Petambak Kerapu Lamongan Mulai Pakai AI, Produksi Ikan Melonjak

Komdigi
Petambak kerapu pakai AI
Penulis: Kamila Meilina
3/11/2026, 16.27 WIB

Petambak ikan kerapu di Kampung Kerapu, Desa Labuhan, Lamongan, Jawa Timur, mulai memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas budidaya. Penerapan teknologi Internet of Things (IoT) dan akal imitasi (AI) dilaporkan mampu meningkatkan produktivitas lebih dari 24%.

Program modernisasi digital sektor perikanan budidaya ini merupakan kolaborasi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Pemerintah Kabupaten Lamongan, dan perusahaan teknologi akuakultur PT Venambak Kail Dipantara.

Melalui program itu, pemerintah memberikan bantuan 150 unit mesin jet aerator otomatis atau Smart Venjet kepada pembudidaya ikan kerapu. Perangkat ini dilengkapi teknologi untuk memasok oksigen dari dasar kolam serta sistem pengendalian dan pemantauan yang terintegrasi dengan aplikasi.

Berdasarkan hasil penerapan selama sekitar lima bulan, teknologi itu mampu menghemat penggunaan pakan hingga 20%, meningkatkan angka kelangsungan hidup atau survival rate ikan sebesar 16%, serta mendorong peningkatan produktivitas budidaya lebih dari 24%.

Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengatakan digitalisasi sektor pertanian dan perikanan menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung ketahanan pangan nasional.

"Kami ingin memastikan teknologi digital dan kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan langsung oleh petani dan petambak untuk meningkatkan produktivitas," kata Meutya dalam kegiatan Teknologi Digital AIoT Tepat untuk Petani dan Pembudidaya di Lamongan, Selasa (3/11).

Menurut Meutya, teknologi IoT yang diterapkan pada tambak kerapu memungkinkan pembudidaya memantau sejumlah indikator kualitas air, seperti kadar oksigen, pH, dan salinitas. Pemantauan dapat dilakukan melalui aplikasi sehingga petambak tidak harus selalu datang langsung ke kolam.

Ia mengatakan pengembangan teknologi akan terus dilakukan dengan mengintegrasikan IoT dan AI. Integrasi tersebut memungkinkan lebih banyak indikator budidaya dipantau sehingga pengelolaan tambak dapat dilakukan secara lebih efisien.

"Dengan AI digabungkan dengan teknologi yang sekarang sudah dimiliki, indikator-indikatornya akan lebih banyak lagi yang bisa dimonitor dan insyaallah efisiensinya semakin bertambah," ujarnya.

Petambak Bisa Pantau Tambak dari Rumah

Salah satu pembudidaya ikan kerapu yang merasakan manfaat digitalisasi tambak adalah Soekarno. Ia mengelola 38 kolam budidaya dengan luas lahan sekitar 10 hektare di Desa Labuhan.

Sebelum menggunakan Smart Venjet, Soekarno dan pekerjanya harus datang langsung ke tambak untuk menyalakan kincir dan memeriksa kondisi kolam. Kini, sebagian aktivitas pemantauan dan pengoperasian perangkat dapat dilakukan dari rumah melalui aplikasi di ponsel.

"Meski sebelum dibantu alat Venjet (jet aerator) bantuan pemerintah, budidaya sudah berjalan lancar. Namun, bantuan alat ini membuat kita punya aplikasi sehingga memudahkan pemantauan dari rumah," kata Soekarno.

Menurut dia, perangkat itu bisa menjaga kualitas air, termasuk kadar oksigen di dalam kolam. Kondisi air yang lebih terjaga diharapkan dapat mendukung kesehatan dan pertumbuhan ikan.

"Sehingga menambah kesehatan ikan. Kalau ikannya sehat, otomatis makannya lahap, gemuk," ujarnya.

Smart Venjet memiliki mekanisme kerja berbeda dengan kincir air yang selama ini digunakan petambak. Kincir menggerakkan air untuk membantu sirkulasi dan menambah oksigen, sedangkan Venjet menarik oksigen untuk dimasukkan ke dalam air kolam.

Oleh karena itu, perangkat tersebut tidak menggantikan kincir yang sudah digunakan petambak, melainkan menjadi tambahan teknologi untuk mendukung pengelolaan tambak.

Dari total 38 kolam yang dikelolanya, sebanyak 20 kolam telah dilengkapi Smart Venjet. Meski melihat kondisi ikan menjadi lebih baik, Soekarno mengaku belum bisa memastikan besarnya peningkatan produktivitas maupun efisiensi biaya secara keseluruhan.

Ia mengatakan budidaya ikan kerapu membutuhkan waktu sekitar satu tahun hingga panen, sedangkan bantuan teknologi tersebut baru digunakan selama sekitar enam bulan.

"Kalau dari sisi kekurangan pakan, saya belum menemukan. Ikan kerapu ini masa panennya satu tahun. Venjet ini bantuannya baru enam bulan, jadi belum ketahuan total hasilnya," ujarnya.

Perputaran Ekonomi Budidaya Kerapu Capai Rp 174 Miliar

Kampung Kerapu di Desa Labuhan merupakan salah satu sentra budidaya ikan kerapu terbesar di Asia Tenggara. Kawasan budidaya seluas lebih dari 300 hektare ini mulai dikembangkan sejak 2023 dan dikukuhkan melalui Surat Keputusan Bupati Lamongan pada 2025.

Berdasarkan data pemerintah setempat, budidaya ikan kerapu di kawasan tersebut menghasilkan sekitar 1.800 ton ikan dalam satu tahun. Aktivitas tersebut mencatatkan perputaran ekonomi hingga Rp 174 miliar.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan penerapan teknologi digital selama lima bulan terakhir telah membantu meningkatkan kualitas dan ukuran ikan kerapu yang dibudidayakan. Dampaknya juga terlihat pada harga jual ikan.

Menurut dia, harga kerapu di tingkat petambak kini bisa mencapai Rp 130.000 per kilogram. Sementara itu, harga di Jakarta dapat menyentuh Rp 140.000 hingga Rp 150.000 per kilogram.

Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga ikan pada 2025 yang berkisar Rp 100.000 hingga Rp 120.000 per kilogram.

Komdigi berencana memperpanjang pendampingan penggunaan teknologi bagi para pembudidaya. Semula, pendampingan diberikan secara gratis selama delapan bulan. Pemerintah mempertimbangkan penambahan empat bulan sehingga total masa pendampingan menjadi satu tahun.

Meutya mengatakan perpanjangan pendampingan diperlukan agar pemanfaatan teknologi digital oleh petambak dapat berjalan lebih optimal.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina