Pemerintah Siagakan 240 Bendungan Hadapi Ancaman Super El Nino

ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/hm
Suasana di sekitar Waduk Wonorejo, Tulungagung, Jawa Timur, Senin (29/6/2026).
29/7/2026, 14.33 WIB

Pemerintah telah menyiapkan 240 bendungan beroperasi di berbagai wilayah Indonesia untuk menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino Godzilla atau Super El Nino yang diperkirakan datang lebih cepat dan berpotensi memicu cuaca kekeringan ekstrem. Ratusan bendungan ini juga diharapkan dapat menjaga ketahanan pangan nasional nantinya.

Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Kurnia Ramadhana mengatakan bendungan menjadi infrastuktur penting dalam menjamin ketersediaan air baku bagi sektor pertanian.

Keberadaan bendungan juga mendukung upaya mengurangi ketergantungan lahan pertanian terhadap curah hujan sehingga produktivitas tetap terjaga saat musim kemarau maupun ketika El Nino melanda.

“Saat ini ratusan bendungan yang ada turut menjadi salah satu infrastruktur yang disiagakan pemerintah dalam menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau yang disebabkan fenomena El Nino,” kata Kurnia dalam konferensi pers di Gedung Bakom, Jakarta Pusat, pada Rabu (29/7).

Selain 240 bendungan yang telah beroperasi saat ini, pemerintah juga terus melanjutkan pembangunan 15 bendungan baru di berbagai daerah dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp 32,8 triliun sebagai bagian dari proyek strategis nasional (PSN) yang ditargetkan selesai secara bertahap hingga 2029.

Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum, sebanyak 240 bendungan tersebut memiliki total kapasitas tampungan air mencapai 9,74 miliar meter kubik. Pemerintah juga memperkuat ketahanan air dengan penyediaan 601 situ dan danau dengan volume tampungan 135,59 miliar meter kubik, 1.034 tampungan air baku berkapasitas 435,67 juta meter kubik, serta 10.789 sumur bor dengan kapasitas 114,8 ribu meter kubik per detik.

Sejumlah Bendungan Ditargetkan Rampung 2026

Beberapa bendungan yang dijadwalkan rampung pada 2026 meliputi Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo dengan kapasitas tampung 93,75 juta meter kubik yang akan mengairi 757 hektare lahan pertanian, serta Bendungan Jragung di Semarang, Jawa Tengah, berkapasitas 90 juta meter kubik yang akan melayani irigasi seluas 6.564 hektare.

Sementara itu, pemerintah menargetkan Bendungan Budong-budong di Sulawesi Barat, Bendungan Mbai di Nusa Tenggara Timur, dan Bendungan Way Apu di Maluku selesai pada 2027.

Adapun Bendungan Cibeet, Cijurey, dan Jenelata ditargetkan beroperasi pada 2028. Bendungan Bagong, Bener, Cabean, Karangnongko, Manikin, dan Riam Kiwa dijadwalkan rampung pada 2029.

Sejumlah bendungan tersebut memiliki kapasitas tampung yang besar. Bendungan Jenelata di Gowa, Sulawesi Selatan, misalnya, diproyeksikan mampu menampung 223,6 juta meter kubik air.

Bendungan Tiga Dihaji di Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatra Selatan, memiliki kapasitas tampung 139,77 juta meter kubik, sedangkan Bendungan Cibeet di Bogor, Jawa Barat, mampu menampung 97,53 juta meter kubik air.

“Ketersediaan air baku menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan produksi pertanian di Indonesia. Tanpa dukungan bendungan dan irigasi yang memadai, banyak wilayah pertanian masih mengandalkan pola tanam tadah hujan yang rentan terhadap perubahan musim termasuk ancaman kekeringan saat El Nino,” ujar Kurnia.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menggelar rapat terbatas di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (28/7). Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan jalannya rapat berfokus pada dua isu utama, yakni menjamin ketersediaan air selama musim kemarau serta memperkuat mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

Pemerintah menyiapkan langkah pengelolaan sumber daya air agar pasokan air bersih bagi masyarakat dan kebutuhan irigasi pertanian tetap terjaga. Pemerintah juga berencana melakukan operasi modifikasi cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna menjaga debit air waduk dan danau terisi selama musim kemarau.

AHY juga menyampaikan upaya pencegahan karhutla dengan menjaga lahan gambut tetap basah dan mengendalikan potensi munculnya titik api agar. “Tanah lahan gambut itu juga harus tetap dalam kondisi yang basah. Ini untuk memitigasi potensi kebakaran hutan,” kata AHY.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu