Ilmuwan Prediksi Gelombang Panas di Eropa Sebabkan 2.300 Kematian

Freepik
Ilustrasi gelombang panas
10/7/2025, 15.56 WIB
Para ilmuwan Imperial College London dan London School of Hygiene memprediksi sekitar 2.300 orang meninggal dunia akibat gelombang panas (heatwave) parah yang berakhir minggu lalu, di 12 kota di Eropa. Sekitar 1.500 kasus dari total kematian itu terkait dengan perubahan iklim yang membuat gelombang panas lebih parah.

"Perubahan iklim telah membuatnya jauh lebih panas daripada sebelumnya, yang pada gilirannya membuatnya jauh lebih berbahaya," kata Peneliti Imperial College London, Ben Clarke, dilansir dari Reuters (10/7).

Penelitian tersebut mengamati gelombang panas selama 10 hari dan berakhir pada 2 Juli lalu. Saat itu, sebagian besar wilayah Eropa Barat dilanda panas ekstrem. Suhu tembus 40 derajat Celsius di Spanyol dan terjadi kebakaran hutan di Prancis.

Barcelona, Madrid, London, dan Milan termasuk dalam 12 kota yang diteliti, di mana para peneliti mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan suhu gelombang panas hingga 4 derajat Celsius.

Para peneliti menggunakan model epidemiologi yang sudah mapan dan data mortalitas historis untuk memperkirakan jumlah kematian. Hal ini kemudian mencerminkan, panas sebagai alasan utama kematiannya, termasuk jika paparan panas memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.

Para ilmuwan mengatakan mereka menggunakan metode peninjauan sejawat untuk segera menghasilkan perkiraan jumlah korban tewas. Sebagian besar kematian akibat panas tidak dilaporkan secara resmi dan beberapa instansi pemerintah tidak merilis data ini. 
 
 

Gelombang Panas akan Semakin Sering Terjadi

 
Lembaga penelitian iklim Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service, memperlihatkan bulan lalu merupakan bulan Juni terpanas ketiga di planet ini yang pernah tercatat, setelah bulan yang sama pada tahun 2024 dan 2023.

"Eropa Barat mengalami bulan Juni terhangat yang pernah tercatat, dengan sebagian besar wilayah mengalami tekanan panas yang sangat kuat- yang didefinisikan oleh kondisi yang terasa seperti suhu 38 derajat Celsius atau lebih," kata Copernicus.

"Di dunia yang semakin panas, gelombang panas kemungkinan akan menjadi lebih sering, lebih intens, dan berdampak pada lebih banyak orang di seluruh Eropa," kata Pemimpin Strategis Copernicus untuk iklim, Samantha Burgess.

Pada 2023, para peneliti dari lembaga kesehatan Eropa melaporkan sebanyak 61.000 orang diperkirakan telah meninggal dunia akibat gelombang panas terik di Eropa pada tahun 2022. Menurut penelitian baru, situasi ini menunjukkan upaya kesiapsiagaan negara-negara terhadap gelombang panas sangat gagal.

Meningkatnya emisi gas rumah kaca di atmosfer —yang sebagian besar berasal dari pembakaran bahan bakar fosil— menyebabkan suhu rata-rata planet meningkat seiring waktu. Peningkatan suhu dasar ini berarti bahwa ketika gelombang panas datang, suhu dapat melonjak ke puncak yang lebih tinggi.
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas