Serpihan Sampah Luar Angkasa Berisiko Rusak Lapisan Ozon di Atmosfer
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengonfirmasi objek terang yang melintasi langit Lampung dan Banten pada Sabtu (4/6), merupakan sampah antariksa dari sisa roket Cina CZ-3B yang masuk ke atmosfer bumi.
Dari data Space-Track dan hasil analisis orbit yang dilakukan BRIN, sisa roket itu meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di barat Sumatra. Pada Sabtu malam sekitar pukul 19.56 WIB, ketinggiannya turun hingga di bawah 120 km dan masuk ke lapisan atmosfer yang lebih padat.
Objek terlihat mencolok, sebab memasuki atmosfer dalam kecepatan tinggi dan mengalami gesekan dengan udara. Objek tersebut terbakar dan tampak terang dari permukaan bumi. Sisa roket itu pun tampak terpecah menjadi beberapa bagian.
Bekas roket atau satelit yang tidak aktif – sampah antariksa – akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer. Kemudian, ketinggiannya terus menurun hingga dapat masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.
Mengutip World Economic Forum, sampah antariksa juga bisa muncul dari ledakan di luar angkasa atau ketika negara-negara melakukan uji coba menghancurkan satelit miliknya dengan rudal.
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika dari Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, mengatakan sampah antariksa yang jatuh ke Bumi umumnya tidak membahayakan masyarakat. Risikonya muncul ketika objek dari luar angkasa tidak habis terbakar di atmosfer dan jatuh ke permukaan bumi.
Kepadatan di Orbit Rendah Bumi
Menurut pengamatan Astronom Jonathan McDowell dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, terdapat 14.300 satelit aktif yang mengorbit Bumi pada awal Januari 2026. Sementara, 20 tahun lalu jumlahnya hanya 871.
Menurut laporan The Salata Institute for Climate and Sustainability, jumlah peluncuran satelit meningkat pesat seiring perkembangan penyedia layanan internet. Fasilitas internet yang hampir dibutuhkan seluruh penduduk Bumi ini membutuhkan konstelasi satelit raksasa di low earth orbit atau orbit rendah Bumi yang jaraknya sekitar 120-2.000 km dari permukaan Bumi.
Namun, banyaknya peluncuran satelit yang kemudian berujung pada penghentian operasional, menciptakan ‘bangkai satelit’ sebagai polusi baru yang berpotensi mengganggu sistem iklim dan lapisan ozon.
Banyak satelit yang hanya beroperasi 5-10 tahun, karena dianggap murah dan teknologinya terus berkembang. Satelit-satelit ini kemudian diarahkan untuk masuk ke atmosfer hingga terbakar, agar tidak mengganggu ruang angkasa yang jaraknya ratusan mil dari permukaan bumi.
Tak hanya itu, padatnya area orbit juga menimbulkan risiko tabrakan antarsatelit hingga menciptakan puing-puing sampah luar angkasa yang juga terbakar saat mencapai atmosfer.
Namun, satelit yang terbakar justru melepas campuran partikel logam berat dan karbon yang kemudian turun lebih dekat ke Bumi. Terutama ke lapisan stratosfer, tempat lapisan ozon melindungi Bumi, pola cuaca terbentuk, serta area pesawat terbang.
Selain itu, berdasarkan pemodelan oleh para peneliti Harvard dan Rajan Chakrabarty dari Universitas Washington di St. Louis, salah satu logam umum dari konstruksi satelit adalah aluminium. Di mana oksida aluminium pada partikel-partikel tersebut dapat menyebabkan reaksi kimia perusak ozon.
Fisikawan Harvard School of Engineering and Applied Sciences, John Dykema, mengatakan bahwa proses tersebut dapat mengubah klorin yang ada menjadi reaktif dan mendorong penipisan ozon. Meski belum mencapai level memunculkan lubang ozon baru, hal ini dapat memperlambat pemulihan lapisan ozon.
Jika aluminium oksida terus menumpuk, masalah penipisan lapisan ozon dapat lebih serius.
“Ini bukan cara paling efisien untuk menciptakan lubang ozon, namun menyebabkan erosi ozon tambahan yang memperlambat pemulihan,” ujar Dykema, dikutip pada Selasa (7/4).
Sebagai informasi, lapisan ozon berperan untuk melindungi bumi dari radiasi ultraviolet-B (UV-B) dengan menyerap sekitar 90% sinar UV. Radiasi UV-B dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti kanker kulit, katarak, kerusakan genetik, serta mengurangi sistem kekebalan tubuh makhluk hidup.
Radiasi ini juga berdampak pada pertanian dan rantai makanan lainnya. Pasalnya, radiasi ini membuat perkembangan tumbuhan dan makhluk hidup lainnya seperti plankton di lautan ikut terganggu.