Kualitas Udara Batam Terbaik di Dunia Pagi Ini, Ungguli Canberra hingga Milan

ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/agr
Kapal Motor (KM) Kelud dari Belawan berlayar memasuki perairan Batam menuju Pelabuhan Bintang 99 di Batam, Kepulauan Riau, Rabu (11/3/2026). PT Pelayaran Nasional Indonesia cabang Batam menambah frekuensi pelayaran rute Batam–Belawan dari empat kali menjadi 10 kali keberangkatan selama Maret 2026 guna mengantisipasi lonjakan penumpang pada masa mudik Lebaran Idul Fitri.
27/3/2026, 07.46 WIB

Kota Batam tercatat memiliki kualitas udara paling sehat di dunia pagi ini, Jumat (27/3). Dari pantauan situs IQAir pukul 07.13 WIB, kualitas udara Batam tergolong baik dengan poin AQI 0.

Kualitas udara yang tergolong baik dinilai menjadi waktu yang tepat untuk beraktivitas di luar ruangan. "Ini adalah waktu yang ideal untuk melakukan aktivitas di luar ruangan dengan sedikit atau tanpa risiko yang ditimbulkan oleh udara yang dihirup," demikian pernyataan IQAir, dikutip pada Jumat (27/3).

Berikut daftar kota besar di dunia dengan kualitas udara terbaik pada Jumat (27/3) pagi:

  1. Batam, Indonesia, dengan poin AQI 0 atau dalam kategori baik
  2. Pristina, Kosovo, dengan poin AQI 0 atau dalam kategori baik
  3. Milan, Italia, dengan poin AQI 6 atau dalam kategori baik
  4. Roma, Italia, dengan poin AQI 9 atau dalam kategori baik
  5. Canberra, Australia, dengan poin AQI 11 atau dalam kategori baik

Di sisi lain, kualitas udara Kota Kinshasa di Republik Demokratik Kongo, tercatat paling buruk di dunia pagi ini. Dengan poin AQI 186, kualitas udara kota tersebut tergolong tidak sehat.

Setelah Kinshasa, disusul Kota Chiang Mai di Thailand dengan poin AQI 183 dan Kota Delhi di India dengan poin AQI 181. 

Pada kualitas udara yang tidak sehat, masyarakat umum terutama kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, orang hamil, atau penderita penyakit jantung dan paru rentan mengalami efek kesehatan.

Sementara di lingkup Indonesia, kota dengan kualitas udara terburuk mencapai kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif, tepatnya di Tangerang Selatan dan Pekanbaru. Berikut daftarmya:

  1. Tangerang Selatan, Banten, dengan poin AQI 132 atau dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif
  2. Pekanbaru, Riau, dengan poin AQI 104 atau dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif
  3. Badung, Bali, dengan poin AQI 92 atau dalam kategori sedang
  4. Kota Jambi, Jambi, dengan poin AQI 88 atau dalam kategori sedang
  5. Bandung, Jawa Barat, dengan poin AQI 86 atau dalam kategori sedang

Kualitas udara yang tergolong tidak sehat bagi kelompok sensitif, dapat memunculkan risiko iritasi mata, kulit, dan tenggorokan, serta masalah pernapasan, khususnya untuk anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru.

"Kelompok sensitif memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih besar dan harus sangat berhati-hati," demikian penjelasan dalam laman resmi IQAir, pada Jumat (27/3).

Sementara itu selain Kota Batam, kualitas udara paling sehat di Indonesia tercatat berada di Tangerang dengan poin AQI 58 dan di Jakarta dengan poin AQI 66. Namun, kualitas udara keduanya masih tergolong sedang. 

Kualitas udara 'sedang' sebenarnya masih relatif aman untuk kelompok masyarakat umum. Namun, kualitas udara di kota tersebut rentan bagi kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru ketika beraktivitas berat di luar ruangan. 

Indeks AQI merupakan konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks umumnya mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-15o.

Sedangkan kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.

Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.  Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi manusia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas