Mencairnya Es Antartika yang Semakin Cepat Jadi Titik Kritis Iklim
Hilangnya es laut Antartika secara cepat dapat menjadi titik kritis bagi iklim global, menyebabkan kenaikan permukaan laut, perubahan arus laut, dan hilangnya kehidupan laut yang tidak mungkin untuk dipulihkan. Hal ini terungkap dalam hasil studi ilmiah yang diterbitkan jurnal Nature, pada hari Kamis (21/8).
Makalah tersebut bertujuan untuk menggambarkan secara detail mengenai efek saling terkait dari pemanasan global terhadap Antartika, benua beku di Kutub Selatan planet ini.
"Bukti menunjukkan adanya perubahan yang cepat, saling berinteraksi, dan terkadang berkelanjutan dalam lingkungan Antartika," demikian pernyataan tim peneliti di jurnal Nature, seperti dikutip Reuters.
Studi ini mengumpulkan data dari observasi, inti es, dan buku catatan kapal untuk memetakan perubahan jangka panjang di wilayah es laut, menempatkan penurunan cepat dalam beberapa tahun terakhir ke dalam konteks.
"Pergeseran rezim telah mengurangi luas es laut Antartika jauh di bawah variabilitas alaminya selama berabad-abad terakhir. Dalam beberapa hal pengurangan es laut Antartika terjadi lebih tiba-tiba, non-linear, dan berpotensi tidak dapat diubah daripada hilangnya es laut Arktik," kata tim peneliti, merujuk pada pencairan di Kutub Utara.
Penulis utama studi ini, Nerilie Abram, mengatakan perubahan-perubahan ini memiliki efek domino di seluruh ekosistem yang dalam beberapa kasus saling memperkuat.
Lembaran es yang lebih kecil memantulkan lebih sedikit radiasi matahari, yang berarti planet ini menyerap lebih banyak panas. Kondisi ini kemungkinan akan mempercepat melemahnya Sirkulasi Pembalikan Antartika, arus lintas laut yang mendistribusikan panas dan nutrisi serta mengatur cuaca.
Satwa Liar di Kutub Terancam
Hilangnya es semakin membahayakan satwa liar termasuk penguin kaisar, yang berkembang biak di atas es, dan krill, yang mencari makan di bawahnya. Penelitian itu juga menyoroti permukaan air laut yang menghangat akan semakin mengurangi populasi fitoplankton yang menarik sejumlah besar karbon dari atmosfer.
"Es laut Antartika mungkin benar-benar menjadi salah satu titik kritis dalam sistem Bumi," kata Abram, mantan profesor di Australian National University (ANU), yang sekarang menjabat Kepala Ilmuwan di Divisi Antartika Australia.
Penelitian itu menyebut mengendalikan emisi karbon dioksida global akan mengurangi risiko perubahan besar di Antartika tetapi mungkin masih tidak dapat mencegahnya.
"Begitu kita mulai kehilangan es laut Antartika, kita memulai proses yang terus berlanjut dengan sendirinya," kata Abram. "Bahkan jika kita menstabilkan iklim, kita tetap saja akan kehilangan es laut Antartika selama berabad-abad mendatang."