Riset ICCT: Emisi Transportasi Darat di Indonesia Renggut 1 Nyawa Tiap 12 Menit

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Petugas mengukur kualitas emisi gas buang kendaraan roda empat di SPBU Daan Mogot, Jakarta, Minggu (24/5/2026).
5/8/2026, 15.00 WIB

Emisi transportasi darat di Indonesia tercatat menyebabkan satu kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus asma baru pada anak setiap 26 menit. Emisi terbesar berasal dari kendaraan berat, meskipun jumlahnya tergolong sedikit di jalanan. 

Hasil riset The International Council on Clean Transportation (ICCT) bertajuk ‘Health benefits of zero-emission transport through 2050’ menunjukkan, total kematian dini akibat emisi transportasi darat di Indonesia mencapai 44.700 orang pada 2024. Angka ini setara dengan satu nyawa terenggut setiap 12 menit.

Sementara itu, emisi transportasi darat juga menyebabkan 19.800 kasus asma baru pada anak pada 2024 atau setara satu kasus baru setiap 26 menit.

“Pertumbuhan populasi, populasi yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan meningkat terhadap kesehatan akibat transportasi darat,” kata Josh Miller, Direktur Senior ICCT sekaligus penulis studi, dikutip dari keterangan resmi pada Rabu (5/8). 

Dampak kesehatan itu dipicu oleh paparan partikel udara yang sangat kecil (PM2,5), ozon (O3), dan nitrogen dioksida (NOx). Menurut riset tersebut, transportasi darat secara global telah menyumbang 2,4µg/m&³3; paparan PM2,5 atau hampir setengah dari ambang batas paparan PM2,5 menurut Organisasi Kesehatan Dunia yaitu 5µg/m&³3;.

Ketiga polutan tersebut dapat menimbulkan penyakit dan gangguan pernapasan jika masuk ke dalam tubuh manusia. 

Kendaraan Berat sebagai Penyebab Polusi Terbesar

Riset tersebut juga menunjukkan bahwa kendaraan berat menjadi sumber emisi paling besar. Meskipun jumlahnya hanya sekitar 2% dari total armada transportasi darat di Indonesia, kendaraan berat menyumbang lebih dari setengah total emisi NOx dan PM2,5. Sementara kendaraan yang lebih ringan mendominasi emisi karbon monoksida (CO) dan senyawa organik yang mudah menguap (VOC). 

Menurut Peneliti ICCT sekaligus penulis studi, Lingzhi Jin, perlu kebijakan yang tepat untuk mendorong adopsi kendaraan nol emisi di kedua kategori tersebut. 

“Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050, kasus asma pada anak dapat dikurangi sebanyak 150 ribu dan kematian dini dapat dikurangi sebanyak 800 ribu di Indonesia. Serta lebih dari 8 juta secara global,” ucap dia. 

Elektrifikasi kendaraan secara ambisius yang dimaksud adalah kendaraan nol emisi mencakup 100% dari penjualan kendaraan pada 2045. Skenario ambisius ini dinilai mampu untuk membuat negara di semua tingkat pendapatan mengalami penurunan signifikan beban kesehatan hingga 2050. 

Jika menurut pada kebijakan negara-negara saat ini, negara berpenghasilan tinggi diproyeksikan mengalami penurunan 48% kematian dini akibat emisi transportasi darat pada 2050. 

Sementara, negara berpenghasilan menengah ke atas masih mengalami peningkatan kematian dini lebih dari 50%. Adapun negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah berpotensi mengalami peningkatan lebih dari 200%. 

Akademisi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Budi Haryanto mengatakan, polusi udara masih menjadi faktor risiko penting terhadap peningkatan beban penyakit, terutama pada kelompok sensitif seperti anak-anak. Sebab itu, perlu kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kualitas udara yang lebih baik.

“Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara,” ujar dia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas