AI Mulai Jadi Mesin Cuan Baru Emiten Indonesia, Ini Peta Pemainnya

AI, Katadata/Desy Setyowati
Emiten AI
Penulis: Rahayu Subekti
31/8/2026, 14.28 WIB

Ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) mulai membuka sumber pendapatan baru bagi sejumlah emiten di Indonesia. Peluang ini tidak hanya mengalir kepada perusahaan data center, tetapi juga operator telekomunikasi, penyedia jaringan fiber, perusahaan teknologi hingga emiten listrik.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan perkembangan AI menciptakan rantai nilai baru yang mencakup infrastruktur komputasi, cloud, jaringan fiber optik, telekomunikasi, model bahasa besar alias large language model (LLM) hingga aplikasi berbasis AI.

Menurut dia, dampak AI terhadap pendapatan perusahaan akan bergantung pada posisi masing-masing emiten dalam rantai nilai itu. “Investor sebaiknya tidak hanya bertanya emiten mana yang masuk ke bisnis AI, tetapi jauh lebih penting bertanya di titik mana emiten itu menangkap economic value dari pertumbuhan AI,” kata Nafan kepada Katadata.co.id, Minggu (30/8).



Ia membagi peluang tersebut ke dalam sejumlah lapisan. Data center memperoleh manfaat paling langsung karena peningkatan kebutuhan AI meningkatkan kebutuhan GPU, server, listrik, pendingin, rack dan konektivitas.

Sementara operator telekomunikasi, perusahaan teknologi dan penyedia jaringan fiber menangkap nilai ekonomi AI melalui mekanisme berbeda, mulai dari pertumbuhan traffic, cloud dan enterprise services, peningkatan transaksi, efisiensi biaya hingga penyediaan infrastruktur konektivitas.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan dampak AI terhadap pendapatan juga akan berbeda berdasarkan model bisnis masing-masing perusahaan. Menurut dia, monetisasi AI untuk sebagian emiten kemungkinan belum langsung material dalam jangka pendek.

“Yang perlu dicermati bukan sekadar emiten yang membawa narasi AI, tetapi siapa yang paling cepat mengubah AI adoption menjadi revenue baru, efisiensi biaya dan return atas capex yang terukur,” ujar Elandry.

Indosat Punya Banyak Titik Monetisasi AI

Salah satu emiten yang dinilai memiliki eksposur cukup luas terhadap rantai nilai AI adalah PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT). Nafan mengatakan Indosat memiliki eksposur mulai dari konektivitas, cloud, AI infrastructure hingga AI application melalui ekosistem Lintasarta, pengembangan GPU Merdeka serta Sahabat-AI bersama GoTo.

Dengan semakin banyak perusahaan membutuhkan kemampuan komputasi AI, Indosat berpotensi memperoleh pendapatan dari GPU-as-a-Service, cloud, storage, cybersecurity, enterprise AI solutions dan konektivitas.

“AI bagi ISAT tidak harus dimonetisasi dengan menjual LLM secara langsung, tetapi dapat melalui berbagai layanan yang berada di sepanjang rantai nilai AI,” kata Nafan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam laporan pada 28 Agustus pun menyampaikan, Zankore, perusahaan patungan yang melibatkan Indosat, Ooredoo, Nvidia dan Nokia, diproyeksikan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi Indosat.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kontribusi laba entitas asosiasi tersebut kepada Indosat mencapai Rp 405 miliar hingga Rp 810 miliar pada 2027 dan meningkat menjadi Rp 1 triliun hingga Rp 2 triliun pada 2028. Estimasi itu menggunakan asumsi kepemilikan Indosat sebesar 20% - 40% di Zankore.

Zankore akan bergerak di bisnis neocloud dan menargetkan kapasitas tahap pertama 200 megawatt (MW) menggunakan GPU Nvidia GB300 pada semester I 2027.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kapasitas 200 MW tersebut setara sekitar 102.857 GPU. Zankore diproyeksikan membukukan pendapatan US$1,95 miliar pada 2027 dan meningkat menjadi US$2,6 miliar pada 2028.

Permintaan terhadap kapasitas tersebut diperkirakan sebagian besar berasal dari luar negeri, terutama perusahaan AI global. Pelanggan asal Cina diperkirakan menyumbang sekitar 30%-40% dari permintaan.

Dengan kapasitas yang telah dikontrak dan utilisasi yang diarahkan mencapai 100% sejak awal, bisnis Zankore dinilai berpotensi memberikan tambahan kontribusi terhadap kinerja Indosat.

GoTo Cuan AI Lewat Transaksi dan Efisiensi

Berbeda dengan Indosat, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tidak perlu menjadi pemilik GPU atau data center untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari AI.

Menurut Nafan, kekuatan GoTo berada pada ekosistem digital dan basis pengguna yang besar. AI dapat digunakan untuk meningkatkan personalisasi, rekomendasi, layanan pelanggan, deteksi fraud, optimasi logistik hingga conversion rate di Gojek, GoPay dan Tokopedia.

Dengan model tersebut, monetisasi AI bagi GoTo bersifat lebih tidak langsung. AI dapat meningkatkan engagement dan conversion, yang kemudian berpotensi meningkatkan transaksi, gross transaction value (GTV) dan pendapatan sekaligus menurunkan biaya operasional.

Oleh karena itu, Nafan menilai AI bagi GoTo lebih tepat dipandang sebagai earnings accelerator atau pendorong operating leverage, bukan sebagai pure-play AI infrastructure.

Elandry juga menilai GoTo melalui Sahabat-AI lebih berpotensi menciptakan nilai melalui efisiensi operasional, pengalaman pelanggan dan monetisasi ekosistem yang sudah ada.

WIFI Jadi 'Jalan Tol Digital' AI

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) berada pada lapisan yang berbeda. Perusahaan dinilai memiliki posisi pada connectivity infrastructure yang dibutuhkan ketika penggunaan AI meningkat.

Nafan menyebut WIFI sebagai AI connectivity atau picks-and-shovels play. Perusahaan tidak perlu memenangkan persaingan LLM untuk mendapatkan manfaat dari pertumbuhan AI.

Pertumbuhan AI akan meningkatkan kebutuhan transfer data dalam jumlah besar antara pengguna, cloud, data center dan pusat komputasi. Kebutuhan tersebut mencakup backbone fiber, subsea cable, inter-data-center connectivity, edge infrastructure dan bandwidth.

Oleh karena itu, WIFI berpotensi menangkap nilai ekonomi AI melalui penyewaan fiber, bandwidth dan backbone connectivity. “WIFI mungkin tidak memperoleh AI premium sebesar operator data center, tetapi dapat menjadi salah satu penyedia ‘jalan tol digital’ yang diperlukan agar ekosistem AI dapat berjalan,” kata Nafan.

Namun, Elandry mengingatkan peluang tersebut tetap perlu dilihat dari kemampuan perusahaan mengubah ekspansi jaringan menjadi kontrak dan arus kas.

Menurut dia, pertumbuhan pendapatan yang besar tetapi diikuti kebutuhan belanja modal yang sangat tinggi belum tentu menciptakan nilai ekonomi bagi pemegang saham.

Data Center Jadi Direct AI Play

Di antara berbagai lapisan tersebut, data center memiliki hubungan paling langsung dengan pertumbuhan AI. Ketika perusahaan AI membutuhkan tambahan GPU dan server, kebutuhan tersebut akan diterjemahkan menjadi permintaan terhadap power, rack, cooling, connectivity dan kapasitas data center.

Elandry menggambarkan rantai manfaat tersebut sebagai AI → GPU → data center → listrik → fiber → cooling → konstruksi → cloud → aplikasi AI.

Sebelumnya Elandry juga menyampaikan, sektor infrastruktur yang menopang ekosistem AI, mulai dari data center, listrik, fiber connectivity, cooling hingga konstruksi, berpotensi menikmati manfaat dari perkembangan AI.

Nafan mengatakan data center merupakan titik monetisasi yang paling langsung. Semakin tinggi utilisasi dan semakin terbatas kapasitas data center di suatu wilayah, semakin besar potensi pricing power dan pendapatan berulang bagi operator data center. DCI Indonesia (DCII) dan Indointernet (EDGE) disebut sebagai emiten yang paling langsung menangkap pertumbuhan bisnis data center.

Listrik dan Fiber Jadi Efek Domino

Kebutuhan AI juga menciptakan peluang bagi emiten di sektor listrik. Data center membutuhkan pasokan energi yang besar, stabil dan tersedia sepanjang waktu. Karena itu, pertumbuhan kapasitas data center dapat menciptakan manfaat lanjutan bagi perusahaan penyedia energi.

Emiten seperti Perusahaan Gas Negara (PGAS), Cikarang Listrindo (POWR), Barito Pacific (BREN), Pertamina Geothermal Energy (PGEO), Chandra Asri Pacific (TPIA), dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA) memiliki eksposur dengan karakter berbeda terhadap kebutuhan energi yang muncul dari pertumbuhan AI.

Nafan sebelumnya juga menempatkan POWR, PGEO dan BREN sebagai emiten yang berpotensi memperoleh second-order benefit dari meningkatnya kebutuhan listrik akibat pembangunan data center.

Di sisi konektivitas, kebutuhan data center tidak berhenti pada kapasitas komputasi. Pusat data harus terhubung dengan pengguna maupun pusat data lain melalui jaringan berkapasitas tinggi.

Sejumlah emiten seperti Telkom Indonesia (TLKM), Indosat, XL Axiata (EXCL), Dayamitra Telekomunikasi (MTEL) dan Sarana Menara Nusantara (TOWR) sebelumnya dipetakan memiliki keterkaitan dengan kebutuhan fiber optik dan konektivitas.

Elandry juga menilai TLKM, ISAT, TOWR, MTEL, MORA, KETR dan INET dapat memperoleh manfaat lanjutan karena pertumbuhan AI meningkatkan kebutuhan bandwidth dan lalu lintas data.

Perbedaan posisi tersebut membuat indikator yang harus diperhatikan investor juga tidak sama. Untuk data center, Nafan menyarankan perhatian pada kapasitas MW, utilisasi, pricing, ketersediaan listrik dan capex. Untuk Indosat, indikator yang perlu diperhatikan antara lain pertumbuhan pendapatan enterprise, cloud, utilisasi GPU, layanan AI dan monetisasi Sahabat-AI.

Sementara untuk WIFI, indikatornya mencakup pertumbuhan pelanggan, utilisasi jaringan, bandwidth, pendapatan berulang, capex dan return on invested capital (ROIC).

Adapun untuk GoTo, indikator yang relevan adalah peningkatan transaksi, conversion, engagement, take rate serta penurunan biaya yang dapat dikaitkan dengan penggunaan AI.

Elandry menekankan bahwa perkembangan AI tidak otomatis membuat seluruh perusahaan yang memiliki eksposur terhadap teknologi tersebut memperoleh manfaat yang sama.

Dibandingkan data center yang menangkap belanja AI secara lebih langsung melalui compute dan GPU, perusahaan telekomunikasi dan fiber menangkap nilai dari lapisan konektivitas. Sementara perusahaan teknologi seperti GoTo berada di lapisan aplikasi sehingga monetisasinya lebih banyak melalui efisiensi biaya, engagement dan produktivitas.

Dengan demikian, AI di pasar modal Indonesia mulai membentuk beberapa jalur monetisasi. Data center menjadi direct AI compute play, Indosat bergerak pada AI infrastructure dan services, GoTo pada AI application dan operating leverage, sedangkan WIFI berada pada AI connectivity infrastructure.

Bagi investor, kata Nafan, pertanyaan pentingnya bukan sekadar perusahaan mana yang memiliki narasi AI. Pertanyaan yang lebih menentukan adalah di mana perusahaan tersebut menangkap nilai ekonomi AI dan seberapa cepat peluang itu diterjemahkan menjadi pendapatan, efisiensi serta return atas modal yang ditanamkan.

Pada akhirnya, boom AI tidak hanya menjadi cerita mengenai GPU atau model AI. Di Indonesia, peluang ekonominya dapat menyebar ke berbagai lapisan infrastruktur dan layanan yang membuat teknologi tersebut bisa beroperasi. Namun, siapa yang benar-benar menjadi mesin cuan akan ditentukan oleh kemampuan masing-masing emiten mengubah investasi AI menjadi kinerja keuangan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti