COP30 Hasilkan Dukungan Pembiayaan Iklim dan Transisi dari Energi Fosil

COP30 Brasil Amazonia/Ueslei Marcelino
Andre Correa do Lago, Presiden COP30 dan para peserta Sidang Penutupan COP30 berfoto bersama, di Belem, Brasil, pada Sabtu (22/11).
Penulis: Hari Widowati
23/11/2025, 12.41 WIB

Setelah dua minggu negosiasi yang intens, teks yang diadopsi Sidang Pleno COP30 menyerukan mobilisasi setidaknya US$ 1,3 triliun (Rp 21.673 triliun) per tahun pada 2035 untuk aksi iklim. COP30 di Belem juga melipatgandakan pendanaan adaptasi dan mengoperasionalkan dana kerugian dan kerusakan (loss and damage) yang disepakati pada COP28.

Teks ini juga meluncurkan dua inisiatif utama – Akselerator Implementasi Global dan Misi Belém untuk 1,5°C – untuk membantu negara-negara memenuhi kontribusi yang ditentukan secara nasional (NDC) dan rencana adaptasi mereka.

Untuk pertama kalinya, keputusan tersebut mengakui perlunya mengatasi disinformasi iklim, berjanji untuk mempromosikan integritas informasi dan melawan narasi yang melemahkan aksi berbasis sains.

“Ekonomi baru sedang bangkit, sementara ekonomi lama yang berpolusi semakin menipis,” ujar Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, menjelang penutupan COP30 setelah perundingan maraton pada Jumat (21/11) malam yang berlanjut hingga Sabtu (22/11) pagi.

Hal ini menandakan titik balik bagi ambisi iklim dan solidaritas global. Berikut ini lima hal yang diputuskan di COP30 di Belem, Brasil:
1. Pendanaan berskala besar: Mobilisasi US$ 1,3 triliun (Rp 21.673 triliun) per tahun pada tahun 2035 untuk aksi iklim.
2. Pendorong adaptasi: Gandakan pendanaan adaptasi pada tahun 2025 dan tiga kali lipat pada tahun 2035.
3. Dana kerugian dan kerusakan (loss and damage): Siklus operasionalisasi dan pengisian ulang dikonfirmasi.
4. Inisiatif baru: Peluncuran Akselerator Implementasi Global dan Misi Belém menuju 1,5°C untuk mendorong ambisi dan implementasi.
5. Disinformasi iklim: Komitmen untuk mempromosikan integritas informasi dan melawan narasi palsu.

Menurut UNFCCC, keputusan akhir COP30 menekankan solidaritas dan investasi, menetapkan target keuangan yang ambisius, sementara transisi energi akan dibahas kemudian. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas rumah kaca yang sejauh ini merupakan penyumbang terbesar pemanasan global, sehingga kelalaian ini menjadi perhatian banyak negara, termasuk negosiator dari Amerika Selatan (AS) dan Uni Eropa, serta kelompok masyarakat sipil.

Ekspektasi tinggi bahwa keputusan akhir COP30 akan mencakup referensi eksplisit untuk menghapus bahan bakar fosil. Lebih dari 80 negara mendukung usulan Brasil untuk sebuah 'peta jalan penghapusan energi fosil' formal.

Hasil yang diadopsi hanya merujuk pada 'Konsensus UEA', keputusan COP28 yang menyerukan "transisi dari bahan bakar fosil."

Sebelum sidang pleno terakhir, ilmuwan Brasil Carlos Nobre mengeluarkan peringatan keras. "Penggunaan bahan bakar fosil harus turun hingga nol paling lambat antara tahun 2040 dan 2045 untuk menghindari kenaikan suhu yang dahsyat hingga 2,5°C pada pertengahan abad ini," ujar Nobre seperti dikutip UNFCCC.

Ia mengatakan, lintasan tersebut akan mengakibatkan hilangnya hampir seluruh terumbu karang, runtuhnya hutan hujan Amazon, dan percepatan pencairan lapisan es Greenland.

Dua Peta Jalan Baru

Dalam pertemuan penutupan, Presiden COP30 André Corrêa do Lago mengakui apa yang tidak tercantum dalam kesepakatan.

“Kami tahu beberapa dari Anda memiliki ambisi yang lebih besar untuk beberapa isu yang sedang dibahas," ujar Corrêa do Lago, seperti dikutip UNFCCC.

Ia mengatakan masyarakat sipil muda akan menuntut COP30 untuk berbuat lebih banyak dalam memerangi perubahan iklim. "Saya ingin menegaskan kembali bahwa saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan Anda selama masa jabatan kepresidenan saya,” ujarnya.

Merefleksikan seruan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva pada pembukaan COP30 untuk ambisi, Correa do Lago mengumumkan rencana untuk membuat dua peta jalan. Satu peta jalan untuk menghentikan dan membalikkan deforestasi. Peta jalan kedua untuk beralih dari bahan bakar fosil secara adil, tertib, dan berkeadilan, memobilisasi sumber daya untuk tujuan ini secara “adil dan terencana.”

Sidang Penutupan COP30 (COP30 Brasil Amazonia/Antonio Scorza)

Jalan Menuju Konsensus

Jalan menuju konsensus pada Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) terakhir, sebutan resmi untuk COP tahunan ini, sama sekali tidak mulus.

Akhir pekan lalu, kelompok-kelompok masyarakat adat memblokade konferensi menuntut perlindungan yang lebih kuat bagi Amazon. Pada Kamis (20/11) sore, kebakaran di tempat konferensi mengganggu perundingan yang sedang berada di fase kritis.

Para negosiator bekerja sepanjang malam pada hari Jumat (21/11) – untuk menjembatani kesenjangan keuangan dan ambisi. Kepresidenan Brasil mengarahkan diskusi menuju hasil yang dapat dilaksanakan secara politis yang berfokus pada dukungan dan implementasi kesepakatan dari COP sebelumnya.

Multilateralisme Masih Hidup

Dari KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengirimkan pesan yang jelas kepada COP30. "Di gerbang Amazon, para pihak mencapai kesepakatan yang menunjukkan bahwa negara-negara masih dapat bersatu untuk menghadapi tantangan yang tidak dapat dipecahkan oleh satu negara pun sendirian," kata Guterres.

Ia mengatakan COP30 menghasilkan kemajuan, seperti peluncuran Akselerator Implementasi Global untuk menutup kesenjangan ambisi dan menegaskan kembali Konsensus UEA, termasuk transisi yang adil, tertib, dan setara dari bahan bakar fosil.

“Namun, COP didasarkan pada konsensus – dan dalam periode perpecahan geopolitik, konsensus semakin sulit dicapai. Saya tidak dapat berpura-pura bahwa COP30 telah memberikan semua yang dibutuhkan,” kata Guterres.

Melampaui 1,5°C adalah peringatan keras agar dunia mengurangi emisi dengan cepat serta pendanaan iklim yang besar-besaran sangat penting. “COP30 sudah berakhir, tetapi pekerjaannya belum,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal PBB berjanji untuk terus mendorong ambisi dan solidaritas yang lebih tinggi, mendesak semua yang berbaris, bernegosiasi, dan memobilisasi. “Jangan menyerah. Sejarah – dan Perserikatan Bangsa-Bangsa – ada di pihak Anda," tuturnya.

Bertahan di Garis 1,5°C

Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, menunjukkan serangkaian kemajuan besar menjelang penutupan COP30 di Belém. Kemajuan itu mencakup strategi baru untuk mempercepat implementasi Perjanjian Paris, dorongan untuk melipatgandakan pendanaan adaptasi, dan komitmen menuju transisi energi yang adil.

Terlepas dari apa yang disebutnya “perairan geopolitik yang bergejolak” – yang ditandai oleh polarisasi dan penolakan iklim – 194 negara bersatu. "Mereka menjaga umat manusia dalam perjuangan untuk planet yang layak huni, bertekad untuk bertahan di garis 1,5°C,” kata Stiell.

Inti dari momentum ini adalah hasil unggulan COP30: teks Mutirão, sebuah kesepakatan menyeluruh yang menggabungkan empat jalur negosiasi yang kontroversial. Mulai dari mitigasi hingga hambatan keuangan dan perdagangan, menjadi satu kesepakatan tunggal berbasis konsensus. Tujuh belas keputusan tambahan diadopsi bersamaan dengan kesepakatan tersebut.

Dokumen akhir menyatakan pergeseran global menuju pembangunan rendah emisi dan berketahanan iklim adalah tidak dapat diubah dan merupakan tren masa depan. Dokumen ini menegaskan kembali Perjanjian Paris sedang berjalan – dan harus melangkah lebih jauh dan lebih cepat – dalam memperkuat peran kerja sama iklim multilateral.

Teks tersebut juga mengakui manfaat ekonomi dan sosial dari aksi iklim, mulai dari pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan akses energi, keamanan, dan kesehatan masyarakat. Stiell menunjukkan tren yang menentukan: investasi dalam energi terbarukan kini melampaui bahan bakar fosil dua banding satu. "Ini sebuah sinyal politik dan pasar yang tidak dapat diabaikan," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.