Menteri LH Paparkan Tiga Skenario Penurunan Emisi di Second NDC Indonesia
Pemerintah Indonesia menjabarkan tiga skenario penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dalam dokumen Second Nationally Determined Contribution (NDC) yang akan segera diserahkan kepada UNFCCC.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, menyebut ada tiga skenario tersebut diselaraskan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Second NDC atau dokumen komitmen iklim ini menerapkan skenario low carbon compatible with Paris Agreement (LCCP) untuk kategori low ambition dan high ambition. Selain itu, dokumen ini juga memasukkan skenario current policy atau asumsi tidak ada perubahan kebijakan.
“Skenario ini menggunakan baseline 2019," kata Hanif, dalam sambutannya di Pembukaan Indonesia Climate Change Forum 2025 di Jakarta, Selasa (21/10).
Rincinya, Second NDC mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 6% pada 2030 dan 6,7% pada 2035 untuk LCCP low ambition. Kemudian pada kategori LCCP high ambition, asumsi pertumbuhan ekonomi yang digunakan adalah 6,5% pada 2030 dan 7,8% pada 2035. Satu lagi, skenario LCCP H829 mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 8% di 2029.
Hanif menambahkan, dengan skema low ambition, angka emisi nasional akan turun lebih cepat. “Namun memang belum memenuhi kaidah yang diminta Dubai Climate Pact 2024 kemarin,” katanya.
Sektor FOLU Jadi Sektor Utama
Dalam kesempatan tersebut, Hanif menyebut sektor forestry and other land uses (FOLU) sebagai sektor utama yang mengakselerasi komitmen global ini. Ada empat sektor lain dalam upaya penurunan emisi, yaitu sektor energi, pertanian, limbah, dan industrial processes and product use (IPPU).
Setidaknya, Indonesia memiliki potensi FOLU cukup besar dengan lahan gambut dan mangrove. Luas lahan gambut RI mencapai 13,7 juta hektare, menjadikannya yang terluas kedua di dunia. Sementara, lahan mangrove saat ini mencapai 3,44 juta hektare.
“Ini yang kemudian mengharuskan sektor FOLU melakukan kegiatan penyerapan karbon,” ujar Hanif.
Dalam dokumen FOLU Net Sink 2030, butuh sekitar 9 juta hektare untuk mencapai emisi -140 juta ton CO2.
Hanif juga kembali menyoroti sektor energi yang baru akan mencapai puncak emisi pada 2035 mendatang. Berbeda dengan sektor lain yang mencapai puncak emisi pada 2030. Kondisi ini, sebut Hanif, membuat sektor energi harus lebih diperhatikan.