Ekspedisi Konservasi Indonesia Merekam Migrasi Paus Biru Kerdil
Berbekal tag satelit berbasis drone, Ekspedisi Spesies Laut Bermigrasi 2025 merekam jejak paus biru kerdil yang berenang lebih dari 2.000 kilometer hanya dalam sembilan hari. Ini menggambarkan betapa luasnya ruang jelajah spesies tersebut.
Ekspedisi oleh Konservasi Indonesia ini dilakukan di Laut Sawu, bagian dari Bentang Laut Sunda Kecil yang berada di Nusa Tenggara Timur. Bentang Laut Sunda Kecil menjadi penghubung Samudra Hindia dan Samudra Pasifik yang didalamnya terdapat kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia.
Dinamika arus dan topografi bawah lautnya menciptakan wilayah produktif sekaligus menjadi jalur migrasi penting bagi paus, lumba-lumba, dan hiu paus.
Namun, saat ini kebijakan pengelolaan satwa migrasi disusun dengan data dan informasi yang belum utuh. Jalur migrasi, area istirahat, hingga lokasi penting untuk mencari makan belum dipetakan dengan optimal.
Padahal, data tersebut krusial untuk penyusunan kebijakan, bagaimana jalur pelayaran, area penangkapan ikan, atau lokasi rumpon bisa ditetapkan tanpa mengganggu jalur migrasi satwa.
“Wilayah dengan tingkat sighting tinggi perlu pengelolaan khusus,” kata Rusydi, perwakilan peneliti dari Universitas Muhammadiyah Kupang, dalam keterangan resmi dikutip pada Kamis (12/2).
Menurut dia, data perjalanan spesies semacam ini dapat membantu penyusunan kebijakan pariwisata, agar tetap berkelanjutan tanpa mengganggu satwa.
Catat Spesies Megafauna Laut
Para periset juga mencatat sekitar 10–12 spesies megafauna laut selama ekspedisi. Beberapa perilaku kawin pada spinner dolphin dan melon-headed whale juga terdokumentasi. Informasi tersebut penting untuk memahami musim biologis dan kebutuhan habitat spesies migrasi.
Pergerakan paus biru kerdil terekam sejak 13 Oktober 2025, hingga sinyal terakhir diterima pada 22 Oktober 2025. Tag satelit berjenis LIMPET dipilih karena berdampak minimal bagi paus.
Tag satelit LIMPET memiliki dua anak panah berukuran tujuh sentimeter. Perangkat kecil untuk memantau pergerakan paus itu ditembakkan tepat di belakang sumber pernapasan paus (blowhole) dan di depan sirip punggung.
Penempatan yang harus pas, menjadi tantangan bagi para periset karena tubuh paus hanya terekspos maksimal dua detik di atas permukaan air.
“Dengan waktu yang hanya sekejap itu, sudah pasti angin, gelombang, dan pergerakan paus akan sangat memengaruhi peluang keberhasilan,” ucap Edy Setyawan, peneliti dari Elasmobranch Institute Indonesia.
Akibat kesulitan itu, hanya satu dari empat tag satelit yang berhasil terpasang. Tetapi, para periset menegaskan cara ini tidak terlalu invasif dibandingkan pendekatan konvensional.
Melibatkan Peneliti dari Indonesia dan Timor Leste
Ekspedisi ini difasilitasi Konservasi Indonesia dengan melibatkan peneliti dari berbagai pihak, ada Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, Conservation International Timor Leste, Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Maluku.
Lalu ada Elasmobranch Institute Indonesia, James Cook University, Thrive Conservation, Universidade Nacional Timor Lorosa'e, Universitas Muhammadiyah Kupang, dan Universitas Tribuana Kalabahi.
Dalam ekspedisi ini, Konservasi Indonesia tidak hanya ingin mendapat temuan baru, tapi sekaligus memperkuat kerja sama penelitian kelautan yang kelak memberi manfaat strategis bagi kawasan.
Sepakat dengan prinsip tersebut, Jafet Potenzo, Marine Science Specialist Conservation International Timor-Leste, menilai kolaborasi ilmiah seperti ini memperkuat hubungan dan pembelajaran di kawasan. Pengetahuan yang dibangun bersama dapat memperkuat kapasitas pengelolaan sumber daya laut di masing-masing negara.