Mengukur Peluang Emiten Silika MITI, CUAN, KLAS Kecipratan Cuan dari Tren AI
Indonesia tengah membidik peluang ekonomi dari ledakan industri akal imitasi (AI) global. Hal ini turut membuka prospek bagi emiten yang memiliki bisnis terkait pasir silika, seperti PT Mitra Investindo Tbk (MITI), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk (KLAS).
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria sempat menyampaikan Indonesia memiliki cadangan mineral kritis, termasuk nikel dan pasir silika. Silika atau SiO2 merupakan bahan baku dalam rantai panjang produksi silicon wafer.
Nezar mengatakan, mineral kritis itu perlu dihilirisasi agar memberikan nilai tambah bagi industri teknologi nasional. Dengan begitu, akan meningkatkan daya tawar Indonesia dalam persaingan teknologi global.
Setidaknya ada tiga emiten yang bergerak di sektor silika. Pertama, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) memiliki entitas silika PT Kendawangan Berkah Kersik (KBK), PT Danaau Buntar Kuarsa (DBK), dan PT Kendawangan Prima Silika (KPS) di Ketapang, Kalimantan Barat.
Luas area masing-masing tercatat 2.042,03 hektare, 4.888 hektare, dan 2.965 hektare. Status IUP ketiganya masih eksplorasi. Per kuartal II 2026, biaya eksplorasi tercatat Rp 489 juta untuk KBK, Rp 1,04 miliar untuk DBK, dan Rp 931 juta untuk KPS.
Kedua, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) memiliki entitas silika PT Silika Salut Jaya (SSJ) di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Area yang tercatat seluas 461,49 hektare dengan status IUP eksplorasi dalam proses per Oktober 2024. Data biaya eksplorasi belum tersedia.
Ketiga, PT Pelayaran Kurnia Lautan Semesta Tbk (KLAS) memiliki PT Karya Cipta Lahanindo (KCL) di Belitung Timur. Luas area tercatat 43 hektare dengan status IUP operasi produksi dan potensi produksi 150 ribu metrik ton per tahun.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai booming AI dapat menjadi katalis struktural bagi komoditas silika Indonesia. Namun, efeknya terhadap emiten silika kemungkinan baru terasa dalam jangka menengah hingga panjang.
Menurut Nafan, ekspansi AI akan mendorong pembangunan data center, jaringan fiber optik, perangkat elektronik hingga industri semikonduktor. Ekosistem tersebut membutuhkan berbagai produk berbasis silika maupun silicon.
Head of Research Analis Korea Investment Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi mengatakan booming AI memang menciptakan permintaan baru terhadap silika. Namun, pertumbuhan ini tidak serta-merta berbanding lurus dengan pertumbuhan industri AI.
Menurut Wafi, nilai tambah terbesar berada pada proses pemurnian dan wafer fabrication, bukan ekstraksi pasir mentah. Oleh karena itu, jika Indonesia hanya menjadi pemasok pasir silika mentah, nilai yang dapat ditangkap dari pertumbuhan industri AI global relatif kecil.
Peluang yang bisa didapat langsung emiten silika dalam jangka pendek justru berasal dari pembangunan AI Factory dan data center di dalam negeri. Infrastruktur ini membutuhkan berbagai material konstruksi, termasuk produk berbasis silika seperti kaca dan material konstruksi.
Salah satu proyek yang disorot yakni Zankore by Indosat, hasil kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA. AI Factory akan dibangun di Batang, Jawa Tengah, dengan kapasitas hingga 1 gigawatt dalam tiga tahun ke depan. Tahap awal ditargetkan dimulai pada paruh pertama 2027 dengan kapasitas sekitar 200 megawatt.
Ledakan pembangunan data center juga mulai terlihat. Berdasarkan data Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), kapasitas data center Indonesia diproyeksikan melonjak dari sekitar 274 MW pada 2023-2026 menjadi lebih dari 2.000 MW pada 2029. Pertumbuhan ini didorong investasi asing, munculnya Batam sebagai hub data center baru dan peralihan industri menuju infrastruktur yang siap mendukung AI.
Tantangan Besar Hilirisasi Silika
Meski peluang terbuka, kepemilikan cadangan pasir silika bukan jaminan emiten langsung menikmati pertumbuhan industri AI.
Nafan mengingatkan bahwa tidak semua pasir silika dapat digunakan untuk membuat wafer semikonduktor. Industri ini membutuhkan material dengan tingkat kemurnian sangat tinggi dan spesifikasi impuritas yang ketat. Untuk mencapainya diperlukan teknologi pemurnian, fasilitas pengolahan, quality control, sertifikasi, investasi modal serta perjanjian pembelian dengan pengguna industri.
Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama juga menilai perusahaan yang paling berpeluang memperoleh manfaat dari booming AI bukan sekadar perusahaan yang menjual bahan mentah, melainkan perusahaan yang mampu melakukan value-added processing.
Karena itu, investor perlu melihat lebih jauh daripada sekadar cadangan mineral. Kapasitas produksi, fasilitas pengolahan, rencana ekspansi, kualitas produk serta kemampuan membangun hubungan dengan industri hilir menjadi faktor penting.
Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma menilai Indonesia memang memiliki keunggulan sumber daya, termasuk pasir silika. Namun, keunggulan tersebut baru memberikan manfaat besar apabila diubah menjadi kemampuan industri.
Perusahaan silika Indonesia, menurut Hendra, perlu bertransformasi dari resource company menjadi technology material company melalui investasi teknologi, peningkatan kualitas pemrosesan, R&D, strategic partnership dengan pemain global serta kemampuan memenuhi standar dan konsistensi kualitas industri semikonduktor.
Dengan demikian, rantai industri yang diharapkan bukan berhenti pada ekspor pasir silika mentah. Rantai tersebut harus berkembang dari pasir silika menuju pemurnian, silicon-based materials, wafer, komponen, chip hingga AI infrastructure.
AI Factory Jadi Peluang Utama Emiten Silika
Di tengah tantangan hilirisasi tersebut, pembangunan AI Factory dan data center dinilai menjadi jalur yang lebih dekat bagi Indonesia untuk menangkap manfaat ekonomi AI.
Hendra mengatakan pembangunan infrastruktur AI membutuhkan power infrastructure yang reliable dan scalable, energi yang kompetitif dan semakin berkelanjutan, konektivitas domestik serta internasional, arsitektur data center yang siap AI dan teknologi pendinginan canggih.
Pembangunan data center juga telah menciptakan permintaan terhadap berbagai industri pendukung. Emiten silika berpotensi mendapatkan manfaat lebih awal, terutama jika memiliki produk yang dapat masuk ke sektor kaca, konstruksi dan material infrastruktur. Wafi menilai hubungan tersebut lebih tangible dibandingkan ekspektasi Indonesia segera menjadi pemasok material semikonduktor global.
Pemerintah juga melihat AI Factory sebagai bagian penting dari upaya mengubah posisi Indonesia dalam rantai nilai industri AI. Infrastruktur komputasi dalam negeri memungkinkan perusahaan, startup, perguruan tinggi hingga pemerintah mengakses kapasitas komputasi AI tanpa sepenuhnya bergantung pada fasilitas di luar Indonesia.
Dengan demikian, peluang MITI, CUAN, dan KLAS dari tren AI tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya cadangan pasir silika. Tantangan utamanya yakni kemampuan masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi, sementara dalam jangka lebih dekat, pembangunan data center dan AI Factory membuka permintaan terhadap material konstruksi dan produk berbasis silika.
Indonesia pada akhirnya perlu melewati rantai nilai tersebut jika ingin mengubah kekayaan sumber daya menjadi bagian dari ekonomi AI, bukan sekadar menjadi pemasok bahan mentah.