Mangrove Indonesia Menyusut Ratusan Ribu Hektare dalam 4 Dekade
Hasil analisis Global Mangrove Watch (GMW) mengungkapkan, Indonesia lebih banyak kehilangan kawasan mangrove dibandingkan pertambahan luasannya, dalam rentang 1985-2025. Penyusutan kawasan mangrove Indonesia bahkan menjadi yang terbesar di dunia.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertambahan luas kawasan mangrove di Indonesia telah melampaui luas kehilangan tahunannya. Namun hingga 2025, Indonesia mencatat penyusutan bersih (net loss) kawasan mangrove sekitar 2.043 km&³2; atau 204,3 ribu hektare dibandingkan kondisi pada 1985.
Artinya, penambahan luas kawasan mangrove belakangan belum mampu menutup akumulasi kehilangan yang terjadi, terutama pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Selain di Indonesia, penyusutan kawasan mangrove sejak 1985 juga tercatat mencapai 145,7 ribu hektare di Myanmar; seluas 38,9 ribu hektare di Malaysia; seluas 31,2 ribu hektare di Nigeria; dan seluas 27,2 ribu hektare di Kuba.
Padahal, Wetlands International menyebut kawasan mangrove berperan mendukung ketahanan pangan dan mata pencaharian, membantu melindungi masyarakat pesisir dan perkotaan dari gelombang badai dan kenaikan permukaan air laut, serta menyerap karbon empat kali lebih tinggi dari kemampuan hutan darat. Mangrove juga habitat bagi aneka ragam hayati.
“Melindungi kawasan mangrove yang tersisa sangat penting bagi manusia, alam, dan iklim,” demikian dikutip dari laman Wetlands International, pada Senin (27/7).
Menurut data GMW per 2025, luas kawasan mangrove global mencapai 14,7 juta hektare. Luas kawasan mangrove global telah mengalami peningkatan bersih hingga 47,7 ribu hektare dibandingkan kondisi pada 1985. Peningkatan terbesar di antaranya terjadi di Australia, India, Filipina, Pakistan, dan Senegal.
Adapun di Indonesia luasannya mencapai 3,14 juta hektare, setelah mengalami penambahan luasan 57,5 ribu hektare dan kehilangan luasan kawasan 28 ribu hektare.
Angka tersebut sedikit berbeda dari Peta Mangrove Nasional Nasional 2025 yang mencatat luasan kawasan mangrove hingga 3,45 juta hektare.
Peningkatan luas kawasan mangrove bisa dipicu oleh pertumbuhan alami, ditambah upaya penanaman di wilayah yang sebelumnya belum ada mangrove, plus restorasi. Meskipun tak sedikit juga proyek penanaman mangrove skala besar yang justru gagal.
Namun, Wetlands International juga menyoroti ironi bahwa pertumbuhan mangrove di area sungai dan delta, kemungkinan besar dipicu oleh kerusakan di hulu, seperti pertambangan dan deforestasi. Sebab, aktivitas-aktivitas tersebut dapat mengubah aliran air dan sedimen sungai hingga akhirnya mengendap di muara dan membentuk kawasan mangrove baru.
Penanaman Satu Juta Bibit Mangrove di Indonesia
Dalam perayaan Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada 26 Juli, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama masyarakat dan kementerian/lembaga lainnya melakukan aksi penanaman serentak lebih dari satu juta bibit mangrove di 162 titik di 37 provinsi. Area yang dicakup kurang lebih mencapai 364,11 hektare.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengatakan, mangrove memiliki peran strategis yang tidak bisa digantikan infrastruktur buatan manusia.
“Mangrove adalah benteng kehidupan yang melindungi daratan, menjaga sumber kehidupan masyarakat pesisir, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati,” kata Jumhur, dikutip dari keterangan resmi.
KLH di antaranya telah menetapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional 2026-2055 sebagai pedoman pengelolaan jangka panjang. Di tingkat tapak, program Desa Mandiri Peduli Mangrove didorong untuk mengubah kebiasaan masyarakat dari eksploitasi menjadi pengelolaan lestari.
“Seperti ekowisata dan produk berbasis mangrove yang menciptakan lapangan kerja hijau,” ujar Jumhur.