Semarang Pakai AI Pantau Tumpukan Sampah, Sasar 500 TPS hingga 2027

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.
Alat berat meratakan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Mijen, Semarang, Jawa Tengah, Senin (11/8/2025).
31/8/2026, 17.31 WIB

Pemerintah Kota Semarang menggunakan teknologi teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk memantau kebersihan tempat penampungan sementara (TPS) sampah secara real time. Teknologi yang diberi nma Artificial Intelligence Solusi Sampah (AISSA) ini ditujukan untuk mempercepat pengangkutan sampah dari TPS.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan AISSA akan terintegrasi dengan jaringan CCTV yang beroperasi 24 jam di Kota Semarang. Ketika CCTV mendeteksi penumpukan sampah di TPS, AISSA akan mengirimkan notifikasi kepada petugas pengelola di lapangan hingga pemerintah daerah dari tingkat kecamatan dan kota.

“Pertama kepada camat. Kalau 30 menit tidak ada respons, akan dikirim notifikasi kepada kabid, selanjutnya kepada kepala dinas. Kira-kira dua sampai tiga jam tidak ada respons, mungkin (sampai ke) saya,” kata Agustina dalam sambutannya di Road to Katadata SAFE: Semarang Resilience Forum 2026 di Semarang, Senin (31/8).

Notifikasi tersebut memuat informasi seperti lokasi TPS, level peringatan, jumlah kontainer, jadwal pengangkutan, foto bukti deteksi, serta tautan tindak lanjut. Petugas dapat menggunakan tautan tersebut untuk melaporkan penanganan sampah.

Dengan sistem ini, pemerintah berharap penumpukan sampah di TPS dapat segera ditangani dan sampah langsung diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA).

Berdasarkan laman resmi AISSA, saat ini terdapat 35 TPS yang terpantau. Pemerintah Kota Semarang menargetkan pemasangan AISSA di sekitar 500 TPS pada 2027.

“Mudah-mudahan Kota Semarang berhasil menangani krisis sampah,” ujar Agustina.

Program Pengelolaam Sampah Semarang

Agustina menjelaskan, Semarang menghasilkan sekitar 1.200 ton sampah per hari. Untuk mengatasi persoalan sampah, pemerintah kota bekerja sama dengan Kabupaten Kendal membangun fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) dengan dukungan pemerintah pusat.

Selain itu, Semarang memiliki sejumlah tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS3R) yang dikelola masyarakat. “Ada ekonomi sirkular di sana,” ujar Agustina.

Pemerintah kota membuka peluang kerja sama dengan akademisi dan institusi pendidikan untuk memperluas program ini. Universitas Diponegoro disebut berhasil menciptakan kawasan nol sampah di lingkungan kampus.

Dia berharap model tersebut dapat diterapkan di masyarakat, khususnya di Kecamatan Tembalang. “Di Kecamatan Tembalang ini menjadi miniatur bagi Pemerintah Kota Semarang. Kalau ini berhasil, berarti nanti bisa diimplementasikan di tempat lain,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas