Seekor Elang Jawa Lahir di TNGHS, Namanya Garda Nusantara

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Seorang petugas berada di dalam kandang burung elang jawa (nisaetus bartelsi) di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Selasa (19/11/2019). Saat ini, Pusat Konservasi Elang Kamojang menampung 136 ekor burung elang dari 12 jenis, berdasarkan hasil sitaan dari perdagangan elang dan kepemilikan pribadi di berbagai kota di indonesia.
8/4/2026, 18.20 WIB

Seekor anak burung Elang Jawa baru saja menetas di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Satwa langka ini kemudian diberi nama ‘Garda Nusantara’ oleh Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki.

“Filosofinya adalah semoga Elang Jawa ini bisa menjadi penjaga atau pengawal alam Indonesia melalui angkasa,” kata Rohmat, dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (8/4).

Pemberian nama ini dilakukan Rohmat saat mengunjungi langsung Balai TNGHS di Jawa Barat, pada Selasa (7/4). Rohmat kemudian menuliskan nama tersebut pada sertifikat, sebagai simbol perlindungan negara terhadap spesies kunci tersebut.

Satwa yang identik dengan lambang negara Burung Garuda ini, merupakan predator puncak dalam rantai makanan. Keberadaannya menjadi indikator vital kesehatan ekosistem hutan di Pulau Jawa.

Tersisa 1.000 Ekor di Alam

Berdasarkan riset yang dilakukan Kementerian Kehutanan bersama beberapa lembaga swadaya masyarakat dan organisasi non-pemerintah, populasi Elang Jawa di seluruh Pulau Jawa mengalami peningkatan. Menurut Rohmat, faktor pendukungnya adalah pelestarian habitat di TNGHS yang memiliki pohon-pohon tinggi, area favorit Elang Jawa.

“Harapannya dengan kita meningkatkan perlindungan di kawasan TNGHS, Elang Jawa akan terus berkembang biak,” ucap Rohmat.

Jika menilik informasi dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, Elang Jawa yang berstatus hampir punah ini tersisa 511 pasang atau kurang lebih 1.000 Ekor di 74 hutan di Pulau Jawa. 

Dosen Pemerhati Satwa Liar dari Fakultas Biologi UGM Donan Satria Yudha mengatakan, salah satu penyebab menurunnya populasi Elang Jawa adalah hilangnya habitat. 

Habitat satwa ini sangat spesifik sehingga tidak semua area pegunungan atau perbukitan di Pulau Jawa bisa dihuni Elang Jawa. Area tersebut setidaknya memenuhi unsur hutan hujan tropis dengan heterogenitas tinggi dan memiliki pohon tinggi. Selain itu, tentu harus memiliki potensi mangsa seperti tikus, tupai, bajing, ayam hutan, dan sebagainya.

Donan tak menampik penurunan populasi juga disebabkan penyerobotan habitat oleh manusia. Jika predator puncak ini mengalami kepunahan, maka efeknya akan sangat terasa bagi kesehatan ekosistem di habitatnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas