Riset Ungkap AI Bikin Kemampuan Siswa Menurun, CEO Nvidia Sebut Tidak Masalah

Fauza Syahputra|Katadata
Founder & CEO NVIDIA, Jensen Huang menyampaikan paparan pada acara Indonesia AI Day di The Tribrata Hotel and Convention Center Darmawangsa, Jakarta, Kamis (14/11/2024). Mengusung tema Unleashing Indonesia’s AI Sovereignty, perhelatan tersebut merupakan forum untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan, serta mendorong kolaborasi dalam mendukung kedaulatan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia.
Penulis: Desy Setyowati
30/9/2026, 08.04 WIB

Studi terhadap lebih dari 26.000 siswa di Cina menunjukkan penggunaan akal imitasi atau AI berkaitan dengan penurunan nilai ujian hingga 20%. Merespons temuan ini, CEO Nvidia Jensen Huang menilai hilangnya sejumlah keterampilan dasar akibat penggunaan AI bukan sesuatu yang perlu terlalu dikhawatirkan.

Dalam perbincangan dengan kolumnis The New York Times Ezra Klein di podcast, CEO Nvidia Jensen Huang merespons hasil penelitian itu.

Huang menilai fenomena siswa yang mulai melupakan keterampilan tertentu, misalnya matematika dasar, karena semakin mengandalkan AI, tidak masalah.

"Tabel perkalian mulai dilupakan. Menghitung akar kuadrat, astaga. Matematika dasar mulai dilupakan. Apakah itu penting? Ya. Kurasa tidak. Kurasa tidak," kata Huang, dikutip dari TechRadar, Minggu (26/9). "Ada banyak keterampilan yang tidak penting."

Menurut CEO Nvidia Jensen  Huang, meskipun manusia kehilangan sejumlah keterampilan, mereka berpeluang memperoleh keterampilan baru ketika beranjak dewasa dan memasuki dunia kerja.

Ia memandang perubahan tersebut sebagai pertukaran keterampilan, ketika kemampuan yang mulai ditinggalkan dapat digantikan oleh kemampuan lain.

Riset Ungkap Dampak AI terhadap Nilai Ujian Siswa

Temuan mengenai dampak penggunaan AI terhadap kemampuan akademik siswa muncul dalam penelitian yang dilakukan oleh para akademisi dari Universitas Stockholm dan Universitas Hong Kong.

Mengutip South China Morning Post (SCMP) pada Juli, penelitian tersebut melacak prestasi akademik lebih dari 26.000 siswa sekolah menengah pertama dan atas di suatu kabupaten di Cina tengah selama 30 bulan, dari September 2022 hingga Juni 2025.

Peneliti membandingkan nilai pekerjaan rumah, waktu penyelesaian tugas, hasil tes bulanan, dan nilai ujian masuk antara siswa yang menggunakan AI dan mereka yang tidak menggunakannya.

Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan AI meningkatkan efisiensi jangka pendek, tetapi berkaitan dengan penurunan hasil belajar dalam jangka panjang.

Penggunaan AI generatif meningkatkan nilai pekerjaan rumah siswa sebesar 18%. Pada saat yang sama, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah turun dari rata-rata 64 menit menjadi 45 menit.

Namun, peningkatan produktivitas tersebut tidak diikuti oleh kenaikan nilai ujian. Dalam waktu enam bulan, nilai ujian bulanan siswa pengguna AI justru turun sebesar 20%.

Dampak tersebut juga terlihat pada ujian masuk sekolah dan perguruan tinggi setelah dua tahun. Nilai ujian masuk sekolah menengah atas Zhongkao turun sebesar 24%, sedangkan hasil Gaokao atau ujian masuk perguruan tinggi nasional turun sebesar 18%.

Menurut laporan SCMP, efek penurunan kemampuan belajar tersebut membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk sepenuhnya muncul.

Penelitian tersebut juga menunjukkan tingginya penggunaan AI generatif di kalangan siswa. Sekitar 80% siswa yang diteliti melaporkan menggunakan teknologi tersebut.

Sejumlah chatbot yang populer di kalangan siswa antara lain Doubao, DeepSeek, ChatGLM, Ernie Bot, dan Qwen.

Siswa semakin mengandalkan chatbot AI untuk menyusun esai dan menyelesaikan soal latihan. Penggunaan teknologi ini dapat mempercepat penyelesaian tugas, tetapi temuan penelitian memperlihatkan adanya perbedaan antara nilai pekerjaan rumah dan kemampuan siswa saat menghadapi ujian.

Hasil tersebut menjadi kontras dengan pandangan CEO Nvidia Jensen Huang mengenai perubahan keterampilan pada era AI.

Huang berpendapat bahwa sebagian keterampilan yang mulai ditinggalkan dapat digantikan oleh kemampuan baru. Sementara itu, penelitian di Cina menunjukkan bahwa efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tidak selalu sejalan dengan peningkatan kemampuan akademik yang tercermin dalam hasil ujian.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.