Kebakaran TPA Putri Cempo: 2 Dekade Kelebihan Kapasitas, Bolak-balik Dilalap Api

ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/nym.
Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) berusaha memadamkan api yang membakar tumpukan sampah di TPA Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah, Rabu (2/9/2026).
3/9/2026, 12.51 WIB

Tempat pemrosesan akhir (TPA) Putri Cempo Solo dilanda kebakaran sejak Rabu (2/9) malam. Hamparan gunung sampah belasan hektare berubah menjadi lautan api. 

Kebakaran bermula di Blok B dan meluas ke sisi utara yang berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar. Akibatnya, satu RT di Kelurahan Mojosongo dievakuasi untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Hingga kini, belum diketahui pasti penyebab kebakaran.

Namun, kebakaran di TPA Putri Cempo bukan kali pertama terjadi. Lurah Mojosongo Katarina Kartika Panca Chris Daryani mengatakan kebakaran di TPA tersebut hampir terjadi setiap tahun, terutama saat musim kemarau.

“Memang ini kayak tahunan gitu ya, tapi dulu nggak sempat kebakaran besar,” kata Katarina, dikutip dari Antara, Kamis (3/9).

TPA Putri Cempo tercatat pernah mengalami kebakaran besar pada 2023 dan 2019. Kedua kejadian tersebut berlangsung pada tahun kemarau yang lebih kering akibat El Nino seperti tahun ini.

Kondisi kemarau dan suhu yang tinggi dapat meningkatkan risiko kebakaran di tempat pembuangan sampah. Tumpukan sampah organik yang membusuk menghasilkan gas metana yang dapat terakumulasi di dalam timbunan dan rentan terbakar oleh pemicu kecil.

20 Tahun Kelebihan Kapasitas hingga Turun Kelas Jadi Open Dumping

TPA Putri Cempo Solo didirikan pada 1985 dan mulai beroperasi pada 1987. Memiliki luas 17 hektare, TPA ini sudah dinyatakan overload alias kelebihan kapasitas sejak 2007 atau hampir dua puluh tahun silam. Namun, sampah terus masuk.  

Pengelolaan sampah yang semula menggunakan sistem sanitary landfill dimana sampah secara gradual ditutup untuk menekan risiko pencemaran lingkungan dan kebakaran, berubah menjadi sistem terbuka atau open dumping. Pada 2023, gunungan sampah di TPA Putri Cempo Solo telah mencapai ketinggian hingga 28 meter.

Berangkat dari kondisi tersebut, TPA Putri Cempo Solo ditunjuk sebagai satu dari 12 kota percontohan untuk proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). 

PLTSa Putri Cempo Solo resmi dibangun pada Oktober 2019, dirancang untuk bisa mengolah 450 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 10 megawatt. Namun, hingga saat ini, operasionalnya masih belum optimal.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas