AHY Bicara Ketahanan Air Usai Kunjungi Swiss, Bakal Urus Sungai Tercemar RI?

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S./wsj.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan pidato pada penutupan Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
8/10/2026, 10.48 WIB

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) membawa pulang sejumlah pelajaran soal ketahanan air, usai kunjungannya ke Swiss pada September lalu. Pelajaran itu di antaranya soal restorasi dan perlindungan sungai hingga pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan sistem penyimpanan energi.

“Restorasi Sungai Aare adalah contoh yang sangat kuat. Pelajarannya jelas, bahwa melindungi sistem air bukan sekadar pekerjaan teknis,” kata AHY dalam pidatonya di Indonesia International Sustainability Forum 2026, di Jakarta, Rabu (7/10).

Pada September lalu, AHY mengunjungi Swiss dan meninjau fasilitas pengolahan air limbah ARA Region Bern yang berada di tepi Sungai Aare. Fasilitas ini mengolah sekitar 100 juta liter air limbah per hari dari 12 komune sebelum air yang telah dimurnikan dikembalikan ke sungai. Lumpur hasil pengolahan juga dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas dan energi.

AHY juga mengunjungi PLTA dengan sistem penyimpanan energi pumped storage di Veytaux, Kanton Vaud. Sistem ini memompa air kembali ke reservoir saat kebutuhan listrik rendah, lalu mengalirkannya melalui turbin saat permintaan listrik meningkat. Pembangkit tersebut telah beroperasi sejak 1970.

AHY mengatakan sungai-sungai di Indonesia banyak tercemar limbah rumah tangga hingga industri, serta menghadapi risiko sedimentasi dan penyempitan kapasitas yang dapat meningkatkan risiko banjir.

“Saya harus katakan, waktu terbaik untuk membersihkan sungai kita adalah 50 tahun yang lalu. Tapi waktu terbaik setelahnya adalah hari ini,” ucapnya.

Merujuk pada pengalaman Swiss, dia mengatakan restorasi sungai merupakan investasi jangka panjang. Perbaikan tata kelola air, kata dia, membutuhkan penguasaan teknologi, kelembagaan yang kuat, kedisiplinan masyarakat, dan penegakan aturan yang konsisten.

AHY menekankan pentingnya menjaga ketahanan air. Sebab, ketahanan air merupakan bagian dari menjaga ketahanan ekonomi, pangan, iklim, energi, serta kesehatan masyarakat. Karena itu, investasi di sektor air seperti pembangunan waduk, bendungan, pipa, atau fasilitas pengolahan air dinilai strategis.

Mengutip keterangan resmi Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, selain soal pengelolaan air, pemerintah Indonesia juga menjalin kerja sama pengembangan transportasi dan infrastruktur perkotaan yang rendah karbon dengan pemerintah Swiss.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas