Potret Krisis Air di Indonesia: 55% Daerah Sumber PDB Kekurangan Pasokan
Indonesia Environment Outlook (IEO) 2026 merekam kesulitan Pulau Jawa dalam memenuhi kebutuhan airnya. Pulau dengan populasi penduduk terpadat di Indonesia itu mengalami defisit air sekitar 118 miliar meter kubik setiap tahun.
Padahal, berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), potensi ketersediaan air di Indonesia mencapai 3,9 miliar meter kubik per tahun.
Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Dadang Jainal Mutaqin menjelaskan, jika ditarik rata-rata dengan total potensi air tersebut, kondisi Indonesia tergolong aman. Namun, kondisi ini tidak berlaku bagi sejumlah wilayah.
“Kalau kita lihat per region (wilayah), yang banyak kekurangan air ini ada di Pulau Jawa. Stress-nya paling tinggi itu di Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat sudah mulai juga,” kata Dadang, dalam Diseminasi Indonesia Environmental Outlook 2026 oleh Yayasan KEHATI, di Jakarta, Jumat (13/3).
Sementara di luar wilayah Jawa, masalah kekurangan air ini muncul di Makassar dan Medan. Sebagai informasi, water stress adalah kondisi saat permintaan air lebih tinggi daripada ketersediaan air bersih yang bisa digunakan.
Dadang menjelaskan, di wilayah luar Pulau Jawa, masalah utamanya adalah kualitas air. Sementara di Pulau Jawa, baik kualitas maupun kuantitas sama-sama bermasalah.
Ini kemudian menjadi tantangan, karena daerah-daerah yang kekurangan air merupakan sumber 55% PDB Indonesia pada 2045 mendatang. “Sehingga kalau tidak bisa menangani kondisi air, ini PDB kita hampir 55% bisa terganggu,” tutur Dadang.
Air menyentuh semua lini kehidupan. Sebagai gambaran, sekitar 80% air nasional digunakan untuk sektor pertanian dan kebutuhan irigasi, kemudian sekitar 7,5% dari total produksi listrik Indonesia diperoleh dari pembangkit listrik tenaga air.
Bappenas memproyeksikan adanya peningkatan kebutuhan air hingga 31% pada 2045, ditambah peningkatan empat kali lipat permintaan air dari industri.
Berkelindan dengan Masalah Hutan
Krisis air ini, tidak lepas dari persoalan yang dihadapi hutan-hutan Indonesia. IEO 2026 menyebut keterkaitan antara hutan, air, pangan, dan energi yang kini menghadapi persoalan serius.
Deforestasi memperparah krisis air. Selanjutnya, risis air melemahkan ketahanan pangan. Sementara ekspansi energi dan pangan berbasis lahan justru meningkatkan tekanan terhadap hutan dan ekosistem.
Menurut catatan The State Indonesia’s Forests 2024, luas kawasan hutan daratan di Indonesia mencapai 118,19 juta hektare. Namun, 55,96 juta hektare atau sekitar 47% di antaranya merupakan hutan produksi.
Hutan produksi konversi seluas 11,08 juta hektare; hutan lindung seluas 29,29 juta hektare, dan; hutan konversi seluas 21,84 juta hektare.
Laporan itu juga memperlihatkan adanya 12,29 juta hektare lahan kritis –lahan di luar maupun di dalam kawasan hutan yang telah menurun fungsinya– di Indonesia, di mana 7,09 juta hektare di antaranya terletak di kawasan hutan.