Investor Asing Mulai Syaratkan Data Center Pakai Energi Terbarukan
Industri data center Indonesia menghadapi tuntutan baru dari investor dan pengguna global. Perusahaan atau pembeli dari sejumlah negara termasuk mulai memasukkan penggunaan energi terbarukan sebagai persyaratan dalam pengadaan layanan data center dalam request for proposal (RFP).
“Kalau pembeli -nya itu berasal dari negara berbasis di Eropa Barat atau di Amerika Utara, biasanya di RFP-nya sudah dibilang, kalian harus memasok energi terbarukan,” kata Hendra dalam dalam acara peluncuran penelitian DBS Indonesia bertajuk The Sustainability Shift: Indonesia's Industrial Landscape in Five Key Sectors, Opportunities and Risks di Jakarta, Kamis (20/8).
Menurutnya, tuntutan tersebut membuat banyak anggota IDPRO mulai menggunakan Sertifikat Energi Terbarukan atau REC. Namun, permasalahan baru muncul karena permintaan REC saat ini lebih besar dibandingkan pasokannya.
Tuntutan energi hijau dari investor global juga sejalan dengan target keinginan industri data center nasional. Hendra mengungkapkan sekitar 60% dari 23 anggota IDPRO telah memahami kepatuhan ESG dengan target mencapai net zero emisi pada tahun 2030.
Menurutnya, target 2030 sudah semakin dekat sehingga anggota IDPRO mulai melakukan berbagai upaya untuk menekan emisi. Salah satunya dengan membeli REC dari PLN.
“ Keberlanjutan ini memang menjadi yang terdepan dan terpusat dari apa yang kami kerjakan,” ujarnya.
Kebutuhan energi hijau menjadi semakin penting karena perkembangan AI membuat konsumsi energi fasilitas data center meningkat. Hendra mengatakan pada tahun 2016 satu rak server umumnya belum menggunakan daya di atas 10 kilowatt (kW). Kini, server AI seperti Nvidia Grace Blackwell 200 dapat mencapai 135 kW per rak.
Hendra juga mengatakan industri data center kini semakin haus kekuasaan sekaligus haus air. Perubahan teknologi server membuat sistem bergeser dari pendingin udara menuju pendingin cair .
Tuntutan energi hijau tersebut sejalan dengan perubahan data pusat industri yang mendorong perkembangan AI. Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan sektor teknologi, media dan telekomunikasi atau TMT kini mengalami pergeseran dari konektivitas bisnis menuju pusat data ramah lingkungan.
Menurutnya, dorongan AI membuat transmisi data meningkat ke level baru. Kondisi tersebut juga menjadikan pusat daya menjadi platform penting untuk mempercepat penetrasi AI di Indonesia.
“Ini menjadi salah satu peluang jika kita memiliki energi atau pasokan energi hijau yang cukup untuk negeri kita,” ujarnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, William melihat peluang pengembangan energi terbarukan seperti solar photovoltaic (solar PV) dan Battery Energy Storage System (BESS).
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang mengembangkan panel surya karena karakteristiknya sebagai negara tropis. Pengembangan solar PV dan BESS juga dinilai dapat memberikan nilai tambah bagi industri hilir pertambangan sekaligus data center.