Banjir Makan Korban Jiwa, Hutan Sumatra Masuk Kategori Terancam Sejak 2011
Banjir bandang yang melanda tiga provinsi di Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mengungkap rusaknya tutupan hutan di kawasan tersebut.
Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra/TRHS) berada dalam Daftar Warisan Dunia dalam Bahaya yang ditetapkan UNESCO. Kawasan ini masuk daftar "merah" tersebut sejak 2011 menyusul meningkatnya ancaman terhadap kelestariannya.
TRHS ditetapkan sebagai Warisan Dunia pada tahun 2004 karena nilai keanekaragaman hayatinya. Total luas kawasan ini mencapai sekitar 2,5 juta hektare dan mencakup tiga taman nasional: Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Kawasan ini merupakan habitat bagi sekitar 10 ribu spesies tumbuhan, termasuk 17 marga endemik, lebih dari 200 spesies mamalia, dan sekitar 580 spesies burung, dengan 465 spesies burung penetap, serta 21 spesies endemik.
Di antara mamalia tersebut terdapat spesies kunci seperti orang utan Sumatra, harimau Sumatra, badak Sumatra, gajah Sumatra, dan beruang madu Malaya.
“Komite Warisan Dunia memasukkan TRHS dalam Daftar Bahaya karena adanya ancaman berupa perburuan liar, penebangan ilegal, perambahan untuk kegiatan pertanian, serta rencana pembangunan jalan yang melintasi kawasan. Akses jalan membuka peluang terhadap praktik-praktik yang mengganggu kelestarian taman nasional tersebut,” tulis UNESCO, dikutip Senin (1/12).
Berkurangnya Tutupan Hutan
Bencana banjir besar yang terjadi di Sumatra baru-baru ini turut menjadi perhatian. Sebelumnya, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada 25–27 November 2025, yaitu Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Langkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Kabupaten Tapanuli Selatan, dipicu oleh curah hujan ekstrem dan hilangnya tutupan hutan.
Selama periode tersebut, curah hujan mencapai lebih dari 150 mm per hari. Akibatnya, debit air sungai meningkat drastis dalam waktu singkat dan aliran tak lagi mampu ditampung sehingga meluap ke permukiman.
Menurut data Global Forest Watch, dari 2002 sampai 2024, Sumatra Utara kehilangan 390 ribu hektare (ha) hutan primer basah, menyumbang 25% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Sumatra Utara berkurang 19% dalam periode waktu ini.
Sumatra Barat kehilangan 320 ribu ha hutan primer basah, menyumbang 44% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Sumatera Barat berkurang 14%.
Sedangkan Aceh kehilangan 320 ribu ha hutan primer basah, menyumbang 38% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Aceh berkurang 9%.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Minggu (30/11) pukul 18.00 WIB, sebanyak 442 orang meninggal dunia di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Dari jumlah tersebut, 217 orang meninggal di Sumatra Utara, 129 orang di Sumatra Barat, dan 96 orang di Aceh. Selain itu, 402 orang masih dinyatakan hilang, 209 di Sumatra Utara, 118 di Sumatra Barat, dan 75 di Aceh, serta 646 orang mengalami luka-luka.