggah gambar yang dibuat dengan kecerdasan artifisial atau AI di sejumlah grup.

"Saya tidak mengikuti politik luar negeri, kami tidak ingin terlibat," kata Adira kepada jurnalis The Guardian. Ia mengatakan para kreator hanya berupaya mendapatkan lebih banyak dolar dan tidak memiliki tujuan untuk mendukung kelompok politik tertentu.

Adira mengatakan Facebook menampilkan rekomendasi grup ketika ia mengunggah sesuatu. Ia kemudian mencari grup lain dengan tema serupa apabila menemukan grup yang memberikan pendapatan bagus.

Dalam kasus Adira, ia menemukan grup pendukung Pauline Hanson dan kemudian mencari grup lain yang berkaitan dengan tokoh tersebut karena menurutnya grup tersebut memberikan penghasilan yang menarik.

Namun, terkadang konten yang dibagikannya tidak sesuai dengan audiens grup. Di grup Team Pauline Hanson, misalnya, Adira pada Juli membagikan unggahan mengenai seorang perempuan Muslim yang meninggalkan Amerika Serikat karena "kebencian Trump terhadap Muslim", alih-alih konten yang dirancang untuk audiens Australia. 

The Guardian juga melaporkan adanya grup Facebook dan WhatsApp yang digunakan para kreator asal Indonesia untuk berbagi informasi mengenai grup yang dapat menjadi sasaran unggahan.

Beberapa grup disebut memiliki "pemimpin" yang menyediakan video dan gambar serta memberikan saran mengenai grup yang layak ditargetkan. Namun, Adira tidak menjelaskan siapa para pemimpin tersebut dan untuk siapa mereka bekerja. 

Meta Tegaskan Punya Aturan Monetisasi

Menanggapi laporan The Guardian tersebut, Meta mengatakan memiliki aturan yang dirancang untuk mencegah orang mengakali sistem demi memonetisasi konten, termasuk konten politik.

"Meta memiliki aturan jelas yang dirancang untuk mencegah orang mengakali sistem kami demi memonetisasi konten, termasuk dalam ranah politik," kata Meta dalam tanggapannya.

Meta menyebut Kebijakan Monetisasi Konten dan Kebijakan Monetisasi Mitra mengharuskan kreator menghasilkan konten yang orisinal dan autentik serta membangun hubungan yang tulus dengan audiens.

Menurut Meta, akun yang mengunggah konten spam, konten yang diproduksi secara massal, konten yang menyesatkan, atau akun yang berupaya meningkatkan interaksi secara artifisial tidak memenuhi syarat untuk memperoleh penghasilan di platform.

Meta mengatakan pihaknya menindak tegas pelanggaran aturan tersebut, termasuk dengan mengeluarkan pihak yang melanggar dari program monetisasi.

Meta juga melarang perilaku tidak autentik yang terkoordinasi serta penggunaan akun palsu atau akun ganda yang bertujuan menyesatkan orang mengenai pihak yang sebenarnya berada di balik suatu konten.

"Kami terus berinvestasi dalam upaya mendeteksi dan menghapus jaringan yang melanggar kebijakan-kebijakan ini," kata Meta.

Meta juga menyatakan terus memperkuat upaya untuk memberikan jangkauan dan peluang monetisasi lebih besar kepada kreator yang mengunggah konten orisinal di Facebook. Dalam keterangan yang diterbitkan pada Maret , Meta mengatakan pihaknya mengurangi jangkauan konten yang tidak orisinal serta menindak konten spam. 

Kreator Kejar Dolar dari Engagement

Founder Drone Emprit Ismail Fahmi menilai fenomena itu berbeda dari pengertian buzzer politik dalam konteks klasik, ketika mereka dibayar oleh politisi. Menurut dia, kreator Indonesia yang membuat konten politik luar negeri tidak selalu bekerja untuk politisi atau pihak tertentu.

"Orang Indonesia ini sebenarnya tidak terlalu peduli dengan politik AS. Mereka menemukan ceruk ekonomi baru, membuat meme politik, engagement tinggi, lalu dapat uang dari monetisasi Facebook," kata Ismail kepada Katadata.co.id, Kamis (13/8).

Menurut Ismail, kreator itu lebih tepat disebut sebagai buzzer yang mendapatkan bayaran dari algoritma. Mereka membuat konten yang berpotensi menghasilkan engagement tinggi, kemudian mendapatkan keuntungan melalui mekanisme monetisasi platform.

Potensi pendapatannya, kata dia, cukup besar, terutama karena kreator menyasar audiens Amerika Serikat yang besar dan bernilai tinggi.

Ismail mengatakan politik menjadi bahan yang efektif untuk menghasilkan engagement karena isu seperti Donald Trump, gerakan MAGA atau Make America Great Again, konflik, kemarahan dan kontroversi dapat mendorong komentar serta penyebaran konten.

"Semakin ramai komentar dan share, makin menarik secara ekonomi. Kreator akhirnya belajar sendiri konten seperti apa yang paling menghasilkan," ujarnya.

Merujuk pada laporan The Guardian itu, menurut dia, kreator tidak harus mempercayai narasi yang dibuatnya atau bahkan tinggal di negara yang menjadi sasaran konten. Selama konflik dan polarisasi menghasilkan engagement dan uang, konten semacam itu akan terus diproduksi.

Namun ia juga menyoroti dampak dari tren ini, yakni ketika kemarahan publik di media sosial akhirnya menjadi ceruk bisnis. Terlebih lagi, jika konten berisi fitnah, doxing dan lainnya yang dilarang oleh hukum, maka kreator bisa terkena masalah. "Hari ini politik AS. Besok sangat mungkin politik Indonesia," ujarnya.

Sepakat dengan Fahmi, Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi menilai fenomena 'pabrik mema' menunjukkan bahwa ekonomi perhatian atau attention economy telah menjadi bisnis global.

Menurut Heru, seseorang tidak harus memahami politik Amerika Serikat untuk mendapatkan uang dari konten politik. Selama konten mampu menghasilkan engagement, sistem algoritma dan program monetisasi dapat memberikan insentif ekonomi.

Heru menilai persoalan yang muncul bukan hanya disinformasi, tetapi juga industrialisasi produksi konten yang sengaja mengejar engagement. Konten yang provokatif, emosional atau memecah belah, menurut dia, berpotensi lebih mudah mendapatkan perhatian.

Jika berlangsung secara masif, fenomena itu dapat memanipulasi persepsi publik, memperkuat polarisasi dan mengaburkan batas antara ekspresi politik dengan konten yang dibuat semata-mata untuk mendapatkan uang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.