Penyebab Banjir, Sungai Ciliwung hingga Bekasi Menyempit karena Pemukiman

Foto udara tanggul yang rusak saat banjir di Pondok Gede Permai, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (17/2/2022). Banjir akibat luapan kali Bekasi merendam rumah warga pada pukul 01.00 WIB dengan ketinggian 30 cm sampai dengan 90 cm.
ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/rwa.
Foto udara tanggul yang rusak saat banjir di Pondok Gede Permai, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (17/2/2022). Banjir akibat luapan kali Bekasi merendam rumah warga pada pukul 01.00 WIB dengan ketinggian 30 cm sampai dengan 90 cm.
20/3/2025, 16.24 WIB

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melakukan kajian penyebab banjir yang melanda Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) pada awal Maret 2025. Berdasarkan kajian tersebut, banjir disebabka karena alih fungsi lahan di sebagian besar daerah aliran sungai (DAS) yang melintasi Jabodetabek. 

Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH) Kemenhut, Dyah Murtiningsih, mengatakan lahan yang mengalami alih fungsi tersebut seharusnya merupakan kawasan lindung. Namun, kawasan tersebut saat ini sudah tertutup pemukiman sehingga tidak bisa menyerap air.

“Dengan begitu lokasi tersebut menjadi kedap air, dimana harusnya berfungsi sebagai resapan,” ujar Dyah dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/3).

 Dyah mengatakan banjir di Jabodetabek juga dipengaruhi adanya badan sungai di beberapa lokasi yang menyempit. Hal itu menyebabkan air sungai meluap.

 "Kami menemukan ada alur sungai yang harusnya 11 meter, menyempit menjadi 3 meter di DAS Ciliwung, dan di atasnya sudah banyak pemukiman," ujarnya.

Kondisi seperti itu terjadi juga di kawasan DAS Kali Bekasi, dimana kondisinya sebagian besar pemukiman yang ditambah dengan kondisi sedimen sungai yang sangat banyak. Dyah mengatakan penyebab banjir lainya adalah minimnya fungsi drainase dan resapan air pada DAS Ciliwing, Cisadane, Kali Bekasi, dan Angke Pesanggrahan.

Untuk mencegah banjir besar terulang, Dyah mengatakan, Kemenhut akan melakukan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dalam bentuk penanaman, menerapkan teknik konservasi tanah dan air dalam berupa DAM pengendali, dan DAM penahan pada lokasi-lokasi dan kemiringan tertentu.

Menurut dia, bangunan konservasi tanah dan air ini berfungsi untuk menahan sedimen dan untuk mengendalikan air yang turun dari hulu. Sementara itu, pada lokasi di dengan kondisi topografi miring dilakukan rehabilitasi hutan dan lahan dengan tanaman vegetatif.

"Tentu saja hal ini tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak. Kita akan intensif kedepan melakukan penanaman," ujarnya.

 Dia mengatakan Kemenhut juga mengusulkan perbaikan sistem drainase yang ada di sekitar pemukiman, pembuatan sumur resapan, dan biopori.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Djati Waluyo