Polusi Udara Tangsel dan Jakarta Terburuk Pagi Ini di RI, Kategori Tidak Sehat

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/rwa.
Wisatawan berfoto di kawasan bundaran HI dengan latar belakang langit biru di Jakarta, Selasa (12/9/2023). Setelah sempat mencapai angka 172 atau masuk dalam kategori tidak sehat berdasarkan data IQAir, kualitas udara Jakarta hari ini pada pukul 12.31 membaik di angka 105 atau tidak sehat untuk kelompok yang sensitif.
10/7/2026, 07.55 WIB

Polusi udara di Tangerang Selatan, Jakarta, dan sejumlah wilayah lainnya menempati posisi terburuk nasional pada Jumat (10/7) pagi. Berdasarkan pantauan situs IQAir pukul 07.13 WIB, poin AQI wilayah-wilayah itu berada di atas 150 dan termasuk dalam kategori tidak sehat.

Pada kualitas udara yang tidak sehat, masyarakat umum terutama kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, orang hamil, atau penderita penyakit jantung dan paru rentan mengalami efek kesehatan.

"Ketika kualitas udara dikategorikan tidak sehat, masyarakat umum, terutama kelompok yang sensitif, mungkin mulai mengalami efek kesehatan,” demikian penjelasan IQAir, dikutip pada Jumat (10/7).

Dalam kondisi ini, IQAir menyarankan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG juga beberapa kali mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker, khususnya jika berada di lokasi dengan tingkat pencemaran udara tinggi.

Berikut daftar lima wilayah di Indonesia dengan kualitas udara terburuk pagi ini:

  1. Tangerang Selatan, Banten, dengan poin AQI 169 atau dalam kategori tidak sehat.
  2. Jakarta, dengan poin AQI 152 atau dalam kategori tidak sehat.
  3. Surabaya, Jawa Timur, dengan poin AQI 152 atau dalam kategori tidak sehat.
  4. Tangerang, Banten, dengan poin AQI 151 atau dalam kategori tidak sehat.
  5. Medan, Sumatera Utara, dengan poin AQI 117 atau dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Sementara itu, Bandung di Jawa Barat memiliki kualitas udara paling sehat pagi ini dengan poin AQI 70. Kabupaten Badung di Bali menyusul di bawahnya dengan poin AQI 75, namun keduanya tergolong dalam kategori sedang.

Di lingkup global, kota besar dengan kualitas udara paling sehat mencapai poin AQI 13, tepatnya di Canberra, Australia. Berikutnya ada Sydney di Australia dengan poin AQI 14 dan Auckland di Selandia Baru dengan poin AQI 16. Kualitas udara kota-kota tersebut masuk kategori baik.

Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, beberapa kota utama dunia berikut ini memiliki kualitas udara terburuk secara global, termasuk Jakarta dan Medan:

  1. Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dengan poin AQI 184 atau dalam kategori tidak sehat.
  2. Kampala,  Uganda, dengan poin AQI 157 atau dalam kategori tidak sehat.
  3. Jakarta, Indonesia, dengan poin AQI 152 atau dalam kategori tidak sehat.
  4. Santiago, Chile, dengan poin AQI 142 atau dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
  5. Medan, Indonesia, dengan poin AQI 117 atau dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Indeks AQI adalah konsentrasi polutan udara yang menunjukkan kategori kualitas udara. Rumus indeks mempertimbangkan enam polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah.

Angka AQI keseluruhan pada waktu tertentu ditentukan oleh polutan paling berisiko dengan angka AQI paling tinggi. Indeks AQI berkisar dari 0 sampai 500 dengan pembagian enam kategori.

Kategori baik memiliki rentang skor AQI 0-50, kategori sedang memiliki rentang skor 51-100, dan kategori tidak sehat untuk kelompok sensitif berada pada rentang skor 101-150.

Sedangkan kategori tidak sehat dengan rentang skor AQI di angka 151-200, kategori sangat tidak sehat 200-299, dan kategori berbahaya pada rentang 300-500.

Kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara kategori berbahaya dapat merugikan kesehatan yang serius.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas