Industri Plastik Eropa di Ambang Krisis, Terancam Tertinggal dari Asia
Industri plastik di Eropa tengah menghadapi ancaman serius berupa gelombang penutupan pabrik dan penurunan daya saing global, terutama terhadap Cina dan negara-negara Asia.
Menurut laporan Reuters, kelompok lobi Plastics Europe mengungkapkan kondisi ini disebabkan oleh tingginya biaya energi, pajak iklim yang memberatkan, serta harga bahan baku yang terus melonjak.
Menurut organisasi tersebut, Uni Eropa perlu segera mengakui industri plastik merupakan sektor strategis yang menopang berbagai bidang penting, mulai dari pertahanan, otomotif, hingga pertanian.
“Industri plastik Eropa saat ini berada di tepi jurang. kami hanya berharap situasinya tidak semakin memburuk saat para pembuat kebijakan masih berpikir mencari solusi,” kata Rob Ingram, CEO INEOS Olefins and Polymers Europe sekaligus Anggota Dewan Pengarah Plastics Europe.
Ingram juga menyerukan agar Uni Eropa menunda pengurangan alokasi gratis untuk izin emisi karbon, yang selama ini membantu menekan biaya produksi.
Data Plastics Europe menunjukkan, produksi plastik di kawasan tersebut hanya tumbuh 0,4% pada 2024 setelah anjlok 7,6% pada 2023. Namun, pendapatan industri turun 13% dan pangsa pasar global Eropa merosot menjadi 12%. Sebaliknya, produksi global tumbuh 4,1%, dengan Asia menyumbang lebih dari separuh volume dunia dan Cina menguasai lebih dari sepertiganya.
Produksi Plastik Daur Ulang Eropa Stagnan
Kepemimpinan Eropa dalam industri plastik daur ulang pun mulai tergeser. Produksi plastik daur ulang di Uni Eropa stagnan sepanjang 2024, sementara Cina berhasil memproduksi hampir dua kali lipat dari capaian Eropa.
Selain menghadapi tekanan biaya tinggi, industri plastik Eropa juga harus membeli izin emisi karbon untuk menutupi dampak gas rumah kaca yang dihasilkan dari proses produksinya.
Di sisi lain, produsen plastik Amerika Serikat mendapat keuntungan dari kesepakatan perdagangan AS–UE yang memungkinkan ekspor bebas bea ke pasar Eropa, sementara ekspor dari Eropa ke AS justru dikenakan tarif impor hingga 15%.