Kualitas Udara Surabaya, Tangsel, Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat Hari Ini

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/foc.
Pekerja melintas dengan latar belakang gedung yang tersamar polusi di Jakarta Timur, Selasa (30/7/2024).
7/4/2026, 08.07 WIB

Kualitas udara di Surabaya terpantau paling tidak sehat di Indonesia pagi ini. Berdasarkan pantauan situs IQAir pukul 07.05 WIB, poin AQI Surabaya lebih dari 150 atau termasuk kualitas udara tidak sehat. Tangerang Selatan dan Jakarta pun berada di kategori serupa.

Pada kualitas udara yang tidak sehat, masyarakat umum terutama kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, orang hamil, atau penderita penyakit jantung dan paru rentan mengalami efek kesehatan.

“Ketika kualitas udara dikategorikan tidak sehat, masyarakat umum, terutama kelompok yang sensitif, mungkin mulai mengalami efek kesehatan,” demikian penjelasan IQAir pada Selasa (7/4).

IQAir menyarankan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dalam kondisi ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG juga beberapa kali mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker, khususnya jika berada di lokasi dengan tingkat pencemaran udara tinggi.

Berikut daftar lima kota di Indonesia dengan kualitas udara terburuk pagi ini:

  1. Surabaya, Jawa Timur, dengan poin AQI 184 atau dalam kategori tidak sehat
  2. Tangerang Selatan, Banten, dengan poin AQI 179 atau dalam kategori tidak sehat
  3. Jakarta, dengan poin AQI 153 atau dalam kategori tidak sehat
  4. Bandung, Jawa Barat, dengan poin AQI 102 atau dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif
  5. Tangerang, Banten, dengan poin AQI 94 atau dalam kategori sedang

Sementara itu, Kota Palangkaraya di Kalimantan Tengah memiliki kualitas udara paling sehat pagi ini dengan poin AQI 38. Dengan poin AQI tersebut, kualitas udara Palangkaraya tergolong baik. Kemudian disusul Kota Pekanbaru di Riau dengan poin AQI 51, namun masuk kategori sedang.

Kualitas udara yang tergolong baik dinilai menjadi waktu yang tepat untuk beraktivitas di luar ruangan. "Ini adalah waktu yang ideal untuk melakukan aktivitas di luar ruangan dengan sedikit atau tanpa risiko yang ditimbulkan oleh udara yang dihirup," demikian pernyataan IQAir.

Di lingkup global, kota besar dengan kualitas udara terbaik memiliki poin AQI 0, tepatnya di Oslo, Norwegia. Selain itu ada pula Stockholm di Swedia dengan poin AQI 4 dan Melbourne di Australia dengan poin AQI 9. Kualitas udara ketiganya tergolong baik.

Berbanding terbalik dengan keadaan tersebut, kualitas udara di Chiang Mai, Thailand, tergolong sangat tidak sehat dan menjadi yang terburuk di dunia pagi ini. Berikut daftarnya:

  1. Chiang Mai, Thailand, dengan poin AQI 208 atau dalam kategori sangat tidak sehat
  2. Hanoi, Vietnam, dengan poin AQI 172 atau dalam kategori tidak sehat
  3. Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan poin AQI 157 atau dalam kategori tidak sehat
  4. Riyadh, Arab Saudi, dengan poin AQI 155 atau dalam kategori tidak sehat
  5. Jakarta, Indonesia, dengan poin AQI 153 atau dalam kategori tidak sehat

Indeks AQI merupakan konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Angka AQI keseluruhan pada waktu tertentu ditentukan oleh polutan paling berisiko dengan angka AQI paling tinggi. Indeks AQI berkisar dari 0 sampai 500 dengan pembagian enam kategori. 

Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-15o.

Sedangkan kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.

Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.  Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi manusia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas