PBB: Afrika Kekurangan Dana Iklim US$2,5 Triliun pada 2030

ANTARA FOTO/REUTERS/Feisal Omar/RWA/dj
PBB menyebut Afrika bakal kekurangan US$2,5 triliun (sekitar Rp 39 kuadriliun) dari dana yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim pada tahun 2030.
Penulis: Hari Widowati
5/3/2024, 13.34 WIB

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Afrika bakal kekurangan US$2,5 triliun (sekitar Rp 39 kuadriliun) dari dana yang dibutuhkan untuk mengatasi perubahan iklim pada tahun 2030. Benua ini berkontribusi paling sedikit terhadap emisi gas rumah kaca namun juga mengalami beberapa dampak terburuk.

Afrika hanya menarik 2% dari investasi global di bidang energi bersih. Namun, Afrika membutuhkan US$2,8 triliun atau sekitar Rp 43,68 kuadriliun investasi di sektor energi bersih pada tahun 2030. Kepala Ekonom Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika Hanan Morsy mengatakan kekurangan dana iklim ini bisa berdampak negatif pada Afrika.

"Kita berakhir dalam lingkaran setan dengan kekurangan investasi yang meningkatkan risiko eksposur dan memperburuk dampak, semakin mengikis ruang fiskal dan meningkatkan biaya keuangan," ujar Morsy, seperti dikutip Reuters, pada Rabu (6/3).

Meskipun menghasilkan emisi yang rendah dibandingkan dengan benua lain, Morsy mengatakan, perubahan iklim merugikan negara-negara Afrika sebesar 5% dari produk domestik bruto (PDB) setiap tahunnya. Temuan laporan gabungan PBB-Uni Afrika pada tahun lalu menunjukkan secara rata-rata, setiap orang Afrika menghasilkan 1,04 ton emisi karbon dioksida pada tahun 2021.

Laporan tersebut mengatakan bahwa tingkat rata-rata pemanasan di Afrika adalah 0,3 derajat Celcius per dekade pada periode 1991-2022, dibandingkan dengan 0,2 derajat di dunia secara keseluruhan. "Situasi ini diperparah oleh utang publik yang besar," kata Morsy.

Negara-negara Afrika membayar bunga utang 1,7% lebih tinggi daripada negara-negara lain. "Negara-negara tersebut menghabiskan lebih banyak uang untuk membayar utang mereka daripada untuk aksi iklim."

Banyak pembicara di konferensi UNECA menyerukan reformasi arsitektur keuangan global. "Kita harus mengatasi masalah persepsi risiko yang tidak adil dan peringkat kredit yang menawarkan Afrika pilihan pinjaman yang terbatas," kata Sekretaris Eksekutif UNECA Claver Gatete.

Ia mengutip data dari Program Pembangunan PBB yang memperkirakan bahwa subjektivitas peringkat kredit telah merugikan Afrika hingga US$74,5 miliar atau sekitar Rp 1,16 kuadriliun.