Pestisida di Cisadane dan Fakta Pahit Sungai-Sungai Jawa
Pencemaran bahan kimia di Sungai Cisadane imbas kebakaran gudang pestisida bukan masalah sepele. PDAM Aetra Tangerang menyatakan kualitas air baku sudah pulih. Namun, benarkah situasinya sudah benar-benar aman? Dan bagaimana sebetulnya kondisi sungai-sungai di Pulau Jawa yang dikelilingi kawasan industri dan permukiman padat?
Sebagai informasi, Sungai Cisadane membentang sepanjang 138 kilometer di wilayah utara Jawa Barat. Sungai ini berhulu di Gunung Pangrango, melintasi Bogor dan Tangerang, sebelum bermuara ke Laut Jawa. Artinya, bahan kimia yang masuk ke aliran Cisadane di Tangerang berpotensi bermuara ke laut. Meski demikian, air tercemar juga bisa meresap ke tanah atau digunakan masyarakat sebelum mencapai muara.
Jauh sebelum insiden pestisida ini, laut Jawa sudah banyak ditinggalkan nelayan karena populasi ikan yang semakin sedikit di wilayah ini. Agustus tahun lalu, Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan di Kementerian Kelautan dan perikanan Ahmad Koswara membahas soal kelangkaan ikan di Laut Jawa ini dan menghubungkannya dengan pencemaran air di kawasan tersebut.
"Ini ada indikasi ikan di laut Jawa ya tinggal sedikit. Karena lautnya sudah tidak sehat lagi untuk bertambahnya populasi ikan sudah hilang," ujarnya. Berdasarkan pantauan kementeriannya, aktivitas penangkapan ikan telah bergeser ke perairan di wilayah timur Indonesia, yaitu di Maluku dan Papua.
Kondisi Laut Jawa -- jauh sebelum cemaran pestisida Sungai Cisadane -- mengindikasikan bahwa cemaran di sungai-sungai dan pesisir sudah berlangsung lama. Artinya, pemulihan kualitas air baku di Cisadane pasca-cemaran pestisida tidak otomatis menyelesaikan masalah kesehatan air.
Buruknya Kualitas Air Nasional
Buruknya kualitas air ternyata masalah nasional. Tahun lalu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq sempat menyoroti soal kondisi sumber daya air Indonesia. Indeks kualitas air nasional masih di bawah target. Dan, seluruh provinsi di Jawa masuk dalam jajaran 10 provinsi dengan kualitas air terburuk.
Hanif memaparkan, merujuk pada data indeks kualitas air dari Badan Pusat Statistik (BPS), indeks kualitas air nasional pada 2024 masih di bawah target yaitu 55,5. Jakarta, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Jambi, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu adalah provinsi dengan kualitas air terburuk.
"Tantangan utama dalam menjamin akses air bersih bagi seluruh masyarakat Indonesia melibatkan masalah lingkungan, sosial, teknis dan tata kelola yang belum terintegrasi dengan baik," ujar Hanif dalam suatu diskusi, dikutip dari Antara.
Sekitar 60 persen sungai di Indonesia dilaporkan berada dalam kondisi tercemar, akibat limbah domestik dan industri hingga sampah plastik di badan air. Sungai-sungai penting seperti Citarum, Berantas, Musi dan Batang Hari mengalami penurunan kualitas dalam tiga tahun terakhir.
Di Jakarta, mayoritas air permukaan dilaporkan tercermar berat. Jakarta dilalui 17 sungai dan kanal. Merujuk pada Laporan Kualitas Air Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Tahun 2024, hasil pemantauan di 120 titik selama empat priode menunjukkan, seluruhnya tercemar dengan status mutu cemar ringan hingga berat.
Rinciannya, cemar ringan 6 persen, cemar sedang 26 persen, dan cemar berat 68 persen. Pencemaran didominasi limbah domestik, mulai dari bakteri tinja hingga bahan kimia rumah tangga. Ini ditandai oleh keberadaan bakteri coliform serta senyawa kimia seperti amoniak, klorin bebas, H2S, BOD, dan COD.