Angka Deforestasi Indonesia Melonjak Pada 2025, 71% Terjadi di Kawasan Hutan

ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/hp.
Analisis Auriga Nusantara menunjukkan kawasan konservasi yang mengalami deforestasi paling tinggi adalah Taman Nasional Kerinci Seblat seluas 6.362 hektare.
1/4/2026, 10.59 WIB

Angka deforestasi di Indonesia menunjukkan lonjakan hingga dua kali lipat pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Semua pulau besar mengalami perluasan deforestasi dan perluasan tertinggi terjadi di Papua.

Analisis Auriga Nusantara yang disampaikan dalam laporan ‘Status Deforestasi Indonesia 2025’ mencatat terjadinya 433.751 hektare deforestasi di seluruh Indonesia pada 2025, setelah sebelumnya tercatat 261.575 hektare deforestasi pada 2024. 

Berdasarkan total luasan deforestasi pada 2025, Kalimantan masih menempati posisi teratas dengan 158.283 hektare. Bukan hanya tahun ini, Kalimantan bahkan telah memuncaki daftar data deforestasi sejak 2013 silam. 

Sumatra menyusul di posisi kedua dengan 144.150 hektare; Papua 77.678 hektare; Sulawesi 39.685 hektare; Maluku 7.527 hektare; Bali dan Nusa Tenggara 4.209 hektare; serta Jawa 2.221 hektare. 

Akan tetapi jika dilihat berdasarkan tingkat perluasannya, Papua mengalami deforestasi paling signifikan selama satu tahun ke belakang. Angka deforestasi di Papua meningkat 60.337 hektare atau sekitar 348% dari angka deforestasi pada 2024. 

“Kita harus hati-hati dalam 2-3 tahun lagi, tadinya hitungan kami 5-10 tahun lagi tapi sepertinya akan lebih cepat, deforestasi tertinggi akan terjadi di Papua,” kata Direktur Auriga Nusantara Timer Manurung, dalam keterangan tertulis, pada Rabu (1/4).

Lebih dari Separuhnya Terjadi di Kawasan Hutan

Dari total 433.751 hektare lahan terdeforestasi di Indonesia, sebanyak 71% di antaranya terjadi di kawasan hutan, meliputi hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi konversi, hutan produksi terbatas, dan kawasan konservasi. 

Rinciannya, deforestasi seluas 80.213 hektare terjadi di hutan lindung; 96.354 hektare di hutan produksi; 25.406 hektare di hutan produksi konversi; 80.812 hektare di hutan produksi terbatas; serta 25.077 hektare di kawasan konservasi. 

Sebanyak 125.890 hektare deforestasi lainnya terjadi di area penggunaan lain atau APL. 

Kawasan konservasi yang mengalami deforestasi paling tinggi adalah Taman Nasional Kerinci Seblat seluas 6.362 hektare. Padahal, area ini menjadi rumah bagi ribuan spesies tumbuhan dan hewan yang sebagian termasuk langka dan endemik.

Beberapa yang ikonik adalah Rafflesia arnoldii, berbagai jenis anggrek liar, serta tumbuhan obat. Taman nasional ini juga dihuni ragam spesies fauna terancam punah seperti harimau Sumatra, badak Sumatra, dan gajah Sumatra. Termasuk di dalamnya burung endemik seperti burung kuau Sumatra. 

TN Kerinci Seblat mencakup wilayah Jambi, Sumatra Barat, Bengkulu, dan Sumatra Selatan dengan luas area 1,38 juta hektare. Area tersebut memiliki lanskap beragam, ada hutan dataran rendah, hutan pegunungan, hingga ekosistem rawa.

Deforestasi juga terjadi di kawasan konservasi lainnya, seperti di Suaka Margasatwa Pegunungan Jayawijaya (3.210 ha), TN Gunung Leuser (1.379 ha), Taman Buru Lingga Isaq (1.199 ha), dan Cagar Alam Enarotali (1.049 ha).

Sementara itu, deforestasi turut terjadi di area kunci keanekaragaman hayati, paling tinggi di kawasan Batang Toru (5.021 ha), salah satu area yang mengalami banjir dan longsor pada akhir tahun lalu. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas